Karhutla 2026: Pemulihan Hutan Butuh Waktu Hingga 100 Tahun, Ilmuwan Ingatkan Risiko Kebakaran Berulang
Baca dalam 60 detik
- Luas lahan terbakar di enam provinsi prioritas mencapai 48.889,69 hektare hingga 9 Agustus 2026, dengan Kalimantan Barat sebagai wilayah terparah.
- Para ahli dari IPB, UI, dan BRIN sepakat bahwa pemulihan ekosistem hutan tropis pasca-kebakaran bisa memakan waktu 50–100 tahun, bahkan lebih lama jika api kembali melalap.
- Riset global menunjukkan 87% vegetasi terbakar pulih produktivitasnya dalam dua tahun, namun pemulihan ekologis sejati—termasuk keanekaragaman hayati—membutuhkan waktu jauh lebih panjang.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah Indonesia pada musim kemarau 2026 meninggalkan luka yang jauh lebih dalam dari sekadar hamparan arang: para ilmuwan memperingatkan bahwa ekosistem yang terbakar parah bisa membutuhkan waktu hingga satu abad untuk pulih, dan upaya restorasi tanpa pencegahan kebakaran berulang hanya akan menjadi sia-sia.
Data Kementerian Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Kemenko Polkam) mencatat luas lahan terbakar di enam provinsi prioritas mencapai 48.889,69 hektare sejak Januari hingga 9 Agustus 2026. Kalimantan Barat menjadi wilayah dengan kerusakan terluas, mencapai 28.680,47 hektare, disusul Riau dengan 15.551,76 hektare dan Kalimantan Tengah seluas 3.069,52 hektare. Kebakaran juga melalap kawasan konservasi, termasuk 899,35 hektare di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) dan 5,8 hektare di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP).
Di tengah upaya pemadaman yang melibatkan 43 helikopter dan 15 pesawat fixed-wing, serta operasi modifikasi cuaca di Riau, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah, para ahli menggarisbawahi bahwa pemulihan ekosistem adalah pertaruhan jangka panjang. Prof. Bambang Hero Saharjo, guru besar kehutanan IPB, menyatakan bahwa beberapa kawasan hutan memerlukan waktu hingga 100 tahun untuk pulih, sementara pemulihan biomassa butuh 40–50 tahun. Prof. Luthfiralda Sjahfirdi dari Universitas Indonesia memperkirakan hutan tropis yang rusak parah butuh setengah hingga satu abad untuk mendekati kondisi semula, dan akan lebih lama lagi jika kebakaran terjadi berulang.
Prof. Jatna Supriatna, ahli konservasi UI, menekankan bahwa durasi pemulihan sangat bergantung pada tingkat kerusakan, jenis ekosistem, kondisi tanah, dan ketersediaan sumber benih. "Pada ekosistem yang masih relatif tangguh, tanda-tanda pemulihan mulai terlihat dalam beberapa tahun. Namun untuk hutan yang rusak berat, apalagi yang terbakar berulang kali, pemulihannya bisa memakan waktu sangat panjang, bahkan hingga puluhan tahun," ujarnya. Peneliti BRIN, Prof. Hendra Gunawan, menambahkan bahwa jarak lokasi terbakar dengan sumber benih alami menjadi faktor kunci; risetnya di Gunung Ciremai menunjukkan regenerasi cepat ketika hutan sumber biji berada dekat, namun ia juga mengingatkan bahaya invasi spesies asing seperti kaliandra dan Acacia decurrens yang justru mendominasi area terdegradasi.
Riset ilmiah dalam satu dekade terakhir memperkuat kekhawatiran tersebut. Studi di lahan gambut Kalimantan Tengah yang terbit di PNAS (2024) menemukan bahwa hutan bekas kebakaran memiliki kerapatan pohon lebih rendah dan didominasi vegetasi non-hutan, dengan regenerasi alami yang rapuh dan mudah sirna jika terbakar lagi. Sementara itu, studi global di Nature Geoscience (2024) menunjukkan 87% vegetasi terbakar kembali produktif dalam dua tahun, tetapi para peneliti membedakan antara "produktivitas hijau"—yang cepat kembali melalui tumbuhan pionir—dengan "pemulihan ekologis sejati" yang mencakup keanekaragaman hayati dan struktur kanopi. Hutan berdaun jarum dan sabana tercatat paling lambat pulih strukturnya.
Di Indonesia, dampak karhutla terhadap ekosistem gambut juga menjadi perhatian. Penelitian di Kalimantan Selatan (2024) menunjukkan kandungan karbon di area bekas kebakaran meningkat 22% dalam 5–7 tahun, tetapi sifat fisik dan kemampuan retensi air tanah gambut membutuhkan waktu lebih lama untuk stabil. Para ahli menegaskan bahwa indikator pemulihan sejati meliputi regenerasi tumbuhan alami, peningkatan tutupan kanopi, perbaikan struktur tanah, kembalinya fauna kunci seperti Elang Jawa dan Macan Tutul, serta stabilnya kualitas air. "Pemulihan sejati bukan sekadar membuat pemandangan kembali hijau, melainkan mengembalikan fungsi ekosistem agar berjalan normal," tegas Jatna.
Untuk mencegah bencana berulang, para ilmuwan merekomendasikan penghentian gangguan lanjutan di area terdampak, restorasi aktif dengan pohon asli setempat, serta pengawasan yang melibatkan korporasi, LSM, dan masyarakat lokal. Indonesia sebenarnya telah memiliki peta kerentanan karhutla yang mengidentifikasi kawasan gambut kering dan area pembukaan lahan baru sebagai titik rawan. Namun, tanpa komitmen politik dan penegakan hukum yang konsisten, upaya pemulihan yang mahal dan panjang ini akan terus terancam oleh api yang datang kembali.
Ketika operasi pemadaman akhirnya mereda dan kabut asap mulai menipis, pertanyaan yang lebih mendasar menanti jawaban: apakah Indonesia mampu memutus siklus kebakaran tahunan, atau akankah hutan-hutan yang baru saja mulai bertunas kembali menjadi korban ambisi ekonomi jangka pendek? Jawabannya akan menentukan apakah negeri ini mewariskan hutan yang hidup atau hanya abu bagi generasi mendatang.



