Di Seberang Parkir Piala Dunia, Bisbol Menyapa: MLB Manfaatkan Momen Global
Baca dalam 60 detik
- MLB menjadi satu-satunya liga olahraga utama AS yang berlangsung selama Piala Dunia 2026, menarik perhatian penggemar sepak bola global.
- Tim Kansas City Royals memanfaatkan lokasi stadion yang berbagi lahan parkir dengan venue Piala Dunia untuk mengundang penggemar asing menikmati pertandingan bisbol.
- Tantangan terbesar MLB adalah mengubah kunjungan sekali menjadi minat jangka panjang, mengingat perbedaan ritme permainan yang signifikan dengan sepak bola.

Di Kansas City, para penggemar Piala Dunia yang berjalan menuju stadion pertandingan disambut oleh pemandangan yang tak asing: Kauffman Stadium, markas Kansas City Royals dari Major League Baseball (MLB). Hanya dipisahkan oleh lahan parkir, dua dunia olahraga bertemu, menawarkan pengalaman unik bagi pengunjung internasional yang ingin merasakan budaya olahraga Amerika.
MLB menjadi satu-satunya liga utama AS yang berjalan sepanjang turnamen Piala Dunia 2026. NBA Finals dan Stanley Cup telah usai, sementara NFL belum dimulai hingga September. Hal ini memberi MLB kesempatan langka untuk menjadi etalase olahraga AS bagi para penggemar sepak bola dari seluruh dunia. Semua 11 kota tuan rumah Piala Dunia di AS memiliki tim MLB, dan Kansas City menjadi contoh paling gamblang dari persilangan ini.
Presiden Operasi Bisnis Royals, Cullen Maxey, menyatakan keterbukaan untuk menyambut dunia. "Kami berbagi lahan parkir, jadi wajar jika kami bisa memanfaatkannya dan mengundang orang ke pertandingan Royals," ujarnya. Menurut Maxey, ini memberi kesempatan unik bagi pengunjung untuk merasakan sedikit cita rasa Amerika. Ia mencontohkan kunjungan kapten Inggris Harry Kane dan beberapa rekannya yang menonton pertandingan Royals selama fase grup, bahkan pelatih Thomas Tuchel melempar pitch pertama seremonial. "Lemparannya cukup bagus. Saya rasa dia punya masa depan di bisbol jika mau," canda Maxey.
Namun, daya tarik bisbol bagi pengunjung seringkali lebih bersifat kultural daripada olahraga murni. Banyak yang datang demi pengalaman, bukan karena pemahaman mendalam akan permainan. Javier Lanza, penggemar asal Argentina yang hadir di pertandingan Royals, mengakui bahwa kunjungannya lebih tentang pengalaman. "Saya lebih suka NBA, tapi ini soal pengalaman. Saya belum pernah ke pertandingan bisbol sebelumnya, dan karena saya di AS, saya tidak bisa melewatkan kesempatan ini," katanya. Giuliano Jorge, senegaranya, menambahkan bahwa banyak temannya yang pergi ke stadion bisbol tidak benar-benar memahami olahraga tersebut.
Tantangan ini diakui oleh Andre Rienzo, mantan pemain MLB asal Brasil. Menurutnya, aturan bisbol tidak mudah dipahami hanya dari bacaan. "Jika Anda membaca buku tentang peraturan, Anda tidak mengerti apa-apa. Anda perlu pergi ke pertandingan, bersama seseorang, dan memahaminya play by play," ujarnya. Rienzo menyarankan pendatang baru untuk melihat melampaui ritme lambat yang mungkin membosankan pada awalnya, dan menikmati atmosfer pertandingan.
Bagi Indonesia, fenomena ini menarik untuk dicermati. Meski sepak bola tetap menjadi olahraga paling populer, pertumbuhan minat terhadap bisbol di Tanah Air masih terbatas. Momen Piala Dunia di AS bisa menjadi pintu masuk bagi penggemar Indonesia untuk mengenal olahraga yang identik dengan budaya Amerika ini. Namun, seperti yang dihadapi MLB, tantangan utamanya adalah bagaimana menjembatani perbedaan ritme dan kompleksitas aturan agar bisbol bisa diterima di pasar non-tradisional.
Maxey optimistis bahwa minat dapat bertahan seiring penggemar sepak bola menjadi lebih akrab dengan bisbol. "Ini adalah atmosfer yang mengundang. Jika Anda tidak tahu sepak bola, Anda tidak mengerti keindahan olahraga itu. Jika Anda tidak tahu bisbol, Anda tidak mengerti keindahan olahraga itu," katanya. Pertanyaannya, apakah MLB mampu memanfaatkan momen ini untuk membangun basis penggemar baru yang berkelanjutan, atau hanya akan menjadi kenangan manis bagi para pelancong?



