Tottenham Gelontorkan Dana Besar demi Kembali ke Papan Atas Premier League
Baca dalam 60 detik
- Klub London Utara itu telah menghabiskan lebih dari £237 juta di bursa transfer musim panas ini, termasuk rekor klub £85 juta untuk Mateus Fernandes.
- Di balik belanja besar itu ada perubahan kepemilikan, suntikan dana £100 juta dari Enic, dan aturan baru yang memungkinkan pengeluaran hingga 85% dari pendapatan.
- Dengan potensi tambahan £250 juta, Spurs bertekad merebut kembali status 'big six' setelah dua musim bertahan di ambang degradasi.

Tottenham Hotspur, yang nyaris terdegradasi dalam dua musim terakhir, kini berbalik arah dengan belanja pemain paling agresif dalam sejarah klub—menandai era baru di bawah kepemilikan yang bertekad mengembalikan status 'big six' mereka.
Klub asal London Utara itu telah menggelontorkan dana sekitar £237 juta pada jendela transfer musim panas ini, melampaui rekor pengeluaran satu musim sebelumnya sebesar £235,8 juta (2023-24). Angka itu diperkirakan masih akan bertambah, dengan potensi belanja tambahan hingga £250 juta sebelum bursa ditutup. Langkah ini menjadi sinyal bahwa Spurs tidak lagi sekadar bertahan, melainkan berniat bersaing di papan atas.
Pembelian termahal mereka adalah Mateus Fernandes, gelandang asal Portugal yang ditebus dari West Ham United dengan rekor klub £85 juta. Sebelumnya, Spurs juga mendatangkan bek Jan Paul van Hecke dari Brighton seharga £52 juta, serta mencapai kesepakatan dengan Newcastle United untuk Sandro Tonali yang nilainya bisa mencapai £100 juta. Menariknya, Tonali merupakan target utama Arsenal, rival sekota, namun The Gunners mundur karena banderol yang terlalu tinggi. Manchester United juga kalah bersaing untuk mendapatkan Fernandes.
Perubahan drastis ini tidak lepas dari restrukturisasi manajemen klub. Daniel Levy mengakhiri masa jabatannya sebagai ketua eksekutif setelah hampir 25 tahun pada September lalu. Posisinya digantikan oleh Peter Charrington, yang dalam surat terbuka pada Mei menyatakan bahwa klub menyadari perlunya perubahan besar. "Apa yang telah dimulai adalah nyata, dan ini menandai perpisahan sejati dari masa lalu," tulis Charrington. "Kami harus bertarung dengan tim-tim terbaik di liga ini setiap musim."
Di sisi lain, pelatih kepala Roberto de Zerbi—yang diangkat pada Maret lalu dengan kontrak lima tahun—kini memiliki pengaruh lebih besar dalam rekrutmen setelah kegagalan mendatangkan direktur olahraga baru. De Zerbi, yang sebelumnya sukses di Brighton, berhasil menyelamatkan Spurs dari degradasi pada akhir musim lalu. Ia menekankan perlunya perombakan skuad dengan mengatakan, "Kami hanya memiliki 10, 11, atau 12 pemain yang cukup bagus untuk bertahan."
Strategi belanja Spurs juga didukung oleh aturan baru Premier League, yaitu Squad Cost Ratio (SCR), yang mengizinkan klub menghabiskan hingga 85% pendapatan untuk biaya pemain (gaji, amortisasi, dan agen). Pada laporan keuangan terakhir (2024-25), rasio gaji dan amortisasi Tottenham hanya 61%, jauh di bawah batas maksimal. Dengan pendapatan total £565 juta, Spurs secara teoritis bisa mengeluarkan hingga £480 juta per tahun untuk skuad. Selain itu, pendapatan dari stadion baru mereka melonjak drastis: dari £45 juta (matchday) dan £73 juta (komersial) di White Hart Lane menjadi £126 juta dan £277 juta di stadion baru. Stadion yang mampu menggelar hingga 30 acara non-sepak bola per tahun itu menjadi mesin uang yang memungkinkan belanja besar.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, agresivitas Tottenham menjadi pelajaran tentang bagaimana manajemen klub yang berani berinvestasi dapat mengubah nasib. Di tengah dominasi klub-klub kaya Eropa, langkah Spurs menunjukkan bahwa suntikan modal dan tata kelola yang baik mampu mendongkrak daya saing. Namun, risiko tetap ada: jika investasi tidak berbuah prestasi, beban finansial bisa menjadi bumerang. Pertanyaan besarnya, mampukah De Zerbi meracik tim baru ini untuk kembali ke Liga Champions dan menjauh dari ancaman degradasi?



