China Uji Coba Rudal Balistik di Pasifik, Australia dan Fiji Perkuat Aliansi
Baca dalam 60 detik
- Beijing meluncurkan rudal balistik jarak jauh ke Samudra Pasifik hanya beberapa jam setelah Australia dan Fiji menandatangani pakta pertahanan baru.
- Uji coba ini memicu kecaman dari Jepang, Selandia Baru, dan Australia, yang menilai tindakan China mengancam stabilitas kawasan.
- Australia menggelontorkan lebih dari 1 miliar dolar AS untuk Fiji dalam satu dekade, memperkuat posisinya di tengah persaingan dengan China di Pasifik.

China meluncurkan rudal balistik jarak jauh dengan hulu ledak palsu ke Samudra Pasifik pada Senin (23/9), hanya beberapa jam setelah Australia dan Fiji meresmikan pakta pertahanan baru. Langkah Beijing ini langsung memicu reaksi keras dari sejumlah negara tetangga, termasuk Jepang, Selandia Baru, dan Australia, yang menilai uji coba tersebut mengancam stabilitas kawasan.
Pemerintah Australia, melalui Menteri Pertahanan Richard Marles, menyatakan bahwa Beijing telah memberi tahu Canberra beberapa jam sebelum peluncuran. Meski demikian, Marles menegaskan bahwa Australia sangat prihatin terhadap setiap tindakan yang dapat merusak perdamaian dan keamanan di Pasifik. โKami melihat uji coba ini dalam konteks pembangunan militer cepat yang dilakukan China,โ ujar Menteri Luar Negeri Australia Penny Wong di Suva, ibu kota Fiji.
China, melalui juru bicara Kementerian Luar Negeri Mao Ning, menyebut uji coba tersebut sebagai bagian dari latihan militer rutin tahunan dan tidak ditujukan kepada negara atau target tertentu. โKegiatan peluncuran dilakukan dengan cara yang aman, teratur, dan profesional. Kami berharap negara-negara tertentu tidak melakukan interpretasi berlebihan,โ kata Mao Ning.
Uji coba rudal ini berlangsung di tengah upaya Australia memperkuat hubungan pertahanan dengan negara-negara Pasifik untuk menandingi pengaruh China yang semakin besar. Pakta yang ditandatangani dengan Fiji, bernama Ocean of Peace Alliance, mencakup kerja sama keamanan, penanganan kejahatan transnasional, serta bantuan kesehatan dan infrastruktur. Perdana Menteri Australia Anthony Albanese menyebut perjanjian ini sebagai salah satu upaya paling signifikan yang pernah dilakukan Canberra dengan negara mana pun.
Perdana Menteri Fiji Sitiveni Rabuka menyambut baik pakta tersebut sebagai momen penting dalam hubungan bilateral kedua negara. Ia juga optimistis China tidak akan keberatan dengan aliansi ini. โIni tidak mengancam hubungan Fiji dengan China maupun hubungan Australia dengan China,โ ujar Rabuka seperti dikutip ABC Australia.
Bagi Indonesia, eskalasi persaingan Australia-China di Pasifik Selatan patut dicermati. Sebagai negara kepulauan terbesar di kawasan, Indonesia berkepentingan menjaga stabilitas regional dan menghindari polarisasi yang dapat mengganggu arsitektur keamanan di Indo-Pasifik. Langkah Australia yang gencar menjalin pakta pertahanan dengan negara-negara Pasifik, termasuk Vanuatu dan Kepulauan Solomon, menunjukkan pergeseran strategi Canberra yang lebih agresif dalam menghadapi ekspansi militer China.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah bagaimana China akan merespons langkah Australia yang semakin dekat dengan negara-negara Pasifik. Apakah Beijing akan meningkatkan tekanan diplomatik atau justru meluncurkan lebih banyak uji coba militer? Yang jelas, kawasan Pasifik kini menjadi panggung utama persaingan dua kekuatan besar, dan negara-negara kecil di dalamnya harus pintar-pintar menjaga keseimbangan.



