Krisis Politik di Nepal: Gubernur Bagmati Mundur, Koalisi Baru Segera Terbentuk
Baca dalam 60 detik
- Kepala Menteri Provinsi Bagmati, Indra Bahadur Baniya, diperkirakan menyerahkan surat pengunduran diri hari ini setelah kehilangan dukungan mayoritas di parlemen.
- CPN-UML dan Partai Komunis Nepal tengah menyusun koalisi baru, dengan mantan Menteri Kesehatan Kiran Thapa sebagai kandidat kuat pemimpin fraksi.
- Langkah ini membuka jalan bagi pembentukan pemerintahan baru di Bagmati, sekaligus menguji stabilitas politik di Nepal pasca-pemilu.

Kepala Menteri Provinsi Bagmati, Indra Bahadur Baniya, dilaporkan akan mengajukan pengunduran diri pada Senin (17/8) setelah Partai Komunis Nepal–Unified Marxist–Leninist (CPN-UML) menarik dukungannya. Langkah ini membuat pemerintahan Baniya kehilangan mayoritas di parlemen, memicu kekosongan kepemimpinan yang berpotensi mengubah peta politik di kawasan tersebut.
Parlemen Provinsi Bagmati dijadwalkan bersidang pukul 13.00 waktu setempat untuk menggelar mosi percaya. Namun, sumber internal menyebut Baniya akan menyampaikan pidato dan menyerahkan surat pengunduran diri kepada kepala provinsi sebelum pemungutan suara. Keputusan ini mengakhiri masa kepemimpinan Baniya yang baru berjalan sekitar satu tahun, menjadikannya kepala pemerintahan keenam di provinsi tersebut sejak dibentuk.
Provinsi Bagmati memiliki parlemen beranggotakan 104 orang, dengan ambang batas dukungan minimal 53 kursi untuk membentuk pemerintahan. Setelah penarikan dukungan CPN-UML, Baniya—yang berasal dari Partai Kongres Nepal—kehilangan pijakan politiknya. Kondisi ini memaksa parlemen mencari figur baru yang mampu meraih dukungan mayoritas.
Di sisi lain, CPN-UML dan Partai Komunis Nepal (Maois) dikabarkan tengah mempersiapkan koalisi baru. CPN-UML telah menjadwalkan pertemuan fraksi pada Selasa (18/8) untuk memilih pemimpin baru. Mantan Menteri Kesehatan Kiran Thapa disebut-sebut sebagai kandidat kuat menggantikan JN Thapaliya, yang sebelumnya diinstruksikan untuk diganti oleh ketua umum partai, KP Sharma Oli. Sebanyak 18 anggota parlemen dari CPN-UML juga telah mengajukan mosi tidak percaya terhadap Thapaliya, memperkuat sinyal perombakan internal.
Langkah CPN-UML ini tidak hanya berdampak pada politik lokal Nepal, tetapi juga menjadi sorotan bagi negara-negara Asia Selatan, termasuk Indonesia. Sebagai negara dengan sistem desentralisasi, Indonesia dapat memetik pelajaran dari dinamika koalisi di Nepal. Stabilitas politik di tingkat provinsi sering kali menjadi fondasi bagi pembangunan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Ketika koalisi rapuh, program-program prioritas seperti infrastruktur dan layanan publik berisiko terhambat.
Menurut pengamat politik Nepal, pergantian kepemimpinan di Bagmati mencerminkan fragmentasi politik yang masih akut di negara tersebut. Koalisi yang terbentuk sering kali tidak bertahan lama karena perbedaan ideologi dan kepentingan personal. Hal ini serupa dengan dinamika politik di Indonesia pada era reformasi, di mana koalisi partai sering kali rapuh dan bergantung pada negosiasi elite.
Bagi Indonesia, situasi ini menjadi pengingat pentingnya memperkuat kelembagaan partai dan mekanisme checks and balances. Desentralisasi yang berjalan di Indonesia juga perlu diiringi dengan kaderisasi kepemimpinan yang matang agar tidak mudah goyah oleh gejolak politik. Selain itu, stabilitas politik daerah sangat menentukan iklim investasi dan kepercayaan publik terhadap pemerintah.
Ke depan, pembentukan pemerintahan baru di Bagmati akan menjadi ujian bagi CPN-UML dan sekutunya dalam merajut koalisi yang solid. Pertanyaan besarnya: akankah koalisi ini bertahan lebih lama dari pendahulunya, atau justru memicu siklus ketidakstabilan yang berkepanjangan? Jawabannya akan menentukan arah pembangunan di salah satu provinsi terpenting di Nepal.



