Singapura Uji Coba Operasi Kapal Otonom di Perairan Pelabuhan: Langkah Menuju Maritim Cerdas
Baca dalam 60 detik
- MPA dan Ocean Infinity menandatangani nota kesepahaman untuk menguji operasi maritim otonom dan jarak jauh di perairan pelabuhan Singapura.
- Inisiatif ini termasuk sistem IPOC untuk pemantauan real-time dan sistem pelaporan near miss yang rahasia, meningkatkan keselamatan pelayaran.
- Langkah ini menempatkan Singapura sebagai pionir adopsi teknologi otonom di sektor maritim, dengan potensi dampak bagi Indonesia sebagai negara maritim.

Otoritas Maritim dan Pelabuhan Singapura (MPA) bersama perusahaan teknologi kelautan Ocean Infinity resmi menjalin kerja sama untuk menguji coba operasi kapal otonom dan kendali jarak jauh di perairan pelabuhan Singapura. Nota kesepahaman yang ditandatangani pada Senin (17/8) ini menjadi bagian dari rangkaian inisiatif keselamatan pelayaran yang diluncurkan dalam Singapore Safety@Sea Week ke-13, sebuah ajang yang mempertemukan sekitar 1.500 peserta dari komunitas maritim global.
Kerja sama ini tidak sekadar uji coba teknologi. MPA akan berkontribusi dalam merancang dan mengevaluasi aspek keselamatan operasional, sementara Ocean Infinity membawa pengalaman praktis dari armada robotiknya, termasuk kapal tanpa awak Armada yang telah meraih sertifikasi kepatuhan dari DNV, lembaga klasifikasi terkemuka dunia. Senior Minister of State for Law and Transport, Murali Pillai, menegaskan bahwa kolaborasi ini akan memperdalam pemahaman tentang kapal otonom dan pusat kendali jarak jauh, sekaligus mendukung pengembangan kapabilitas dan eksperimen operasional.
Selain uji coba otonom, MPA juga mengoperasikan sistem Integrated Port Operations Command, Control and Communications (IPOC) yang dikembangkan bersama Defence Science and Technology Agency dan ST Engineering. Sistem ini memadukan data dari berbagai sumber untuk memberikan pandangan real-time kepada petugas pelabuhan, memungkinkan koordinasi operasi yang lebih cepat dan pengambilan keputusan yang lebih tepat. Sementara itu, Singapore Near Miss Reporting System diluncurkan untuk mendorong pelaporan insiden nyaris celaka secara rahasia, dengan model yang mengadopsi program internasional Confidential Human Factors Incident Reporting Programme.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi sinyal penting. Sebagai negara dengan lalu lintas kapal padat di Selat Malaka dan Selat Singapura, adopsi teknologi otonom di pelabuhan tetangga dapat mempengaruhi standar keselamatan dan efisiensi pelayaran di kawasan. Direktur Eksekutif Indonesia National Shipowners Association (INSA), Toto Dirgantoro, menilai bahwa Indonesia perlu mulai mengkaji regulasi dan infrastruktur untuk mendukung teknologi serupa, mengingat potensi peningkatan efisiensi dan pengurangan risiko kecelakaan. "Kita tidak bisa menutup mata pada tren ini. Kolaborasi regional dan harmonisasi standar menjadi kunci," ujarnya.
Murali Pillai dalam pidatonya menyoroti tiga prioritas keselamatan maritim: pemanfaatan teknologi secara bertanggung jawab, kesiapan menghadapi risiko baru, dan menempatkan manusia sebagai pusat keselamatan. Ia juga mengingatkan ancaman terhadap kebebasan navigasi, merujuk pada insiden di Selat Hormuz. "Ketika kebebasan dan keselamatan navigasi terancam, pelaut dan keluarga merekalah yang menanggung dampak kemanusiaan yang nyata," tegasnya. Bagi Singapura, keselamatan maritim bukan isu jauh; sebagai negara kepulauan kecil yang bergantung pada jalur laut terbuka, termasuk Selat Malaka dan Singapura, hal ini fundamental bagi kelangsungan hidup mereka.
Langkah Singapura ini menegaskan posisinya sebagai pusat maritim global yang adaptif terhadap teknologi. Namun, pertanyaan besarnya adalah: akankah negara-negara tetangga, termasuk Indonesia, mampu mengikuti laju inovasi ini? Atau justru akan tertinggal dalam persaingan efisiensi pelabuhan di kawasan? Jawabannya bergantung pada kesiapan regulasi, investasi infrastruktur, dan kemauan politik untuk bertransformasi.



