Emas, Perak, Platinum, atau Paladium: Pilihan Logam Mulia di Tengah Gejolak 2026
Baca dalam 60 detik
- Harga emas sempat menyentuh rekor US$5.589 per ons pada Januari 2026, lalu jatuh ke bawah US$4.000 pada Juli, sebelum kembali menguat ke US$4.400 di tengah data tenaga kerja AS yang lemah.
- Analis memandang emas sebagai lindung nilai utama portofolio, sementara perak menawarkan beta lebih tinggi terhadap kondisi moneter dan industri, namun platinum dan paladium lebih terdorong oleh permintaan industri dan risiko pasokan.
- Investor Indonesia dapat memanfaatkan fluktuasi ini melalui emas digital, reksa dana berbasis emas, atau saham tambang, dengan mencermati perbedaan karakteristik masing-masing logam.

Lonjakan harga logam mulia sepanjang 2026 menjadi perhatian investor global, tak terkecuali di Indonesia. Emas sempat menembus rekor US$5.589 per ons pada akhir Januari, lalu merosot tajam ke bawah US$4.000 pada Juli, sebelum kembali menguat ke kisaran US$4.400 setelah rilis data tenaga kerja Amerika Serikat yang lebih lemah dari perkiraan. Fluktuasi ini menegaskan bahwa emas, perak, platinum, dan paladium—meski kerap dikelompokkan dalam satu kelas aset—memiliki karakteristik dan prospek yang sangat berbeda.
Pergerakan harga logam mulia tahun ini tidak lepas dari ekspektasi suku bunga The Fed dan ketidakpastian geopolitik. William Adams, direktur wawasan pasar untuk logam di Fastmarkets, menilai emas dan perak masih berpeluang naik didukung tren jangka panjang seperti de-dolarisasi, meningkatnya utang pemerintah negara-negara Barat, dan risiko geopolitik yang persisten. Menurutnya, tekanan jual emas oleh bank sentral akibat tingginya harga minyak hanya bersifat sementara. "Begitu tekanan itu mereda, emas akan kembali melanjutkan tren kenaikannya dan perak kemungkinan mengikuti," ujarnya.
Dari sisi fundamental, Alexandra Symeonidi, analis senior di William Blair, melihat emas memiliki potensi kenaikan terkuat di antara logam mulia lainnya. Pembelian emas oleh bank sentral yang terus berlanjut sejak 2022 menjadi pendorong struktural, ditambah mulai pulihnya permintaan investor yang tercermin dari aliran dana masuk ke ETF emas. "Dorongan terbesar bagi emas adalah prospek kebijakan The Fed dan reaksi permintaan investor terhadapnya," kata Symeonidi. Sementara itu, perak yang sempat melonjak ke US$118 per ons pada Januari, jatuh 53 persen ke US$55 pada Juli, dan kini pulih ke sekitar US$65, menunjukkan sensitivitasnya terhadap siklus ekonomi karena sekitar 45 persen permintaannya berasal dari sektor industri seperti panel surya dan elektronik.
Berbeda dengan emas dan perak, platinum dan paladium lebih banyak dipengaruhi oleh permintaan industri dan pasokan yang terbatas. Kedua logam ini banyak digunakan dalam sistem kontrol emisi kendaraan, dengan platinum untuk kendaraan diesel dan paladium untuk bensin. Namun, pergeseran industri otomotif menuju kendaraan listrik mengancam permintaan paladium di masa depan. Josh Gilbert, analis utama eToro untuk Asia-Pasifik dan Timur Tengah, mengingatkan bahwa pasokan platinum dan paladium sangat terkonsentrasi di Rusia dan Afrika Selatan, sehingga rentan terhadap gangguan. "Pelanggan terbesar paladium perlahan menghilang karena kendaraan listrik tidak memerlukan catalytic converter, sementara platinum memiliki peluang baru di sel bahan bakar hidrogen," jelasnya.
Bagi investor Indonesia, dinamika ini membuka peluang diversifikasi. Meski artikel ini menyoroti pasar Singapura, akses ke logam mulia kini semakin mudah di dalam negeri. Masyarakat dapat membeli emas batangan melalui PT Aneka Tambang (Antam), berinvestasi melalui reksa dana berbasis emas, atau memanfaatkan platform emas digital yang ditawarkan sejumlah bank dan fintech. Namun, perlu dicermati bahwa produk untuk platinum dan paladium masih terbatas, dan premi untuk membeli fisik logam tersebut bisa mencapai 18-30 persen.
Pandangan para analis mengenai perlunya memiliki keempat logam mulia tidak seragam. Chez Anbu, kepala penasihat kekayaan OCBC, menilai diversifikasi antar logam masuk akal karena masing-masing bisa unggul dalam kondisi pasar berbeda. Emas cenderung kuat saat risk aversion, perak diuntungkan saat suku bunga turun dan pertumbuhan industri solid, platinum berpeluang saat pasokan ketat, dan paladium bisa diuntungkan oleh gangguan pasokan. Namun, Charu Chanana dari Saxo justru menganggap kepemilikan keempatnya sekaligus berlebihan. "Emas adalah diversifier portofolio yang paling jelas, sementara perak, platinum, dan paladium menambah eksposur industri dan siklikal secara bertahap," katanya. Investor sebaiknya memilih berdasarkan pandangan ekonomi, bukan sekadar mengoleksi seluruhnya.
Gilbert juga meragukan manfaat memiliki keempat logam tersebut karena tingkat korelasi pengembalian tahunan mereka tinggi dalam lima tahun terakhir. Platinum dan paladium, misalnya, cenderung bergerak seirama sehingga kepemilikan keduanya tidak memberikan diversifikasi tambahan yang signifikan. "Platinum dan paladium sejatinya adalah logam industri, meskipun berlabel logam mulia. Kelangkaan saja tidak menjadikannya safe haven," tegasnya. Ia menambahkan bahwa jika suku bunga tetap tinggi lebih lama, korelasi antar logam mulia bisa semakin erat karena semuanya tidak memberikan imbal hasil.
Ke depan, investor perlu mencermati arah kebijakan moneter global dan perkembangan industri otomotif, terutama transisi ke kendaraan listrik yang dapat mengubah permintaan platinum dan paladium secara fundamental. Apakah emas akan terus memimpin sebagai lindung nilai utama, ataukah perak dan platinum mampu mengejar ketertinggalan? Jawabannya akan sangat ditentukan oleh data ekonomi dan keputusan bank sentral dalam beberapa bulan mendatang.



