Dari Pelayan Bar Hingga Pelatih Timnas Inggris: Kisah Thomas Tuchel yang Tak Lazim
Baca dalam 60 detik
- Thomas Tuchel menjadi pelatih asing ketiga dalam sejarah Timnas Inggris setelah membawa mereka lolos sempurna ke Piala Dunia 2026.
- Karier kepelatihan Tuchel dimulai dari Divisi U14 VfB Stuttgart usai cedera lutut memaksanya pensiun dini sebagai pemain.
- Tuchel tercatat sebagai pelatih dengan rata-rata poin per laga tertinggi di Mainz dan Dortmund sepanjang sejarah Bundesliga.

Thomas Tuchel, pelatih berkebangsaan Jerman yang kini menukangi Timnas Inggris, membuktikan bahwa jalan menuju puncak sepak bola tidak selalu dimulai dari sorotan lampu stadion. Pria kelahiran Krumbach ini menapaki tangga karier dari posisi yang paling tidak terduga: seorang pelayan bar yang kemudian menjadi arsitek taktik di klub-klub elite Eropa. Kini, ia dipercaya membawa Three Lions berburu gelar di Piala Dunia 2026 setelah melalui perjalanan panjang yang penuh liku.
Kisah Tuchel dimulai dari kegagalan. Semasa muda, ia bergabung dengan akademi Augsburg namun dilepas pada usia 19 tahun tanpa sempat menembus tim utama. Karier singkatnya di Stuttgarter Kickers (Bundesliga 2) dan SSV Ulm (kasta ketiga) hanya menghasilkan 76 penampilan sebelum cedera lutut parah memaksanya gantung sepatu di usia 24 tahun. Alih-alih menyerah, Tuchel mengambil kuliah Administrasi Bisnis sambil bekerja sebagai pelayan bar. Namun panggilan sepak bola tetap kuat, dan titik balik datang dari Ralf Rangnick, pelatih Ulm kala itu yang kemudian menjadi mentornya.
Rangnick membuka pintu dengan menawari Tuchel kesempatan trial di tim cadangan VfB Stuttgart. Meski gagal karena cedera kronis, Rangnick menanamkan benih kepelatihan dengan bertanya apakah ia tertarik bekerja di sepak bola usia muda. Rasa penasaran membawa Tuchel menjadi asisten di akademi Stuttgart, dan pada 2000 ia resmi menangani tim U14. Di bawah bimbingan mendiang Hermann Badstuber, ia naik pangkat menjadi asisten pelatih U19 pada 2004 dan langsung mempersembahkan gelar juara Bundesliga U19 setahun kemudian. Hanya sembilan tahun setelah menyajikan minuman di bar, Tuchel sudah duduk di bangku cadangan Bundesliga.
Karier Tuchel melesat setelah sukses di Mainz. Ia membawa klub promosi itu finis kesembilan di musim debut, lalu memulai musim keduanya dengan tujuh kemenangan beruntun termasuk mengalahkan Bayern Muenchen. Gaya bermain menekan dan cepat yang ia terapkan membuat Mainz finis kelima pada 2011/12 dan lolos ke Liga Europa untuk pertama kalinya. Setelah mengambil cuti setahun, Tuchel menggantikan Jürgen Klopp di Borussia Dortmund pada 2015. Di sana ia mengasah bakat Christian Pulisic dan Ousmane Dembélé, membawa BVB menjadi runner-up Bundesliga 2015/16 dan juara DFB Pokal 2016/17. Rekor rata-rata 2,09 poin per laga di Dortmund masih bertahan hingga kini.
Langkah Tuchel kemudian melebar ke panggung Eropa. Di Paris Saint-Germain (2018–2020) ia memenangkan Ligue 1 di musim pertama dan meraih treble domestik di musim kedua, serta membawa PSG ke final Liga Champions 2020. Namun puncak kariernya terjadi di Chelsea, ketika ia mengambil alih tim pada Januari 2021 dan membawa The Blues dari posisi kesembilan ke keempat Premier League, lalu menjuarai Liga Champions dengan mengalahkan Manchester City di final Porto. Prestasi itu mengantarnya meraih penghargaan Pelatih Terbaik FIFA 2022.
Setelah dipecat Chelsea pada awal musim 2022/23, Tuchel kembali ke Jerman untuk menangani Bayern Muenchen pada Maret 2023. Debutnya manis dengan kemenangan 4-2 atas Dortmund, namun musim diwarnai kegagalan di DFB Pokal dan Liga Champions. Ia tetap mampu membawa Bayern merebut gelar Bundesliga di hari terakhir setelah Dortmund tergelincir. Musim penuh pertamanya di Bayern berjalan pahit: tersingkir di DFB Pokal oleh Saarbrücken (kasta ketiga), tertinggal dari Bayer Leverkusen yang tak terkalahkan, dan tiga kekalahan beruntun di Februari memicu pengumuman perpisahan di akhir musim. Meski sempat bangkit di Liga Champions dengan menyingkirkan Lazio dan Arsenal, kekalahan dari Real Madrid di semifinal menutup masa baktinya di Munich.
Tuchel kini memimpin Inggris di Piala Dunia 2026 setelah melalui kualifikasi sempurna: 10 kemenangan tanpa kebobolan. Di putaran final, ia membuka dengan kemenangan 4-2 atas Kroasia dan 2-0 atas Panama, serta satu hasil imbang 0-0 melawan Ghana. Dengan reputasi sebagai pelatih yang mampu meraih trofi dalam situasi sulit, Tuchel diharapkan menjadi sosok yang mengakhiri puasa gelar Inggris sejak 1966. Pertanyaan besarnya: akankah pendekatan taktis ala Jerman ini membawa pulang trofi ke tanah air sepak bola modern?



