Zuckerberg Akui Pengembangan AI Agent Berjalan Lebih Lambat dari Target
Baca dalam 60 detik
- Meta menunda ekspektasi percepatan AI agent setelah empat bulan terakhir tidak menunjukkan kemajuan signifikan.
- Restrukturisasi besar-besaran yang memangkas 10% tenaga kerja dan memindahkan 7.000 karyawan ke tim AI belum membuahkan hasil optimal.
- Investasi AI Meta yang mencapai $145 miliar tahun ini baru akan terasa dampaknya dalam tiga hingga enam bulan ke depan.

Mark Zuckerberg, bos Meta, secara terbuka mengakui bahwa pengembangan sistem kecerdasan buatan (AI) yang disebut AI agent berjalan lebih lambat dari perkiraan. Pernyataan itu disampaikan dalam sebuah forum internal perusahaan yang direkam dan didengar oleh Reuters, Kamis (2/7).
Dalam forum tersebut, Zuckerberg menilai bahwa restrukturisasi besar yang dilakukan Meta, termasuk pemutusan hubungan kerja massal, tidak berjalan mulus seperti yang diharapkan. Eksekutif Meta, menurut dia, salah memperhitungkan waktu perubahan organisasi yang dilakukan sejak awal tahun ini.
Pada Mei lalu, Meta memangkas sekitar 10% tenaga kerja global dan memindahkan sekitar 7.000 karyawan ke tim yang fokus pada AI. Langkah ini memicu penolakan dari karyawan dan menimbulkan kekhawatiran terkait moral kerja. Namun, Zuckerberg menegaskan bahwa tidak akan ada PHK perusahaan secara menyeluruh tahun ini, meskipun sebagian pekerja masih skeptis.
Zuckerberg menjelaskan bahwa pengembangan AI agentโsistem otomatis yang dapat menjalankan tugas atas nama penggunaโdalam empat bulan terakhir tidak mengalami percepatan seperti yang diantisipasi. "Lintasan pengembangan agen dalam setidaknya empat bulan terakhir belum benar-benar berakselerasi seperti yang kami harapkan," ujarnya. Ia menambahkan bahwa taruhan perusahaan pada struktur baru "belum membuahkan hasil."
Menurut Zuckerberg, saat perencanaan restrukturisasi dimulai pada Januari dan Februari, para eksekutif Meta sangat optimistis terhadap alat seperti Claude Code dari startup AI Anthropic. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa optimisme itu belum terwujud.
Di sisi lain, Meta tetap menggelontorkan dana besar untuk infrastruktur AI. Perusahaan diperkirakan menghabiskan hingga $145 miliar tahun ini, bagian dari belanja raksasa teknologi yang totalnya lebih dari $700 miliar. Zuckerberg optimistis bahwa dalam tiga hingga enam bulan ke depan, Meta akan mulai merasakan manfaat signifikan dari investasi tersebut.
Dalam forum yang sama, Chief Technology Officer Meta, Andrew Bosworth, mengungkapkan bahwa investigasi atas insiden keamanan data terkait perangkat lunak pelacak mouse karyawan menunjukkan tidak ada data pribadi yang digunakan dalam pelatihan AI. Meta sempat menghentikan program tersebut pada bulan lalu setelah ditemukan adanya paparan data sensitif. Jika program diaktifkan kembali, Bosworth mengatakan akan bersifat sukarela (opt-in).
Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi pengingat bahwa investasi AI raksasa teknologi belum menjamin hasil instan. Perusahaan seperti Meta harus bersabar menunggu realisasi efisiensi dan inovasi yang dijanjikan. Sementara itu, isu privasi data karyawan yang diungkap dalam kasus pelacakan mouse juga relevan dengan regulasi perlindungan data di Indonesia yang semakin ketat.
Pertanyaan yang kini mengemuka: akankah Meta mampu mengejar ketertinggalan pengembangan AI agent dalam waktu dekat, atau justru akan semakin tertinggal dari pesaing seperti Google dan Microsoft yang juga gencar berinvestasi di bidang serupa?



