Badai Lala Lumpuhkan Listrik Hawaii: 180.000 Pelanggan Terdampak, 100 Rumah Rusak
Baca dalam 60 detik
- Lebih dari 183.000 pelanggan listrik di Hawaii masih padam hingga Minggu sore akibat Badai Lala yang telah melemah menjadi badai tropis.
- Setidaknya 100 rumah dilaporkan rusak dan satu orang tewas dalam kecelakaan terkait badai, sementara 117 warga mengungsi di tempat penampungan.
- Badai diperkirakan meninggalkan Hawaii Senin pagi, namun pemulihan infrastruktur listrik diperkirakan memakan waktu lebih lama.

Lebih dari 180.000 pelanggan listrik di Hawaii masih belum menikmati aliran listrik hingga Minggu (16/8) sore, menyusul terjangan Badai Lala yang kini telah melemah menjadi badai tropis. Badai yang sempat menggebrak Pulau Besar (Big Island) itu meninggalkan jejak kerusakan yang signifikan, termasuk setidaknya 100 rumah rusak dan satu korban jiwa.
Berdasarkan data poweroutage.us, sebanyak 183.123 pelanggan di seluruh Hawaii masih mengalami pemadaman pada pukul 15.30 waktu setempat. Di Oahu, pulau terpadat, jumlah pemadaman memang turun dari lebih dari 220.000 menjadi sekitar 130.000 pada Minggu pagi, sebagaimana diungkapkan pejabat negara bagian dalam konferensi pers. Meski ada perbaikan, pemulihan penuh masih jauh dari selesai.
Gubernur Hawaii Josh Green mengonfirmasi bahwa laporan kerusakan rumah mencapai angka 100 unit. Sementara itu, Badan Cuaca Nasional (National Weather Service) mencatat dua rumah hanyut terbawa arus banjir. Video yang dirilis Departemen Transportasi Hawaii memperlihatkan air bah yang menenggelamkan ruas-ruas jalan, menegaskan betapa dahsyatnya dampak badai ini.
Badai Lala, yang pada puncaknya sempat mencapai status badai (hurricane), kini bergerak ke arah barat menuju barat daya Kauai County dengan kecepatan sekitar 32 kilometer per jam. Kecepatan angin maksimumnya tercatat 105 kilometer per jam, sedikit di bawah ambang batas badai sebesar 117 kilometer per jam, menurut Pusat Badai Nasional (National Hurricane Center). Peringatan badai tropis masih berlaku untuk Kauai County, sementara peringatan untuk Maui dan Oahu telah dicabut lebih awal pada Minggu.
Proyeksi lembaga meteorologi menunjukkan bahwa jika badai tetap berada di jalur yang diperkirakan, ia akan meninggalkan wilayah kepulauan Hawaii pada Senin pukul 08.00 pagi. Namun, warga tetap diimbau untuk waspada. Seorang pejabat negara bagian menyebut banjir bandang yang terjadi "belum pernah kami lihat sebelumnya". Setidaknya satu orang dilaporkan tewas dalam kecelakaan terkait kendaraan, dan pejabat mendesak warga untuk tetap tinggal di dalam rumah. "Ini bukan hari untuk pergi ke pantai," ujar seorang pejabat dalam konferensi pers Minggu pagi.
Perusahaan listrik Hawaiian Electric telah memperingatkan sejak Sabtu malam bahwa upaya perbaikan terhambat oleh angin kencang yang menumbangkan pohon dan hujan yang membanjiri jalan. Sekitar 117 orang masih bertahan di tempat penampungan hingga Minggu pagi. Meskipun semua bandara telah dibuka kembali, pejabat negara bagian menyarankan para pelancong untuk memeriksa jadwal penerbangan mereka ke maskapai masing-masing.
Bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana hidrometeorologi. Dengan letak geografis yang rawan gempa, tsunami, dan banjir, Indonesia perlu terus memperkuat infrastruktur listrik dan sistem peringatan dini. Badai Lala menunjukkan bahwa bahkan negara maju seperti Amerika Serikat pun bisa kewalahan menghadapi kekuatan alam. Pertanyaan yang mengemuka: apakah Indonesia sudah cukup tangguh menghadapi skenario serupa, terutama di daerah-daerah terpencil yang rentan terisolasi?



