Investor Nigeria Kehilangan Rp 5,2 Triliun dalam Sepekan: Aksi Ambil Untung Hantam Pasar Saham
Baca dalam 60 detik
- Indeks utama Bursa Efek Nigeria (NGX) ambles 1,21% dalam sepekan, menghapus kapitalisasi pasar senilai 1,80 triliun naira atau setara Rp 5,2 triliun.
- Tekanan jual merata di seluruh sektor, dengan sektor barang industri, barang konsumen, dan minyak & gas menjadi yang terpuruk akibat aksi ambil untung investor.
- Volume transaksi justru melonjak 64%, menandakan investor aktif merombak portofolio di tengah sentimen negatif dan imbal hasil obligasi yang menarik.

Investor di Bursa Efek Nigeria (NGX) kehilangan kekayaan hingga 1,80 triliun naira (sekitar Rp 5,2 triliun) dalam sepekan terakhir, setelah aksi ambil untung besar-besaran menekan indeks utama dan menghapus keuntungan yang telah terakumulasi sejak awal tahun.
Indeks Harga Saham Gabungan NGX (All-Share Index) ditutup di level 229.240,34 poin pada akhir pekan, turun 1,21% secara mingguan. Meskipun pada sesi terakhir terjadi reli tipis sebesar 2,19%, pemulihan itu tidak cukup untuk menutup kerugian yang terjadi sebelumnya. Kapitalisasi pasar pun menyusut menjadi 147,10 triliun naira, dari sebelumnya 148,90 triliun naira.
Menurut catatan Cowry Asset Management Limited, jumlah saham yang diperdagangkan melonjak 64,38% menjadi 3,82 miliar lembar, dengan nilai transaksi mencapai 154,58 miliar naira. Lonjakan volume ini menunjukkan bahwa investor tidak sekadar menjual, tetapi juga aktif merombak portofolio di tengah ketidakpastian. Namun, rasio pasar tetap lemah—hanya 21 saham yang menguat berbanding 57 yang melemah—menandakan tekanan jual masih dominan.
Seluruh sektor utama tercatat negatif. Sektor barang industri menjadi yang terparah dengan penurunan 4,93%, dipicu aksi jual besar-besaran pada saham MEYER, Lafarge Africa, dan Dangote Cement. Sektor barang konsumen menyusut 4,56% akibat tekanan pada McNichols, Honeywell Flour Mills, Unilever Nigeria, dan NASCON Allied Industries. Sektor minyak dan gas terkoreksi 4,34% meskipun Oando dan Japaul Gold mencatat kenaikan. Sektor perbankan turun 3,72% setelah saham Zenith Bank, GTCO, Jaiz Bank, dan Fidelity Bank dilego, sementara sektor asuransi melemah 2,52%.
Di sisi lain, beberapa saham justru menonjol. AIRTELAFRICA melesat 21,0%, disusul REGALINS (+20,3%), UPDC (+12,3%), DANGCEM (+7,8%), dan SUNUASSUR (+7,5%). Sebaliknya, INTENEGINS menjadi yang paling tertekan dengan anjlok 18,8%, diikuti MCNICHOLS (-18,6%), UPL (-17,5%), RTBRISCOE (-14,0%), dan UPDCREIT (-13,0%).
Analis Cowry Asset Management memperkirakan pekan depan pasar masih akan bearish. “Investor terus mengunci keuntungan setelah kinerja year-to-date yang kuat. Aksi ambil untung kemungkinan berlanjut, terutama pada saham berkapitalisasi besar dan yang baru saja mengalami apresiasi. Suku bunga tinggi dan imbal hasil obligasi yang menarik juga berpotensi mengalihkan dana dari ekuitas,” tulis mereka dalam catatan riset.
Bagi investor Indonesia, kondisi ini menjadi pengingat akan risiko konsentrasi di pasar yang sedang dalam fase koreksi setelah reli panjang. NGX mencatat return year-to-date 47,31% sebelum koreksi—angka yang menggiurkan namun rawan aksi ambil untung. Dengan likuiditas yang tetap tinggi, peluang masuk kembali bisa muncul jika fundamental emiten masih solid. Namun, tekanan dari suku bunga dan daya tarik instrumen pendapatan tetap patut diwaspadai.
Ke depan, pergerakan pasar akan sangat bergantung pada rilis laporan keuangan emiten dan data makroekonomi Nigeria. Apakah investor akan kembali percaya diri atau justru memperpanjang aksi jual? Jawabannya akan terlihat dalam beberapa pekan mendatang.



