Dari Nol hingga Fenomena: Animasi China Niu Lai Buktikan Daya Tarik di Tengah Gempuran Film Hollywood
Baca dalam 60 detik
- Animasi China 'Niu Lai' yang awalnya dianggap gagal total kini mencetak rekor box office berkat fenomena meme dan rasa penasaran warganet.
- Film yang dibuat oleh dua orang ini menjadi simbol perlawanan terhadap dominasi AI di industri kreatif, memicu diskusi tentang nilai karya handmade.
- Kesuksesan 'Niu Lai' berpotensi mengubah strategi pemasaran film di China dan menginspirasi sineas independen di Asia, termasuk Indonesia.

Animasi China berjudul Niu Lai (Kedatangan Si Lembu) menjelma menjadi kejutan terbesar musim panas ini. Meski sempat dihujat kritikus dan dianggap gagal total, film yang digarap secara manual oleh dua orang ini justru melesat di box office, bahkan di tengah persaingan ketat dengan film Hollywood seperti The Odyssey arahan Christopher Nolan dan Spider-Man: Brand New Day.
Sejak dirilis, Niu Lai menuai kritik pedas. Gaya animasinya yang kasar dan plot yang membingungkan—bermimpi tentang anak sapi dan burung lark yang mengajarkan cinta, keberanian, dan pengorbanan—dianggap tidak layak tayang. Media lokal seperti Beijing News menyebutnya "kaku dan patah-patah", sementara Jiefang Daily menilai produksinya "sangat mentah" dan kontennya "kekanak-kanakan". Alhasil, dalam sepuluh hari pertama, film ini hanya meraup sekitar 7.700 yuan (sekitar Rp17 juta), menjadikannya film animasi terburuk tahun ini.
Namun, akhir pekan kemarin, terjadi pembalikan yang mengejutkan. Berkat viral di media sosial dan budaya meme, penonton berbondong-bondong menonton Niu Lai. Pada Minggu saja, film ini menghasilkan sekitar 5,6 juta yuan (sekitar Rp12,4 miliar) menurut platform tiket Maoyan. Bahkan, Maoyan memprediksi pendapatan kumulatif bisa mencapai 18,4 juta yuan dalam 30 hari. Fenomena ini menjadi ironi, mengingat beberapa film China besar seperti Three Kingdoms: The Beginning justru menunda atau membatalkan rilis karena takut bersaing dengan film Hollywood.
Kesuksesan Niu Lai tidak lepas dari daya tariknya yang "analog"—kontras dengan tren industri yang semakin mengandalkan kecerdasan buatan (AI). China memang tengah gencar mengembangkan AI, dengan startup seperti Moonshot dan DeepSeek yang mengguncang Silicon Valley. Teknologi ini juga telah mengubah industri hiburan China, memungkinkan studio memproduksi film dengan biaya murah dan cepat. Namun, Niu Lai justru dibuat oleh dua orang, Xin Yumeng (sutradara) dan Sun Lifang (penulis skenario), yang mengisi semua suara dan animasi secara manual. Perusahaan produksinya pun, menurut data Qichacha, sebelumnya bergerak di bidang dekorasi interior dan baru terjun ke industri film pada 2021.
Fenomena Niu Lai menarik perhatian para investor, yang bahkan mengaitkannya dengan pasar bullish—istilah untuk kenaikan harga saham yang masif. Namun, analis menilai ini lebih merupakan "mentalitas kawanan" (herd mentality) di kalangan penonton. "Orang-orang penasaran dengan film yang dianggap jelek, lalu jadi ramai dibicarakan. Ini fenomena psikologis yang lazim di era media sosial," ujar seorang pengamat perfilman yang enggan disebut namanya.
Bagi Indonesia, fenomena ini memberikan pelajaran berharga. Industri perfilman Tanah Air yang juga bergulat dengan gempuran film Hollywood dan maraknya konten digital bisa belajar dari Niu Lai. Keaslian dan keunikan karya, meskipun tidak sempurna secara teknis, mampu mencuri perhatian jika didukung oleh strategi pemasaran yang kreatif dan pemanfaatan media sosial. Pertanyaannya, akankah sineas Indonesia berani mengambil risiko serupa? Atau justru akan semakin bergantung pada teknologi AI untuk mengejar ketertinggalan? Waktu yang akan menjawab.



