Samsung Raup Laba Melonjak 19 Kali Lipat Berkat Chip AI, Pasar Semikonduktor Makin Panas
Baca dalam 60 detik
- Samsung Electronics mencatat laba operasional kuartal II-2024 melonjak 1.800% menjadi 89,4 triliun won, didorong permintaan chip memori untuk kecerdasan buatan.
- Kenaikan ini menjadi rekor kuartalan ketiga berturut-turut, mendekati capaian Nvidia, namun harga saham Samsung justru turun 7% karena ekspektasi investor lebih tinggi.
- Korea Selatan menggelontorkan investasi minimal $880 miliar untuk membangun pabrik chip, sementara Indonesia berpotensi terdampak kelangkaan pasokan chip untuk elektronik konsumen.

Raksasa teknologi asal Korea Selatan, Samsung Electronics, mengumumkan perkiraan laba operasional kuartal kedua 2024 yang melonjak hingga 1.800 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Lonjakan ini dipicu oleh permintaan global yang tak kunjung reda terhadap chip memori untuk kecerdasan buatan (AI), menandai babak baru persaingan sengit di industri semikonduktor.
Dalam panduan pendapatan yang dirilis Selasa (9/7), Samsung memperkirakan laba operasional April-Juni mencapai 89,4 triliun won (sekitar Rp 1.058 triliun). Angka ini menjadi rekor kuartalan ketiga berturut-turut bagi perusahaan yang juga memproduksi ponsel dan perangkat elektronik lainnya. Pendapatan kuartalan diperkirakan mencapai 171 triliun won, lebih dari dua kali lipat dibanding kuartal II-2023.
Analis industri Marc Einstein dari Counterpoint Research menyebut pencapaian ini sebagai salah satu performa kuartalan terbaik Samsung dan mendekati rekor yang diukir Nvidia awal tahun ini. "Ini semua terkait dengan ledakan AI. Perusahaan memori terus menunggangi gelombang pasokan terbatas dan permintaan yang belum pernah terjadi sebelumnya," ujarnya.
Kenaikan harga chip memori menjadi faktor utama di balik lonjakan laba Samsung. Pasokan semikonduktor yang ketat, terutama untuk pusat data dan infrastruktur AI, mendorong Samsung menaikkan harga jual. Riset firma IDC menyebut permintaan chip untuk AI "berbeda dari apa pun yang pernah dialami industri memori", dan diperkirakan pasokan akan tetap ketat hingga tahun depan. "Permintaan dari pusat data AI tidak surut, sehingga pasokan diperkirakan ketat hingga tahun depan," kata Bryan Ma, peneliti perangkat teknologi IDC.
Namun, respons pasar tidak sepenuhnya positif. Saham Samsung justru melemah hampir 7% di Bursa Seoul pada hari pengumuman, karena sebagian investor berekspektasi laba yang lebih tinggi. Meski demikian, nilai pasar Samsung telah lebih dari dua kali lipat sejak awal tahun, sementara pesaing lokal SK Hynix melonjak lebih dari 200%. Kinerja kedua raksasa ini turut mendongkrak indeks Kospi hingga naik lebih dari 80% tahun ini.
Bagi Indonesia, lonjakan permintaan chip AI berpotensi memicu kelangkaan pasokan komponen elektronik konsumen, seperti ponsel dan laptop. Sebagian besar perangkat yang beredar di Indonesia bergantung pada chip memori produksi Samsung dan SK Hynix. Jika pasokan terus dialihkan ke pusat data AI, harga perangkat elektronik di dalam negeri bisa tertekan naik. Pemerintah Indonesia perlu mencermati dinamika ini agar tidak mengganggu industri manufaktur dan daya beli masyarakat.
Korea Selatan sendiri telah mengumumkan rencana investasi minimal $880 miliar untuk membangun pabrik chip baru yang dipimpin Samsung dan SK Hynix. Langkah ini diambil untuk mengamankan posisi dominan di tengah persaingan ketat dengan Jepang, China, dan Taiwan yang juga gencar membangun fasilitas produksi. Pertanyaannya, mampukah Samsung mempertahankan momentum pertumbuhan ini di tengah kekhawatiran investor akan persaingan yang semakin ketat dan potensi kelebihan pasokan di masa depan?



