Drama Kolosal di Keraton Surosowan: Cara Warga Banten Mengenang Pahlawan di HUT ke-81 RI
Baca dalam 60 detik
- Ratusan warga Sukadiri, Serang, menggelar drama kolosal di situs Keraton Surosowan untuk memperkenalkan perjuangan KH Ahmad Khotib dan KH Syam'un kepada generasi muda.
- Acara yang sepenuhnya didanai swadaya ini berhasil menarik 500-600 peserta, menunjukkan kekuatan gotong royong di tengah keterbatasan anggaran.
- Inisiatif serupa berpotensi menjadi model edukasi sejarah berbasis komunitas yang dapat direplikasi di daerah lain untuk memperkuat identitas lokal.

Di tengah hiruk-pikuk perayaan kemerdekaan yang kerap didominasi seremonial, sekelompok pemuda di lingkungan Sukadiri, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, memilih jalan berbeda: menggelar drama kolosal di situs bersejarah Keraton Surosowan, Banten Lama. Lebih dari sekadar upacara bendera, pementasan ini menjadi medium untuk menghidupkan kembali kisah perjuangan lokal yang nyaris terlupakan, sekaligus menguji seberapa jauh semangat gotong royong masih bertahan di masyarakat urban.
Ketua Sukadiri Squad, Miftahullah, menuturkan bahwa kegiatan ini merupakan agenda tahunan yang digarap secara mandiri oleh warga, tanpa bergantung pada anggaran pemerintah. Konsep drama kolosal dipilih bukan tanpa alasan; ia ingin generasi muda mengenal sosok KH Ahmad Khotib dan KH Syam'un, dua ulama Banten yang disebut-sebut sebagai pelopor penyebaran berita kemerdekaan di wilayah tersebut. "Anak muda sekarang perlu tahu siapa pahlawan sebenarnya dari daerahnya sendiri," ujarnya, menekankan pentingnya narasi sejarah yang dekat dengan keseharian mereka.
Alur cerita yang diangkat menggambarkan empat pemuda utusan Bung Karno yang tiba di Banten untuk menyampaikan mandat kemerdekaan. Mereka kemudian bertemu dengan kedua tokoh lokal tersebut, yang lantas membantu menyebarluaskan kabar proklamasi ke tengah masyarakat. Dengan latar budaya Banten tempo dulu, pementasan ini tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga ruang refleksi tentang bagaimana sejarah nasional dan lokal saling berkelindan. Setelah pertunjukan, warga melanjutkan dengan karnaval keliling Jalan Baru, menambah semarak suasana.
Persiapan yang memakan waktu sekitar satu bulan itu bukannya tanpa hambatan. Miftahullah mengakui adanya kendala teknis, terutama soal pendanaan dan perizinan. Namun, partisipasi 500 hingga 600 warga membuktikan bahwa antusiasme mampu mengalahkan keterbatasan. Aliyudin, salah seorang warga yang hadir, mengungkapkan kebanggaannya terhadap inisiatif para pemuda di lingkungannya. "Semuanya patungan, tapi acaranya meriah. Anak-anak tidak hanya terhibur, tapi juga belajar sejarah," katanya, menggambarkan kepuasan yang sulit diukur dengan materi.
Fenomena ini menarik dicermati di tengah diskursus tentang menurunnya rasa kebersamaan di perkotaan. Inisiatif Sukadiri menunjukkan bahwa komunitas masih mampu mengorganisir diri untuk tujuan kolektif, sekaligus menjadi sarana pendidikan non-formal yang efektif. Drama kolosal, dalam konteks ini, bukan sekadar hiburan, melainkan instrumen untuk menanamkan nilai kepahlawanan yang kontekstual. Jika ditilik lebih jauh, pendekatan ini bisa menjadi alternatif bagi sekolah atau pemerintah daerah dalam menyampaikan materi sejarah yang kerap dianggap membosankan.
Keberhasilan acara ini juga menyiratkan potensi pariwisata budaya yang belum tergarap optimal. Keraton Surosowan, yang selama ini lebih dikenal sebagai objek wisata religi, bisa dihidupkan melalui event-event serupa yang melibatkan masyarakat. Namun, tantangan terbesar adalah keberlanjutan. Tanpa dukungan finansial yang stabil, inisiatif semacam ini rentan berhenti di tengah jalan. Pertanyaannya, akankah pemerintah daerah atau pihak swasta tergerak untuk memfasilitasi kegiatan yang lahir dari akar rumput ini, atau ia akan tetap bertahan sebagai perayaan tahunan yang mengandalkan semangat sukarela?



