Airtel Africa Tembus Kapitalisasi Rp60 Triliun, Saham Melonjak 21%
Baca dalam 60 detik
- Saham Airtel Africa melesat 21% ke level tertinggi 52 minggu, mendorong kapitalisasi pasar mendekati N20 triliun.
- Lonjakan ini terjadi di tengah aksi jual besar-besaran di bursa Nigeria, menjadikan Airtel sebagai perusahaan paling bernilai.
- Kenaikan ini dipicu oleh program buyback saham dan ekspektasi investor terhadap kinerja semester kedua.

Saham raksasa telekomunikasi Airtel Africa Plc mencatat lonjakan signifikan sebesar 21 persen dalam sepekan terakhir, menembus level tertinggi 52 minggu di N5.274 per lembar dan membawa kapitalisasi pasarnya mendekati angka N20 triliun atau setara lebih dari Rp60 triliun.
Pergerakan ini terjadi di tengah tekanan jual yang melanda Bursa Efek Nigeria (NGX), di mana sebagian besar sektor mengalami koreksi. Data perdagangan menunjukkan bahwa Airtel Africa berhasil membalikkan tren negatif tersebut berkat volume transaksi yang meningkat drastis. Kapitalisasi pasar perseroan kini mencapai N19,82 triliun, menjadikannya perusahaan dengan valuasi terbesar di bursa Nigeria, menggeser posisi MTN Nigeria yang justru kehilangan N1,7 triliun akibat aksi jual investor.
Kenaikan harga saham ini menambah kekayaan pemegang saham Airtel Africa sebesar N3,44 triliun hanya dalam dua sesi perdagangan positif. Analis pasar menilai bahwa sentimen positif ini didorong oleh program pembelian kembali saham (buyback) yang dilakukan perusahaan untuk meredam volatilitas, serta ekspektasi investor terhadap laporan keuangan semester kedua tahun ini. โBuyback menjadi sinyal bahwa manajemen yakin dengan prospek jangka panjang perusahaan,โ ujar seorang analis di Lagos.
Bagi investor di Indonesia, pergerakan Airtel Africa ini memberikan gambaran menarik tentang dinamika pasar telekomunikasi di Afrika. Meski tidak terdaftar di bursa Indonesia, Airtel Africa merupakan bagian dari grup Airtel yang juga beroperasi di India dan Afrika. Kinerja sahamnya kerap menjadi indikator kepercayaan investor terhadap sektor telekomunikasi di pasar berkembang. Di Indonesia sendiri, emiten telekomunikasi seperti Telkom Indonesia dan XL Axiata juga menghadapi tekanan serupa akibat persaingan ketat dan belanja modal yang tinggi.
Ke depan, investor akan mencermati apakah Airtel Africa mampu mempertahankan momentum ini di tengah ketidakpastian ekonomi global. Dengan kapitalisasi yang sudah mendekati N20 triliun, pertanyaan besarnya adalah: akankah level ini menjadi resistance atau justru pijakan untuk reli selanjutnya?



