Bayi Terlantar di 'Baby Basket' Tokyo Capai 20 Kasus dalam Setahun: Darurat Sosial atau Solusi Akhir?
Baca dalam 60 detik
- Fasilitas baby hatch di Tokyo menerima 20 bayi pada tahun pertama operasinya, dengan mayoritas bayi baru lahir dalam 24 jam.
- Tujuh ibu menggunakan sistem persalinan rahasia, sebagian besar berusia 20-an dan berstatus pelajar atau pekerja.
- Rumah sakit berharap laporan ini mendorong dukungan pemerintah, namun direktur menyebut baby hatch sebagai 'keniscayaan yang memalukan'.

Dalam setahun pertama operasinya, sebuah rumah sakit di Tokyo menerima 20 bayi melalui fasilitas baby hatch yang kontroversial. Angka ini mengungkap realitas pahit: masih ada orang tua yang merasa tidak mampu membesarkan anak mereka, meskipun Jepang dikenal sebagai negara maju dengan sistem kesejahteraan sosial yang relatif lengkap.
San-ikukai, korporasi kesejahteraan sosial yang mengelola rumah sakit tersebut, mengumumkan data ini pada 2 Juli 2025. Baby hatch bernama 'Inochi no Basuketto' (Keranjang Kehidupan) ini adalah yang kedua di Jepang setelah fasilitas serupa di Rumah Sakit Jikei, Kumamoto, yang berdiri sejak 2007. Berbeda dengan pendahulunya, baby hatch di Tokyo melayani bayi hingga usia empat minggu dan beroperasi 24 jam tanpa tatap muka dengan staf medis.
Dari 20 bayi yang dititipkan, sebagian besar adalah neonatus yang baru lahir dalam 24 jam sebelumnya. Empat belas bayi memiliki berat lahir normal di atas 2.500 gram, namun satu bayi hanya berbobot 1.700 gram. Dua bayi diketahui memiliki kondisi bawaan seperti penyakit jantung dan dilatasi bilier. Sementara itu, tujuh ibu memanfaatkan sistem persalinan rahasia yang disediakan rumah sakit—empat di antaranya berusia 20-an, dan satu remaja. Empat ibu adalah pelajar, dua pekerja kantoran, dan satu pekerja paruh waktu.
Dalam konferensi pers, Direktur Eksekutif San-ikukai, Motonobu Nakamura, menekankan bahwa keselamatan bayi adalah prioritas utama. “Yang terpenting adalah nyawa bayi terlindungi dengan aman. Kami berharap laporan ini mendorong dukungan pemerintah,” ujarnya. Namun, Direktur Rumah Sakit San-ikukai, Hitoshi Kato, menyebut baby hatch sebagai “keniscayaan yang memalukan” dan berharap suatu hari fasilitas semacam ini tidak lagi dibutuhkan.
Fenomena baby hatch di Jepang memantik diskusi tentang kegagalan sistem dukungan sosial bagi ibu hamil yang tertekan. Di Indonesia, meskipun tidak ada baby hatch resmi, kasus penelantaran bayi kerap terjadi, terutama di kota-kota besar. Data Kementerian Sosial mencatat ratusan bayi ditelantarkan setiap tahun. Jika Jepang—dengan jaring pengaman sosial yang lebih kuat—masih membutuhkan baby hatch, apa artinya bagi negara seperti Indonesia yang memiliki keterbatasan akses layanan kesehatan ibu dan anak, serta stigma sosial yang kuat terhadap kehamilan di luar nikah?
Setelah dititipkan, bayi-bayi tersebut langsung berada di bawah perlindungan sementara pusat konsultasi anak berdasarkan Undang-Undang Kesejahteraan Anak Jepang. Proses adopsi khusus kemudian diatur. Namun, pertanyaan mendasar tetap menggantung: apakah baby hatch benar-benar solusi, atau justru menjadi 'jalan pintas' yang menghindari akar masalah—yaitu kurangnya dukungan psikologis, ekonomi, dan sosial bagi ibu hamil yang rentan?
Ke depan, pemerintah Jepang dihadapkan pada pilihan sulit: memperkuat sistem konseling dan bantuan bagi ibu hamil, atau melegitimasi baby hatch sebagai opsi permanen. Sementara itu, bagi Indonesia, kisah Tokyo ini bisa menjadi cermin untuk mengevaluasi efektivitas program perlindungan anak dan ibu, sebelum angka penelantaran semakin membengkak.



