Iran Gelar Pemakaman Ali Khamenei: Antara Duka, Dendam, dan Sinyal ke AS
Baca dalam 60 detik
- Pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei berlangsung selama beberapa hari, diwarnai seruan balas dendam terhadap Israel dan Amerika Serikat.
- Prosesi ini dimanfaatkan pemerintah Iran untuk memperkuat posisi tawar dalam negosiasi Selat Hormuz, sekaligus menguji loyalitas publik di tengah tekanan perang.
- Ketegangan meningkat dengan ancaman Israel terhadap pengganti Khamenei, putranya Mojtaba, yang memicu peringatan keras dari militer Iran.

Iran memulai prosesi pemakaman massal untuk Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei, yang tewas dalam serangan udara Israel pada akhir Februari lalu. Ribuan pelayat membanjiri Grand Mosalla di Tehran, Minggu (4/7), dalam suasana duka bercampur kemarahan yang terlihat dari teriakan "Balas dendam!" dan spanduk bertuliskan "#KillTrump".
Peti jenazah Khamenei yang dibungkus kaca dipajang di atas panggung, dengan sorban hitam di atasnya sebagai tanda keturunan Nabi Muhammad. Di bawahnya, peti anggota keluarganya yang juga tewas dalam serangan yang sama turut dipajang. Serangan itu menghancurkan kompleks kediaman Khamenei di pusat Tehran dan menewaskan beberapa kerabat dekatnya, termasuk menantu perempuan yang kini menjadi bagian dari iring-iringan jenazah.
Pemerintah Iran memperkirakan jutaan orang akan turun ke jalan, mengulang adegan pemakaman Ayatollah Khomeini pada 1989. Otoritas setempat menyemprotkan air dan menyediakan minuman dingin untuk meredakan panas musim panas. "Kami datang untuk menunjukkan komitmen membela negara dan agama," ujar Ali Kazemi, pelayat yang menempuh perjalanan 530 kilometer dari Tabriz.
Pemilihan tanggal 4 Juli sebagai awal pemakaman dinilai bukan kebetulan. Bertepatan dengan peringatan 250 tahun kemerdekaan AS, massa di Tehran meneriakkan "Death to America"โslogan yang mengakar sejak Revolusi Islam 1979. Presiden AS Donald Trump, dalam pidato di Mount Rushmore, mengejek: "Kami menghajar Iran habis-habisan. Mereka sangat ingin berdamai. Kami beri mereka libur seminggu untuk pemakaman." Di Tehran, spanduk bertuliskan "#KillTrump" dikibarkan di tengah kerumunan.
Ketegangan kian memuncak dengan ancaman Israel terhadap pengganti Khamenei, putranya Ayatollah Mojtaba Khamenei. Militer Iran, Kamis lalu, memperingatkan Israel dan AS agar "tidak melakukan kesalahan perhitungan" selama masa berkabung. Mojtaba sendiri belum muncul di publik sejak serangan yang juga merenggut nyawa istrinya. Kehadirannya di pemakaman akan menjadi sinyal penting bagi stabilitas transisi kekuasaan.
Bagi Indonesia, dinamika ini relevan mengingat posisi Iran sebagai salah satu pemasok minyak utama dan pengaruhnya di Timur Tengah. Eskalasi konflik dapat mengganggu pasokan energi global dan memperkuat polarisasi geopolitik yang berdampak pada stabilitas kawasan. Pertanyaan besarnya: akankah pemakaman ini menjadi titik balik menuju de-eskalasi, atau justru memicu babak baru konfrontasi?



