Dari Rp975.000 Jadi Rp104 Triliun: Kisah Rakesh Jhunjhunwala, 'Buffett India' yang Mengguncang Pasar
Baca dalam 60 detik
- Rakesh Jhunjhunwala memulai investasi dengan modal setara Rp975.000 pada 1985 dan meninggalkan kekayaan US$5,8 miliar saat wafat di 2022.
- Strateginya menggabungkan analisis fundamental, investasi awal di perusahaan publik seperti Metro Brands dan Nazara Technologies, serta taruhan berani di sektor penerbangan lewat Akasa Air.
- Kisahnya menjadi pengingat bagi investor Indonesia bahwa disiplin dan keberanian mengambil risiko terukur dapat melipatgandakan modal kecil dalam jangka panjang.

Modal awal kurang dari satu juta rupiah—tepatnya Rp975.000 pada 1985—berhasil ditransformasikan menjadi kekayaan bersih US$5,8 miliar atau sekitar Rp104,4 triliun oleh mendiang Rakesh Jhunjhunwala, investor legendaris yang dijuluki "Warren Buffett dari India". Kisah ini bukan sekadar dongeng sukses, melainkan peta jalan bagi investor ritel yang ingin memahami kekuatan disiplin, analisis, dan kesabaran di pasar modal.
Lahir di Mumbai pada 5 Juli 1960, Jhunjhunwala tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan bursa saham. Ayahnya, seorang petugas pajak, sering berdiskusi tentang pergerakan pasar dengan koleganya. Rasa penasaran itulah yang mendorongnya bertanya mengapa harga saham naik-turun setiap hari. Jawaban sang ayah sederhana: "Baca koran, berita yang membuat harga saham bergerak." Namun, sebelum terjun penuh, ia diminta menyelesaikan pendidikan sarjana. Jhunjhunwala lulus dari Sydenham College pada 1985 sebagai akuntan terdaftar.
Memasuki bursa di usia 25 tahun, ia hanya bermodalkan tabungan pribadi. Indeks Sensex saat itu berada di level 150 poin—bandingkan dengan posisi saat ini yang melesat ke sekitar 58.500 poin. Keuntungan besar pertama diraih pada 1986 saat ia membeli 5.000 saham Tata Tea seharga Rp8.385 per lembar dan menjualnya tiga bulan kemudian di harga Rp27.885, meraih untung tiga kali lipat. Langkah ini menunjukkan kemampuannya membaca momentum dan fundamental perusahaan.
Meski dikenal berhati-hati terhadap startup-era baru, dalam satu dekade terakhir Jhunjhunwala mulai meraup keuntungan besar dari investasi ekuitas swasta yang melantai di bursa. Salah satu yang paling menonjol adalah kepemilikan 14% saham Metro Brands, pengecer alas kaki yang go public pada Desember 2021 dan kini bernilai lebih dari US$400 juta. Ia juga menjadi pendukung awal Nazara Technologies (gaming) dan Star Health and Allied Insurance Company, keduanya tercatat di bursa tahun lalu.
Taruhan paling berani justru datang saat pandemi Covid-19 melanda. Di tengah sektor penerbangan yang terpuruk, Jhunjhunwala menginvestasikan US$35 juta untuk mengambil 40% saham di Akasa Air, maskapai berbiaya rendah yang memulai penerbangan perdananya pada Agustus 2022. Langkah ini dianggap nekat oleh banyak pihak, namun ia melihat peluang konsolidasi jangka panjang. Sayangnya, ia tidak sempat menyaksikan hasil investasinya karena meninggal dunia pada Agustus 2022 akibat serangan jantung mendadak di sebuah rumah sakit Mumbai.
Di luar dunia investasi, Jhunjhunwala dikenal sebagai filantropis dan penggemar gaya hidup mewah—gemar menikmati single malt, cerutu, dan membiayai film Bollywood seperti English Vinglish serta Ki & Ka. Ia juga mendirikan yayasan amal dan berjanji menyumbangkan 25% kekayaannya semasa hidup. Universitas Ashoka, sekolah seni liberal tempat ia menjadi salah satu pendiri dan wali, menerima sumbangan besar darinya dan dijadwalkan meluncurkan Sekolah Ekonomi dan Keuangan Rakesh Jhunjhunwala.
Bagi investor Indonesia, kisah Jhunjhunwala menawarkan pelajaran berharga: modal kecil bukanlah halangan jika diimbangi dengan riset mendalam, kesabaran, dan keberanian mengambil risiko pada sektor yang sedang tidak populer. Pertanyaannya, mampukah investor ritel Tanah Air meniru jejaknya di tengah volatilitas pasar yang kian tinggi?



