Undangan Khitanan Berujung Maut: Warga Lampung Timur Tewas Ditembak Tetangga
Baca dalam 60 detik
- Pendi (42) tewas setelah ditembak tetangganya, Andi Rustam, akibat kesalahpahaman soal penyebaran undangan khitanan di Lampung Timur.
- Pelaku yang masih memiliki hubungan keluarga dengan korban kabur usai kejadian; polisi masih memburu dan menyelidiki motif pasti.
- Peristiwa ini menyoroti risiko konflik horizontal yang dipicu oleh masalah sepele di tengah minimnya akses resolusi damai di tingkat komunitas.

Seorang pria di Lampung Timur kehilangan nyawa hanya karena perselisihan soal undangan pesta khitanan. Pendi (42) tewas ditembak oleh tetangganya sendiri, Andi Rustam, di Desa Negri Agung, Kecamatan Gunung Pelindung, pada Kamis (2/7/2026). Peristiwa ini menjadi pengingat betapa cepatnya konflik kecil bisa berubah menjadi tragedi berdarah.
Menurut keterangan kerabat dan aparat, kejadian bermula ketika Andi meminta bantuan Pendi untuk menyebarkan undangan khitanan anaknya yang dijadwalkan pada 7 Juli. Karena Pendi tidak bisa membaca, ia menitipkan undangan tersebut kepada seorang teman. Ketika ditanya perkembangannya, Pendi menjelaskan hal itu, namun Andi justru tersinggung dan menganggapnya sebagai bentuk pengabaian. Perdebatan sengit tak terhindarkan, dan dalam keadaan emosi, Andi mencabut senjata api lalu menembak kepala Pendi. Korban tewas seketika di lokasi.
Pasca-penembakan, pelaku langsung melarikan diri. Warga yang heboh segera melapor ke Polsek Gunung Pelindung. Tim gabungan dari Polsek dan Polres Lampung Timur tiba di tempat kejadian untuk melakukan olah TKP, mengevakuasi jenazah ke Rumah Sakit Bhayangkara Polda Lampung, serta memeriksa saksi-saksi. Hingga berita ini diturunkan, polisi masih memburu Andi Rustam dan berjaga di lokasi untuk meredam potensi konflik susulan.
Hasan, kerabat korban, membenarkan peristiwa tersebut. Ia mendapat kabar dari paman korban sekitar pukul 13.00 WIB. "Katanya, korban Pendi meninggal ditembak oleh Popon (panggilan akrab Andi Rustam)," ujarnya. Hasan menambahkan bahwa pelaku dan korban masih memiliki hubungan keluarga: istri Pendi adalah sepupu dari Andi. "Jenazah korban masih di RS Bhayangkara Bandar Lampung. Kami menunggu kedatangan jenazah," kata Hasan.
Kasat Reskrim Polres Lampung Timur, AKP M Iksir, membenarkan adanya penembakan tersebut. Namun, ia belum bisa merinci kronologi dan motif pasti karena proses penyelidikan masih berlangsung. "Mohon bersabar, nanti akan diinfokan lebih lanjut," katanya melalui pesan singkat.
Peristiwa ini menyoroti kerentanan konflik horizontal di masyarakat yang dipicu oleh masalah sepele, terutama di daerah dengan akses terbatas terhadap mediasi atau penyelesaian damai. Keberadaan senjata api ilegal di tangan warga juga menjadi faktor yang memperparah risiko. Polisi diimbau untuk tidak hanya mengejar pelaku, tetapi juga mengusut asal-usul senjata yang digunakan.
Ke depan, kasus ini menjadi ujian bagi aparat dalam menangani konflik komunal dan mencegah aksi balas dendam. Akankah penegakan hukum yang cepat dan transparan mampu memutus rantai kekerasan di tingkat akar rumput? Atau justru sebaliknya, tragedi ini akan meninggalkan luka berkepanjangan di antara dua keluarga yang masih terikat darah?



