Longsor di Geoje Tewaskan Satu Warga, Korea Selatan Siaga Banjir dan Evakuasi Massal
Baca dalam 60 detik
- Hujan deras memicu longsor di Geoje, Korea Selatan, menewaskan satu orang dan melukai tiga lainnya.
- Otoritas setempat mengevakuasi sekitar 100 warga dan menyelamatkan 20 orang yang terjebak akibat banjir dan tanah longsor.
- Curah hujan mencapai 800 mm sejak Sabtu, memicu peringatan dini dan kekhawatiran akan bencana susulan di wilayah selatan.

Longsor yang dipicu hujan deras melanda sebuah kompleks apartemen di Geoje, Provinsi Gyeongsang Selatan, Korea Selatan, pada Senin (17/8), menewaskan satu orang dan melukai tiga lainnya. Tim penyelamat berhasil mengevakuasi tiga warga yang terkubur di lantai dasar bangunan, namun satu di antaranya dinyatakan meninggal dunia di rumah sakit.
Bencana ini terjadi di tengah cuaca ekstrem yang melanda wilayah selatan Semenanjung Korea sejak akhir pekan. Badan Meteorologi Korea (KMA) mencatat curah hujan hingga 800 milimeter di sejumlah titik, disertai petir dan angin kencang. Intensitas hujan yang luar biasa ini memicu banjir bandang dan tanah longsor di beberapa kota pesisir, termasuk Geoje yang berjarak sekitar 300 kilometer dari Seoul.
Di Geoje, sungai-sungai meluap dan jalan-jalan utama terendam, melumpuhkan lalu lintas dan membuat warga terisolasi. Otoritas setempat melaporkan sekitar 100 warga dievakuasi ke tempat yang lebih aman karena ancaman longsor susulan, sementara tim penyelamat berupaya menjangkau 20 warga yang masih terjebak. Kementerian Keselamatan dan Administrasi Publik Korea Selatan mengonfirmasi operasi penyelamatan masih berlangsung hingga Senin sore.
Peristiwa ini menjadi pengingat akan kerentanan kawasan Asia Timur terhadap perubahan iklim. Korea Selatan, yang sebelumnya jarang dilanda hujan ekstrem sepanjang ini, kini menghadapi pola cuaca yang semakin tidak menentu. Para ahli meteorologi menilai intensitas hujan yang meningkat dalam beberapa tahun terakhir merupakan dampak langsung dari pemanasan global, yang membuat sistem cuaca menjadi lebih ekstrem dan sulit diprediksi.
Bagi Indonesia, bencana ini relevan mengingat kondisi geografis yang serupa. Wilayah kepulauan dengan topografi berbukit dan curah hujan tinggi membuat Indonesia juga rentan terhadap tanah longsor dan banjir bandang. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat ratusan kejadian longsor setiap tahun, terutama di musim hujan. Pengalaman Korea Selatan dalam manajemen evakuasi dan sistem peringatan dini dapat menjadi pelajaran berharga bagi Indonesia untuk memperkuat mitigasi bencana.
Menurut analis kebencanaan dari Universitas Indonesia, Dr. Andi Eka Sakya, respons cepat otoritas Korea Selatan dalam mengevakuasi warga menunjukkan pentingnya koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah. "Mereka memiliki sistem peringatan dini yang terintegrasi dengan baik, serta prosedur evakuasi yang jelas. Ini yang perlu kita tiru," ujarnya. Namun, ia juga mengingatkan bahwa perubahan iklim membuat pola cuaca semakin ekstrem, sehingga kapasitas adaptasi harus terus ditingkatkan.
Pemerintah Korea Selatan telah mengerahkan personel tambahan dan peralatan berat untuk mempercepat pencarian korban serta membersihkan material longsor. Sementara itu, KMA memperkirakan hujan masih akan berlanjut hingga Selasa, meningkatkan risiko bencana susulan. Pertanyaannya, apakah sistem peringatan dini yang ada cukup untuk melindungi warga dari ancaman yang semakin sering terjadi? Atau, apakah negara-negara di kawasan ini perlu berinvestasi lebih besar dalam infrastruktur tahan iklim? Jawabannya akan menentukan kesiapan kita menghadapi musim hujan yang semakin tidak ramah.



