Dilepas ke Pasar: Toyota dan Daimler Kurangi Kepemilikan di Archion Senilai Rp28 Triliun
Baca dalam 60 detik
- Toyota Motor dan Daimler Truck berencana melepas sekitar 30% saham Archion melalui penawaran umum, dengan nilai mencapai 300 miliar yen.
- Langkah ini dilakukan untuk memenuhi persyaratan pencatatan saham Archion di bursa, sekaligus mengurangi kepemilikan masing-masing dari 41% menjadi 25%.
- Keputusan ini berpotensi mempengaruhi struktur industri truk global, termasuk rantai pasok di Indonesia yang bergantung pada merek Hino dan Mitsubishi Fuso.

Dua raksasa otomotif dunia, Toyota Motor dan Daimler Truck, bersiap mengurangi kepemilikan saham mereka di perusahaan induk truk Archion melalui penjualan saham senilai 200 miliar hingga 300 miliar yen, atau setara dengan Rp21 triliun hingga Rp31 triliun. Langkah ini dilaporkan oleh harian bisnis Nikkei pada Jumat (3/7) dan dikonfirmasi oleh sumber internal yang enggan disebutkan namanya.
Menurut laporan tersebut, Toyota dan Daimler akan menawarkan sekitar 900 juta lembar saham, atau sekitar 30 persen dari total saham beredar Archion, melalui penawaran umum. Tujuan utama dari aksi korporasi ini adalah untuk memenuhi persyaratan pencatatan saham Archion di bursa efek. Saat ini, masing-masing perusahaan memiliki sekitar 41 persen saham Archion, namun rencananya kepemilikan tersebut akan diturunkan menjadi 25 persen setelah penjualan.
Archion sendiri merupakan perusahaan induk yang dibentuk untuk menaungi produsen truk Hino Motors dan Mitsubishi Fuso Truck and Bus Corporation pasca integrasi. Dalam pernyataan resminya, Archion mengakui bahwa pihaknya sedang mempertimbangkan berbagai opsi kebijakan modal, termasuk kemungkinan penjualan saham, namun menegaskan belum ada keputusan final. Sementara itu, Toyota menyatakan bahwa laporan Nikkei bukan merupakan pengumuman resmi dari perusahaan, dan Daimler Truck menolak berkomentar dengan menyebutnya sebagai "rumor, spekulasi pasar, atau transaksi yang belum diumumkan".
Konteks Indonesia: Langkah ini memiliki implikasi langsung bagi pasar otomotif nasional. Hino dan Mitsubishi Fuso merupakan pemain utama di segmen truk komersial Indonesia, dengan pangsa pasar yang signifikan. Perubahan struktur kepemilikan Archion dapat mempengaruhi strategi investasi, aliansi teknologi, dan kebijakan suku cadang di Indonesia. Para analis menilai bahwa pelepasan saham ini bisa menjadi sinyal bagi Toyota dan Daimler untuk lebih fokus pada bisnis inti mereka, sementara Archion akan lebih mandiri dalam pengambilan keputusan bisnis di pasar berkembang seperti Indonesia.
Menurut pengamat industri otomotif dari Institut Teknologi Bandung, Dr. Agus Purwanto, langkah ini merupakan bagian dari tren global di mana perusahaan induk mulai melepas anak usaha untuk meningkatkan efisiensi modal. "Di Indonesia, konsumen truk mungkin tidak akan merasakan dampak langsung dalam jangka pendek, namun perubahan strategi pemegang saham bisa mempengaruhi alokasi sumber daya untuk riset dan pengembangan produk yang sesuai dengan kebutuhan lokal," ujarnya.
Nikkei juga melaporkan bahwa Archion diperkirakan akan mengumumkan rencana penjualan saham tersebut paling cepat pekan depan. Jika terealisasi, aksi korporasi ini akan menjadi salah satu yang terbesar di sektor otomotif global tahun ini. Pertanyaan yang kini mengemuka adalah: akankah investor institusional atau publik yang akan menyerap saham yang dilepas, dan bagaimana dampaknya terhadap tata kelola Archion ke depan?



