Iklan Instagram di India Promosikan Konten Pornografi Anak, BBC Ungkap Celah Sistem Moderasi
Baca dalam 60 detik
- Investigasi BBC menemukan sekitar 30 iklan berbayar di Instagram yang secara eksplisit menawarkan materi pelecehan seksual anak, dengan tautan ke saluran Telegram.
- Sistem moderasi otomatis Meta gagal mendeteksi iklan-iklan tersebut, bahkan setelah dilaporkan, beberapa di antaranya tetap dianggap tidak melanggar pedoman komunitas.
- Temuan ini memicu pertanyaan serius tentang efektivitas sistem keamanan platform dan potensi keterlibatan perusahaan dalam kejahatan terorganisir lintas batas.

Investigasi BBC World Service mengungkap bahwa Instagram, platform milik Meta, menayangkan iklan berbayar yang secara terang-terangan mempromosikan materi pelecehan seksual anak (child sexual abuse material/CSAM) di India. Iklan-iklan tersebut menggunakan kata kunci seperti "video pemerkosaan" dan "video anak", mengarahkan pengguna ke saluran di Telegram untuk membeli konten ilegal dengan harga serendah 99 rupee atau sekitar satu dolar AS.
BBC membuat akun anonim di Instagram untuk menyelidiki fenomena ini. Dalam waktu kurang dari seminggu, akun tersebut mulai menerima iklan dewasa, dan beberapa hari kemudian muncul iklan yang menampilkan anak-anak dalam situasi seksual. Total sekitar 30 iklan unik ditemukan mempromosikan CSAM, sementara 20 iklan lainnya menampilkan pornografi dewasa. Padahal, distribusi kedua jenis konten tersebut merupakan pelanggaran pidana di India, dan kebijakan Meta sendiri melarang keras iklan mengandung ketelanjangan atau eksploitasi seksual anak.
Yang lebih memprihatinkan, ketika BBC melaporkan salah satu iklan kepada Instagram, platform tersebut merespons 24 jam kemudian dengan menyatakan bahwa iklan itu tidak melanggar "pedoman komunitas". Meta baru bertindak setelah BBC meminta konfirmasi, dengan menonaktifkan sejumlah iklan dan akun, serta memblokir URL terkait. Meta beralasan bahwa "tidak ada sistem yang sempurna" dan proses peninjauan mereka mungkin tidak mendeteksi semua pelanggaran.
Mantan Wakil Presiden Facebook, Brian Boland, yang membantu membangun bisnis periklanan perusahaan, mengatakan ia "ngeri tetapi tidak terkejut" dengan temuan ini. Menurutnya, algoritma Instagram dirancang untuk membuat pengguna tetap betah dengan menampilkan konten yang "semakin ekstrem dan menggoda". Boland, yang keluar dari Meta pada 2020, menyesalkan bahwa seiring waktu, pertimbangan pendapatan lebih diutamakan daripada keselamatan pengguna. Ia bahkan telah menghapus akun Instagram pribadinya pada 2025 sebagai bentuk protes.
Di sisi lain, Telegram menyatakan telah menggunakan moderasi otomatis dan manusia untuk memberantas CSAM, dan mengklaim telah "hampir sepenuhnya menghilangkan penyebaran publik CSAM" dari platformnya. Namun, kritikus mencatat bahwa Telegram yang berbasis di Dubai bukan anggota National Center for Missing and Exploited Children (NCMEC) maupun Internet Watch Foundation, yang biasanya menjadi mitra platform lain dalam menangani konten ilegal.
Mantan hakim Agung India, Madan Lokur, menilai bahwa Instagram "mencari uang dengan berpartisipasi dalam aktivitas kriminal". Ia mendesak Mahkamah Agung India untuk mengambil inisiatif sendiri (suo moto) dan memerintahkan pemerintah bertindak terhadap platform media sosial. Sementara itu, Kepala Biro Keamanan Siber Telangana, Shikha Goel, mengakui bahwa Instagram dan Facebook menghasilkan laporan terbanyak ke NCMEC, tetapi ia menekankan bahwa hal itu justru menunjukkan algoritma mereka efektif melacak CSAM.
Bagi Indonesia, temuan ini menjadi peringatan dini. Dengan jumlah pengguna media sosial yang besar dan masih berkembangnya kapasitas penegak hukum siber, risiko penyalahgunaan platform serupa sangat nyata. Kerja sama internasional dan penguatan sistem moderasi lokal menjadi krusial untuk memutus rantai kejahatan ini. Pertanyaan yang tersisa: sejauh mana Meta dan Telegram akan bertanggung jawab, atau apakah regulasi yang lebih ketat diperlukan untuk melindungi anak-anak dari eksploitasi di ranah digital?



