Harga Minyak Mentah Turun, tapi Bensin di SPBU Tak Kunjung Murah: Fenomena Roket dan Bulu
Baca dalam 60 detik
- Harga minyak mentah Brent kembali ke level sebelum konflik Timur Tengah, namun harga bensin di Singapura masih bertahan tinggi karena efek 'rocket and feathers'.
- Analis memperkirakan harga bensin baru akan kembali ke level normal pada awal 2027, tergantung pada stabilitas geopolitik dan rantai pasok.
- Fenomena ini mengingatkan Indonesia akan pentingnya diversifikasi energi dan kebijakan harga BBM yang responsif terhadap fluktuasi global.

Meskipun harga minyak mentah dunia telah merosot mendekati level sebelum pecahnya konflik Timur Tengah, para pengendara di Singapura tak bisa berharap banyak untuk segera menikmati harga bensin yang murah. Fenomena yang dikenal sebagai "roket dan bulu" membuat harga di pompa bensin turun jauh lebih lambat dibandingkan saat melonjak, meninggalkan selisih yang cukup signifikan dibandingkan masa sebelum perang.
Brent crude, acuan internasional, ditutup di kisaran US$72 per barel pada awal Juli, mendekati level US$70 sebelum konflik. Namun, harga bensin oktan 95 di SPBU seperti Esso, Shell, SPC, Caltex, dan Sinopec masih berkisar antara S$3,36 hingga S$3,37 per liter—setidaknya S$0,48 lebih tinggi dari rata-rata S$2,88 pada akhir Februari. Untuk pengendara Honda Civic dengan tangki 47 liter, ini berarti tambahan biaya sekitar S$23 hingga S$25 per pengisian penuh.
Sheana Yue, ekonom senior di Oxford Economics, menjelaskan bahwa ketika harga minyak mentah naik tajam, biaya grosir yang lebih tinggi cepat terbebani karena pengecer mengisi ulang persediaan dengan harga baru. Sebaliknya, saat harga turun, pengecer cenderung menunggu untuk memastikan penurunan itu berkelanjutan sebelum menurunkan harga eceran. Akibatnya, harga bensin jatuh perlahan—fenomena yang oleh para analis disebut "roket dan bulu".
David Broadstock, mitra konsultan energi The Lantau Group, menambahkan bahwa pengecer telah memperhitungkan ketidakpastian harga minyak dan menetapkan titik harga yang dapat mengakomodasi risiko berkelanjutan. "Ekspektasi jangka panjang untuk bensin terkait dengan ekspektasi jangka panjang untuk minyak, dan sangat sulit memiliki ekspektasi jangka panjang untuk minyak saat ini," ujarnya. Ia juga mencatat bahwa pelanggan bahan bakar cenderung "lengket"—pengendara tidak akan berhenti mengemudi, sehingga pengecer memiliki daya tawar untuk menahan harga.
Menariknya, harga diesel justru menunjukkan penurunan yang lebih nyata. Per Juli, harga diesel berkisar antara S$3,95 hingga S$4,05 per liter, turun dari puncak S$4,32–S$4,68 pada April. Broadstock menjelaskan bahwa diesel lebih terkait dengan kondisi ekonomi melalui jasa pengiriman dan logistik, sehingga lebih responsif terhadap penurunan harga minyak mentah. Sementara itu, harga bensin lebih dipengaruhi oleh harga bahan bakar olahan grosir, yang hubungannya dengan minyak mentah sempat menyimpang.
Bagi Indonesia, fenomena ini menjadi pengingat akan kerentanan harga BBM terhadap gejolak global. Meski Indonesia memiliki mekanisme subsidi dan harga eceran yang diatur pemerintah, fluktuasi harga minyak mentah tetap mempengaruhi beban APBN dan daya beli masyarakat. Jika tren "roket dan bulu" juga terjadi di dalam negeri, konsumen mungkin tidak akan merasakan penurunan harga BBM secara cepat meskipun harga minyak dunia turun. Hal ini menekankan pentingnya diversifikasi energi dan percepatan transisi ke kendaraan listrik untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil yang volatil.
Shell telah memotong harga bensin 4 sen per liter pada 19 Juni dan 5 sen lagi pada akhir Juni, diikuti penurunan harga diesel 10 sen per liter pada 29 Juni dan 5 Juli. Pesaing lain seperti Caltex, Esso, dan Sinopec juga menurunkan harga ke level S$3,37 per liter. Namun, analis memperingatkan bahwa penurunan ini bersifat bertahap dan harga kemungkinan akan tetap di atas level pra-konflik hingga akhir tahun, kecuali ada peningkatan signifikan dalam pasokan minyak global atau penurunan permintaan bahan bakar.
Yue dari Oxford Economics menegaskan bahwa kembalinya harga ke level sebelum konflik memerlukan kondisi geopolitik yang tetap terkendali, premi risiko di pasar minyak terus berkurang, dan harga minyak mentah serta bahan bakar olahan yang lebih rendah mengalir melalui rantai pasok. "Kami perkirakan awal 2027 kemungkinan tercapai jika kondisi ini terpenuhi," katanya. Broadstock menambahkan bahwa kuncinya bagi konsumen adalah menyadari bahwa harga bensin tidak akan berubah secara drastis dalam waktu singkat, sehingga penyesuaian kebiasaan berkendara atau beralih ke kendaraan hybrid/listrik bisa menjadi langkah bijak.
Pertanyaan yang kini mengemuka: akankah Indonesia mampu memanfaatkan momentum penurunan harga minyak untuk merampingkan subsidi BBM, atau justru terjebak dalam permainan harga yang lamban turun? Jawabannya mungkin baru akan terlihat dalam beberapa tahun ke depan, seiring dengan dinamika geopolitik dan transisi energi global.



