Nigel Farage Mundur dari Parlemen, Lalu Maju Lagi: Strategi Populis atau Distraksi?
Baca dalam 60 detik
- Nigel Farage mengundurkan diri sebagai anggota parlemen dari Clacton, namun segera mengumumkan akan kembali mencalonkan diri dalam pemilu sela yang sama.
- Langkah ini dinilai sebagai upaya membingkai ulang tuduhan keuangannya menjadi narasi perjuangan melawan 'elit' media dan politik.
- Para akademisi memperingatkan bahwa meskipun Farage mungkin menang, investigasi terhadap dirinya akan berlanjut begitu ia kembali ke parlemen.

Nigel Farage, pemimpin partai Reform UK, mengumumkan pengunduran dirinya sebagai anggota parlemen untuk daerah pemilihan Clacton—hanya untuk menyatakan akan kembali mencalonkan diri pada kursi yang sama dalam pemilu sela. Dalam pernyataan yang disiarkan dari kantor pusat partai di Milbank, London, Farage membantah tuduhan terkait keuangannya dan menegaskan dirinya tidak bersalah. Langkah kontroversial ini langsung memicu analisis dari para pengamat politik.
Menurut Tim Bale, profesor politik dari Queen Mary University of London, pidato Farage merupakan salah satu retorika politik paling mementingkan diri sendiri yang pernah terdengar sejak era Boris Johnson. Farage, kata Bale, tampak berusaha mengalihkan perhatian dari tuduhan yang dihadapinya dengan membingkai pemilu sela sebagai pertarungan melawan 'establishment'. Namun, Bale meragukan simpati publik terhadap politisi yang mengaku sangat kaya dari berbagai pekerjaan sampingan dan justru bisa lebih kaya jika meninggalkan parlemen.
Parveen Akhtar, dosen senior politik di University of Aston, melihat langkah ini sebagai bagian dari 'Faragisme'—sebuah proyek politik yang membangun narasi populis tentang Inggris yang terkekang oleh elit dan institusi yang tidak responsif. Dengan mengundurkan diri dan langsung mencalonkan kembali, Farage mengalihkan fokus dari perilaku individunya menjadi pertarungan antara gerakan perlawanan dan establishment yang korup. Postingan Farage di X yang diumumkan dua jam sebelum pidato telah dilihat 4,4 juta kali, menunjukkan kemampuannya yang tak tertandingi dalam merebut perhatian publik.
Lone Sorensen, profesor komunikasi politik dari University of Leeds, menambahkan bahwa Farage menggunakan narasi korban dan penyelamat. Ia menggambarkan dirinya sebagai tokoh yang paling diserang media di zaman modern, sambil mengklaim bahwa tanpa dirinya, Brexit tidak akan terjadi. Farage juga menyamakan media arus utama dengan partai politik, sebuah taktik populis klasik yang mirip dengan seruan 'berita palsu' ala Donald Trump. Dengan cara ini, setiap laporan negatif justru menjadi amunisi baginya.
Bale memperkirakan Farage memiliki peluang besar untuk memenangkan pemilu sela di Clacton, kecuali jika partai-partai utama bersatu mencalonkan kandidat bersama—seperti yang terjadi pada 1997 dengan Martin Bell. Namun, Bale menegaskan bahwa kemenangan tidak akan menghentikan investigasi. Begitu Farage kembali ke parlemen, penyelidikan akan dilanjutkan. "Ia bisa lari, tapi tidak bisa bersembunyi," ujar Bale.
Bagi Indonesia, dinamika politik Inggris ini relevan sebagai studi kasus tentang bagaimana politisi populis menggunakan pengunduran diri dan pencalonan ulang sebagai alat untuk membingkai ulang skandal. Di tengah maraknya politik identitas dan serangan terhadap media, langkah Farage mengingatkan pada pola serupa yang terjadi di berbagai negara, termasuk Indonesia, di mana figur publik kerap memanfaatkan narasi 'rakyat vs elit' untuk mempertahankan pengaruh. Pertanyaannya, apakah pemilih akan terus terjebak dalam narasi semacam itu, atau mulai mempertanyakan substansi di balik retorika?



