Hayabusa2 Terbang Mendekati Asteroid Torifune: Uji Coba Pertahanan Planet
Baca dalam 60 detik
- Prob Hayabusa2 milik Jepang berhasil melakukan flyby bersejarah pada asteroid Torifune dengan jarak hanya 800 meter dari pusat batuan luar angkasa tersebut.
- Misi ini tidak hanya menguji navigasi presisi tinggi, tetapi juga menjadi langkah awal pengembangan teknologi pertahanan planet untuk membelokkan asteroid berbahaya.
- Keberhasilan ini membuka peluang bagi kolaborasi internasional, termasuk potensi keterlibatan Indonesia dalam jaringan pemantau objek dekat Bumi.

Prob Hayabusa2 milik Badan Eksplorasi Antariksa Jepang (JAXA) sukses melakukan terbang lintas jarak dekat dengan asteroid Torifune pada Minggu (6/7). Manuver yang membutuhkan navigasi sangat akurat ini tidak hanya menjadi pencapaian teknis, tetapi juga uji coba penting bagi teknologi pertahanan planetโupaya untuk mengurangi risiko tabrakan asteroid dengan Bumi.
Menurut JAXA, sinyal dari Hayabusa2 diterima setelah prob melewati titik terdekat dengan Torifune, menandakan bahwa seluruh sistem berfungsi normal. Prob diperkirakan melintas pada jarak sekitar 800 meter dari pusat asteroid, jauh lebih dekat dibandingkan kebanyakan misi flyby sebelumnya. Torifune sendiri merupakan asteroid memanjang dengan perkiraan diameter 450 meter, memiliki periode orbit 383 hari mengelilingi Matahari, dan saat ini berjarak sekitar 100 juta kilometer dari Bumi.
Kepala tim operasi, Yuya Mimasu, dalam konferensi pers sebelum misi menggambarkan tingkat kesulitan flyby ini "sesulit menembak koin 1 yen di Hokkaido dari Okinawa." Hayabusa2 melintas dengan kecepatan relatif sekitar 5,2 km per detik. Mimasu mengaku gugup selama misi berlangsung, namun lega setelah semuanya berjalan lancar. JAXA berencana merilis data observasi dari berbagai instrumen prob pada Senin (7/7).
Misi ini memiliki implikasi besar bagi pertahanan planet. Data yang dikumpulkan akan digunakan untuk menguji kemampuan membimbing prob menabrak objek dekat Bumi yang berpotensi berbahaya, seperti asteroid atau komet, guna mengubah lintasannya. Konsep ini mirip dengan misi DART milik NASA yang berhasil menabrak asteroid Dimorphos pada 2022. Namun, Hayabusa2 menawarkan pendekatan berbeda dengan kemampuan observasi dan manuver presisi tinggi.
Bagi Indonesia, perkembangan ini relevan mengingat posisi geografis Nusantara yang rawan terhadap objek luar angkasa. Meski belum memiliki program antariksa sebesar Jepang, Indonesia adalah anggota International Asteroid Warning Network (IAWN) dan dapat memanfaatkan data dari misi semacam ini untuk memperkuat sistem peringatan dini. Kolaborasi dengan JAXA dalam pelatihan astronom atau akses data observasi bisa menjadi langkah strategis.
Hayabusa2, yang diluncurkan pada 2014, telah menempuh perjalanan luar biasa. Setelah mengunjungi asteroid Ryugu dan mengirimkan sampel 5,4 gram ke Bumi pada 2020, prob ini memulai misi perpanjangan. Target berikutnya adalah asteroid 1998 KY26 yang dijadwalkan dicapai pada Juli 2031. Keberhasilan flyby Torifune membuktikan bahwa Hayabusa2 masih memiliki kemampuan operasional yang prima meski telah beroperasi lebih dari satu dekade.
Pertanyaan besarnya kini: akankah teknologi yang diuji dalam misi ini cukup andal untuk membelokkan asteroid besar yang mengancam Bumi? Jawabannya mungkin baru akan diketahui setelah data dianalisis dan diintegrasikan ke dalam simulasi dampak. Namun, satu hal pastiโJepang telah menunjukkan bahwa pertahanan planet bukan lagi sekadar fiksi ilmiah.



