Dublin Dons: Mimpi Besar yang Gagal Membawa Klub Premier League ke Irlandia
Baca dalam 60 detik
- Konsorsium Irlandia sempat menawar £6 juta untuk 74% saham Wimbledon dan berencana memindahkan klub ke Dublin pada 1996.
- Rencana itu gagal karena penolakan suporter dan federasi sepak bola Irlandia, yang khawatir liga domestik mereka mati.
- Wimbledon akhirnya pindah ke Milton Keynes pada 2004, memicu lahirnya AFC Wimbledon yang kini bangkit di League One.

Pada pertengahan 1990-an, sepak bola Inggris berada di ambang transformasi besar. Liga Premier mulai dipenuhi bintang asing, dan daya tariknya menjalar ke seluruh dunia. Namun, di tengah euforia itu, ada sebuah rencana liar yang nyaris mengubah peta persepak bolaan Eropa: memindahkan klub Premier League Wimbledon ke Dublin, Irlandia. Gagasan yang tampak mustahil itu sempat digarap serius oleh konsorsium Irlandia, tetapi akhirnya kandas—meninggalkan jejak nostalgia dan penyesalan yang masih terasa hingga kini.
Kisah ini bermula dari kebuntuan Sam Hammam, ketua Wimbledon asal Lebanon, yang gagal mendapatkan izin membangun stadion di Merton. Sejak 1991, klub yang dikenal dengan julukan Crazy Gang itu terpaksa berbagi kandang dengan Crystal Palace di Selhurst Park, sebuah situasi yang tidak nyaman bagi kedua belah pihak. Kenny Cunningham, bek asal Dublin yang bergabung dengan Wimbledon pada 1994, mengenang bagaimana para penggemar Palace kerap mengejek mereka sebagai "squatters" atau penghuni liar. "Tidak ada banyak rasa hormat," ujarnya, "mungkin sedikit bercanda, tapi saya pikir mereka serius."
Di tengah kebuntuan itu, Tommy Higgins—yang saat itu bekerja untuk Ticketmaster Irlandia—membaca artikel tentang masalah Hammam dan melihat peluang. Ia tahu bahwa pengembang properti Owen O'Callaghan memiliki izin membangun stadion berkapasitas 40.000 kursi di pinggiran Dublin. Stadion itu hanya butuh tim sebagai penyewa utama. Higgins kemudian menggandeng sejumlah tokoh berpengaruh, termasuk mantan pemain timnas Irlandia Eamon Dunphy dan Paul McGuinness, manajer band U2. Konsorsium ini menyusun rencana untuk membeli 74% saham Wimbledon dengan tawaran £6 juta.
Rencana itu sempat menggema di media, terutama setelah David Beckham mencetak gol ikonik dari tengah lapangan ke gawang Wimbledon pada Agustus 1996—sebuah momen yang disaksikan langsung oleh para anggota konsorsium di tribun Selhurst Park. Namun, reaksi publik justru keras. Ivor Heller, penggemar setia Wimbledon sejak era non-liga, menolak mentah-mentah. Melalui bisnis percetakannya, ia membuat spanduk bertuliskan "Dublin = Death" yang dipajang di stadion. "Dari sudut pandang bisnis, saya bisa melihat masuk akalnya," kata Heller, "tapi bagi saya, itu seperti mimpi buruk. Tidak ada yang bisa menjadi Wimbledon di Dublin."
Penolakan juga datang dari Asosiasi Sepak Bola Irlandia (FAI). Mereka khawatir kehadiran klub Premier League di Dublin akan mematikan liga domestik mereka. Tommy Higgins, yang kini menjadi ketua Sligo Rovers, menyesali sikap FAI. "Konsepnya sangat kuat," katanya. "Tim Jack Charlton sedang berada di puncak kejayaan setelah Italia 90 dan USA 94. Kami bisa memiliki tim internasional mini yang bermain di Dublin setiap dua minggu. Saya yakin itu akan mengubah sepak bola di pulau ini, tapi mereka melihat terlalu sempit."
Setelah 18 bulan negosiasi, komunikasi dengan Hammam terputus. Konsorsium ditinggalkan tanpa jawaban, dan pada tahun berikutnya Higgins melihat di bandara bahwa Hammam menjual 80% saham klub kepada investor Norwegia, Bjorn Rune Gjelsten dan Kjell Inge Rokke, dengan nilai £26 juta—lebih dari empat kali lipat tawaran mereka. Rencana stadion di Dublin pun batal, dan kini lahan tersebut menjadi pusat perbelanjaan.
Wimbledon akhirnya pindah ke Milton Keynes pada 2004, memicu lahirnya AFC Wimbledon yang didirikan oleh para penggemar, termasuk Ivor Heller. Klub baru itu memulai dari divisi kesembilan dan kini bermain di League One, kembali ke Plough Lane. Kenny Cunningham menilai kebangkitan AFC Wimbledon sebagai pencapaian terbesar dalam sejarah klub. "Mereka terpukul, jatuh ke divisi bawah, lalu bangkit. Itu sukses setiap kali mereka turun ke lapangan," katanya. Mengenai rencana Dublin, ia menambahkan, "Itu nostalgia, mungkin sedikit penyesalan atas peluang yang hilang. Orang-orang mungkin tertawa sekarang, tapi itu sesuatu yang pasti akan berhasil."
Kisah Dublin Dons menjadi pengingat bahwa sepak bola selalu penuh dengan "andai saja". Di tengah gempuran liga-liga Eropa yang semakin mengglobal, pertanyaan tentang ekspansi lintas batas tetap relevan—terutama bagi negara-negara seperti Indonesia, yang penggemarnya fanatik terhadap Premier League. Apakah suatu saat nanti akan ada klub asing yang bermarkas di Jakarta atau Surabaya? Atau justru liga domestik kita yang harus lebih dulu diperkuat agar tidak tergerus?



