Zhu Rongji Wafat: Kenangan Reformasi Ekonomi China yang Dibayangi Sensor dan Nostalgia Publik
Baca dalam 60 detik
- Mantan Perdana Menteri China Zhu Rongji, tokoh reformasi ekonomi era 1990-an, meninggal dunia pada usia 97 tahun dan dimakamkan secara kenegaraan di Beijing.
- Pemerintah China membatasi ekspresi duka di media sosial, mengkhawatirkan gelombang nostalgia publik terhadap era reformasi yang bisa menjadi kritik terselubung terhadap kepemimpinan Xi Jinping.
- Kepergian Zhu dan Jiang Zemin menandai berakhirnya era liberalisasi ekonomi, sementara China kini menghadapi perlambatan pertumbuhan dan ketidakpastian yang memicu pertanyaan tentang arah masa depan.

Bendera setengah tiang berkibar di gedung-gedung pemerintahan Beijing, sementara kendaraan keamanan berjaga di jantung ibu kota, saat China bersiap melepas kepergian Zhu Rongji, mantan perdana menteri yang dikenal sebagai arsitek reformasi ekonomi paling berpengaruh. Zhu, yang wafat pekan lalu pada usia 97 tahun, akan dikremasi dalam upacara kenegaraan pada Selasa (14/1).
Zhu menjabat sebagai perdana menteri dari 1998 hingga 2003, periode yang ditandai dengan pertumbuhan ekonomi pesat dan integrasi China ke pasar global. Di bawah kepemimpinannya, China berani menutup perusahaan-perusahaan negara yang merugi, membongkar sistem perumahan lama demi pasar properti komersial, bertahan dari krisis finansial Asia, dan bergabung dengan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) pada 2001. Langkah-langkah ini, meski menyakitkan, dianggap sebagai fondasi keajaiban ekonomi China modern.
Namun, di balik penghormatan resmi, pemerintah China tampak waspada. Media negara menyebut Zhu sebagai "anggota Partai Komunis yang luar biasa" dan "pejuang komunis yang setia", tetapi di dunia maya, narasi duka dibatasi. Sebuah esai karya ekonom Zhao Jian yang mengenang era Zhu sebagai masa ketika orang-orang "miskin secara wajar" tetapi memiliki masa depan yang jelas, dihapus dari WeChat sehari setelah terbit. Zhao menulis tentang langit biru, kehidupan yang lambat, dan kebebasan berpendapat—gambaran yang kontras dengan kondisi sekarang.
Kekhawatiran pemerintah bukan tanpa alasan. Sejarah mencatat bahwa kematian tokoh-tokoh seperti Zhou Enlai pada 1976 dan Hu Yaobang pada 1989 memicu gelombang duka publik yang berubah menjadi protes besar. Kini, kematian Zhu yang terjadi hanya beberapa hari sebelum peringatan seratus tahun kelahiran Jiang Zemin—presiden yang wafat pada 2022—memperkuat rasa nostalgia di kalangan masyarakat China. Banyak yang merindukan era ketika negara tampak bergerak menuju keterbukaan dan kebebasan yang lebih besar.
Kedua pemimpin itu, Zhu dan Jiang, memiliki gaya kepemimpinan yang khas dan dekat dengan rakyat. Zhu, misalnya, pernah menyebut bankir nakal sebagai "orang setengah bodoh" dan menggambarkan tanggul Sungai Yangtze sebagai "rapuh seperti ampas tahu". Humor keringnya juga terkenal, seperti saat konferensi pers 1999 ia menanggapi tuduhan donasi politik ke Partai Demokrat AS dengan sindiran tajam. Gaya ini kontras dengan kepemimpinan Xi Jinping yang lebih terukur dan terkontrol.
Dalam pidato 40 menit pada Senin, Xi Jinping menyerukan partai untuk melanjutkan warisan Jiang Zemin, menegaskan bahwa kepemimpinan saat ini adalah kelanjutan dari proyek politik dan ideologis Jiang. Xi juga memuji tindakan Jiang dalam menindak surat kabar reformis Shanghai pada 1989 yang mendukung demonstrasi pro-demokrasi. Menurut Kerry Brown, profesor kajian China di King's College London, Xi berkomitmen pada "renaissance besar bangsa China" dan berusaha menyatukan narasi sejarah. "Ide bahwa kepemimpinan mereka menawarkan jalan masa depan yang berbeda tidak akan diizinkan untuk mengemuka," ujarnya.
Namun, Xi menghadapi tantangan besar. Pertumbuhan ekonomi China melambat, harga properti merosot, pengangguran kaum muda tinggi, dan output pabrik lesu. Era pertumbuhan dua digit telah berakhir. Bagi banyak keluarga China, duka atas kepergian Zhu dan Jiang adalah duka atas masa ketika kerja keras dijamin membawa perbaikan hidup. Seperti ditulis Zhao Jian, "hidup itu sulit, tetapi kesulitan itu ditopang oleh harapan." Kini, meski material melimpah, banyak yang bertanya, "mengapa kita merasa begitu hampa?"
Pertanyaan itu menggema di tengah transisi China yang penuh ketidakpastian. Akankah narasi resmi mampu meredam nostalgia publik, atau justru memperdalam kerinduan akan masa lalu yang tampak lebih cerah? Bagi Indonesia, dinamika ini relevan mengingat posisi China sebagai mitra dagang utama dan kekuatan regional yang memengaruhi stabilitas ekonomi Asia Tenggara. Perubahan arah kebijakan China, dari liberalisasi ke kontrol negara, akan berdampak pada arus investasi dan hubungan bilateral di masa depan.



