Bitcoin Tembus US$61 Ribu, Target 21Shares ke US$100 Ribu pada 2026
Baca dalam 60 detik
- Bitcoin melonjak 4% ke atas US$62.000 setelah data tenaga kerja AS mengecewakan, memicu spekulasi pelonggaran kebijakan moneter.
- Riset 21Shares mematok target konservatif US$100.000 untuk akhir 2026, didukung pertumbuhan jumlah dompet dan sentimen hati-hati.
- Tekanan jual pendek senilai US$114 juta menguap dalam 24 jam, tetapi aliran dana institusional masih minim untuk dorongan berkelanjutan.

Bitcoin mencatat lonjakan signifikan ke level tertinggi dalam sepekan, menembus US$61.000 dan sempat menyentuh US$62.000, didorong oleh perubahan nada dovish dari pejabat Federal Reserve serta data ketenagakerjaan AS yang lebih lemah dari perkiraan. Pergerakan ini terjadi di tengah pasar kripto yang relatif datar, menandakan bahwa faktor makroekonomi kembali menjadi katalis utama.
Laporan nonfarm payrolls Juni hanya mencatat penambahan 57.000 lapangan kerja, jauh di bawah ekspektasi pasar yang berada di kisaran 200.000. Angka ini memicu ekspektasi bahwa The Fed akan menahan diri untuk menaikkan suku bunga lebih lanjut, bahkan membuka peluang pelonggaran kebijakan. Komentar Kevin Warsh yang menyebut risiko inflasi telah mereda semakin memperkuat sentimen positif terhadap aset berisiko seperti Bitcoin.
Volume perdagangan Bitcoin melonjak 15% dalam 24 jam terakhir menjadi US$42 miliar, menunjukkan minat beli yang kembali menggeliat. Namun, analis mencatat bahwa reli ini lebih banyak didorong oleh likuidasi posisi jual (short squeeze) daripada aliran modal baru dari investor institusi. Data menunjukkan lebih dari US$114 juta posisi short Bitcoin terlikuidasi dalam sehari, memaksa pembelian besar-besaran dari pedagang yang kelebihan leverage.
Dalam riset terbarunya, perusahaan riset kripto 21Shares menyatakan sikap "optimisme hati-hati" terhadap prospek Bitcoin hingga paruh kedua 2026. Target harga dasar mereka di akhir tahun adalah pemulihan menuju US$100.000, bukan menembus rekor tertinggi baru. "Jumlah dompet yang menyimpan Bitcoin terus bertambah," tulis 21Shares dalam catatan risetnya. Target ini lebih rendah dibandingkan proyeksi bullish lainnya, namun tetap memberikan sinyal positif bagi investor yang menunggu kepastian arah pasar.
Dari sisi teknikal, level psikologis US$60.000 berhasil direbut kembali, yang merupakan sinyal bullish awal. Indeks kekuatan relatif (RSI) berada di angka 62, menunjukkan masih ada ruang untuk penguatan lebih lanjut sebelum memasuki wilayah jenuh beli. Level support terdekat berada di US$60.788 (Fibonacci 50%), sementara resistance berikutnya membentang antara US$62.800 dan US$63.800.
Bagi investor Indonesia, pergerakan ini menjadi pengingat bahwa Bitcoin masih sangat sensitif terhadap data makro AS. Meskipun tidak ada korelasi langsung dengan pasar domestik, sentimen global kerap memengaruhi harga aset kripto yang diperdagangkan di bursa lokal. Regulasi aset kripto di Indonesia yang terus berkembang, termasuk rencana pembentukan bursa kripto resmi, dapat menjadi faktor tambahan yang memengaruhi minat investor tanah air.
Kendati reli terbaru menggembirakan, para analis mengingatkan bahwa pemulihan ini masih bersifat tentatif. Arus keluar dana dari ETF Bitcoin spot masih berlanjut, menunjukkan bahwa investor institusi besar belum sepenuhnya kembali. Jika Bitcoin gagal bertahan di atas US$59.500, risiko koreksi menuju level terendah tahun ini di US$57.735 kembali terbuka. Sebaliknya, penutupan di atas US$62.000 akan mengonfirmasi momentum bullish jangka pendek.
Pertanyaan besarnya kini: akankah data inflasi AS berikutnya dan keputusan suku bunga The Fed pada akhir Juli mampu mempertahankan optimisme ini, atau justru mengembalikan tekanan jual? Pasar akan mencermati setiap isyarat dari pertemuan bank sentral AS pekan depan.



