Dangote Cement Targetkan Kapasitas 80 Juta Ton dan Pemangkasan Emisi 20%
Baca dalam 60 detik
- Produsen semen terbesar di Afrika berencana menambah kapasitas produksi menjadi 80 juta ton per tahun pada 2030, didukung ekspansi ke Botswana dan Zimbabwe.
- Perusahaan menargetkan penurunan intensitas emisi CO₂ sebesar 20% dan akan mengonversi seluruh armada truk di Nigeria ke gas alam terkompresi pada 2027.
- Langkah ini merupakan bagian dari strategi keberlanjutan yang terintegrasi dengan Visi 2030 Dangote Group, mencakup efisiensi energi, konservasi air, dan program reboisasi.

Dangote Cement Plc, produsen semen terbesar di Afrika, mengumumkan rencana ambisius untuk meningkatkan kapasitas produksi terpasang menjadi 80 juta ton per tahun (MTPA) pada 2030, seiring dengan target pemangkasan intensitas emisi karbon dioksida sebesar 20 persen. Langkah ini disampaikan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan ke-17 di Lagos, pekan lalu, sebagai bagian dari strategi keberlanjutan yang kini menjadi inti bisnis perusahaan.
Ketua Dangote Cement, Emmanuel Ikazoboh, menegaskan bahwa keberlanjutan telah bertransformasi dari sekadar kepatuhan menjadi pendorong utama pertumbuhan dan penciptaan nilai jangka panjang. Perusahaan berencana memperluas pelabuhan di Apapa, Onne, dan Lekki untuk memperkuat posisinya sebagai eksportir semen terdepan di Afrika. Ekspansi juga akan menjangkau Botswana dan Zimbabwe, menambah jejak produksi di luar Nigeria.
Dalam hal dekarbonisasi, Dangote Cement telah menyetujui rencana pengurangan intensitas emisi CO₂ sebesar 20 persen pada 2024. Salah satu langkah konkret adalah konversi seluruh armada truk di Nigeria—kecuali pabrik Gboko—ke bahan bakar gas alam terkompresi (CNG) pada 2027, dengan truk listrik mulai diperkenalkan pada 2026. Langkah ini diharapkan menekan emisi dari sektor transportasi yang selama ini menjadi penyumbang signifikan.
Dari sisi lingkungan, perusahaan melaporkan penurunan intensitas energi sebesar 1,7 persen dan konsumsi air turun 8 persen. Program DangCircular yang mendorong ekonomi sirkular berhasil memproses lebih dari 437.000 ton limbah sebagai bahan bakar alternatif, mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Di bidang keanekaragaman hayati, Dangote meluncurkan Program Dangote Tree-to-Forest yang menargetkan penghijauan 200 hektare lahan di setiap negara operasi dalam lima tahun, dengan menanam 700 pohon per hektare.
Dalam aspek tata kelola, perusahaan telah mengadopsi kebijakan manajemen risiko berbasis kecerdasan buatan, kebijakan inklusi disabilitas, dan mengintegrasikan 297 pemasok lokal ke dalam rantai pasok yang berorientasi ESG. Skor pengungkapan iklim dan air Dangote Cement dari Carbon Disclosure Project (CDP) mencapai B, dan perusahaan telah berkomitmen untuk mengadopsi standar IFRS Sustainability secara sukarela sebelum diwajibkan.
“Strategi keberlanjutan kami tidak terpisah dari strategi bisnis—ini adalah fondasi untuk mencapai Visi 2030,” ujar Ikazoboh dalam pidatonya.
Bagi Indonesia, langkah Dangote Cement menjadi contoh bagaimana perusahaan semen skala besar dapat menyeimbangkan ekspansi kapasitas dengan target iklim. Industri semen dalam negeri, yang juga menghadapi tekanan untuk menurunkan emisi, dapat mempelajari pendekatan Dangote dalam penggunaan bahan bakar alternatif dan konversi armada logistik. Namun, tantangan seperti infrastruktur gas dan investasi teknologi rendah karbon masih menjadi kendala serupa di kedua negara.
Ke depan, Dangote Cement optimistis dapat mempertahankan pertumbuhan berkelanjutan sambil memperkuat posisi sebagai pemimpin industri hijau di Afrika. Pertanyaannya, apakah produsen semen lain di kawasan dan Asia Tenggara akan mengikuti jejak serupa, atau justru tertinggal dalam transisi energi?



