Harga Minyak Menguat di Tengah Kebuntuan Diplomasi Timur Tengah, Potensi Kenaikan Terbatas
Baca dalam 60 detik
- Konflik yang tak kunjung reda membuat harga minyak mentah dunia naik tipis, namun pasokan yang masih lancar membatasi ruang apresiasi lebih lanjut.
- Analis menilai kebuntuan negosiasi dan pembatasan pelayaran di Selat Hormuz menjadi penopang utama harga, sementara risiko eskalasi masih membayangi.
- Ke depan, arah harga sangat bergantung pada perkembangan diplomasi dan potensi gangguan pasokan, dengan pasar yang cenderung konsolidatif.

Harga minyak mentah dunia kembali mencatatkan penguatan pada awal pekan ini, ditopang oleh kebuntuan upaya diplomatik dalam konflik Timur Tengah. Namun, laju kenaikan masih tertahan karena belum adanya gangguan signifikan pada pasokan minyak global.
Berdasarkan data pasar, kontrak berjangka minyak mentah jenis Brent naik 92 sen atau 1,04 persen menjadi 89,44 dolar AS per barel, setelah sempat menyentuh level tertinggi harian di 89,68 dolar AS. Sementara itu, minyak mentah acuan Amerika Serikat, West Texas Intermediate (WTI), menguat 55 sen atau 0,67 persen ke posisi 82,95 dolar AS per barel.
Penguatan ini merupakan kelanjutan dari lonjakan lebih dari 5 persen pada pekan lalu, menyusul serangan terhadap kapal tanker milik Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) di Selat Hormuz dan fasilitas kilang milik Saudi Aramco. Ketegangan geopolitik yang memanas memang menjadi katalis utama yang mendorong harga minyak, tetapi para pelaku pasar juga mencermati risiko gangguan pasokan yang lebih parah.
Bjarne Schieldrop, analis komoditas di SEB Research, menilai bahwa harga minyak tidak akan bergerak signifikan lebih tinggi kecuali terjadi penghentian total aliran minyak melalui Selat Hormuz atau penutupan Selat Bab el-Mandeb. Menurutnya, pasar saat ini berada di kisaran 90 dolar AS per barel, dengan trader menimbang dua skenario: risiko gangguan pasokan yang lebih dalam versus kemungkinan resolusi yang membuka kembali Selat Hormuz dan membuat harga anjlok.
Kebuntuan diplomasi semakin terlihat dari pernyataan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, yang mengatakan bahwa Iran belum memutuskan untuk melanjutkan pembicaraan dengan Amerika Serikat. Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump justru meminta warganya untuk menerima harga bensin yang sedikit lebih tinggi selama konflik berlangsung. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, juga mengungkapkan bahwa pembicaraan dengan Oman masih berlangsung dan memakan waktu lama karena kompleksitas masalah serta keterlibatan banyak pihak yang berusaha menggagalkan proses tersebut.
Frank Walbaum, analis pasar di platform trading Naga.com, mengatakan bahwa pelayaran melalui Selat Hormuz masih dibatasi dan negosiasi menemui jalan buntu, yang membatasi potensi penurunan harga lebih lanjut. "Tanpa adanya katalis baru, harga minyak bisa terus berkonsolidasi di sekitar level saat ini," ujarnya. Data pelacakan kapal dari Kpler menunjukkan perlambatan lalu lintas di Selat Hormuz selama akhir pekan, dengan hanya lima kapal komoditas yang melintas pada Sabtu dan tidak ada yang tercatat pada Minggu, dibandingkan 31 kapal pada akhir pekan sebelumnya.
Sementara itu, ADNOC dikabarkan telah menjual setidaknya 14 juta barel minyak mentah spot kepada para pembeli di Asia dengan harga premium dalam tender terbarunya, menurut sumber perdagangan. Ini menunjukkan bahwa meskipun terjadi ketegangan, permintaan dari Asia, termasuk China dan India, tetap kuat. Namun, ketidakpastian pasokan tetap menjadi kekhawatiran utama.
Ke depan, pasar akan terus memantau perkembangan diplomatik antara Iran dan AS, serta data pasokan dan permintaan global. Pertanyaannya, mampukah diplomasi mencairkan kebuntuan sebelum eskalasi lebih lanjut mengganggu pasokan? Atau justru konflik akan semakin memperketat pasar dan mendorong harga menembus level psikologis 90 dolar AS? Semua itu masih menjadi teka-teki yang akan menentukan arah pasar energi dalam beberapa pekan ke depan.



