Data 39.798 Pengguna SafePal Bocor: Celah Sistem Lacak Pesanan Jadi Pintu Masuk Serangan Phishing
Baca dalam 60 detik
- Celah otorisasi pada sistem pelacakan pesanan SafePal memungkinkan akses tak sah ke data pribadi pelanggan selama lebih dari setahun.
- Meski data sensitif seperti seed phrase dan kunci privat aman, informasi yang bocor berpotensi dimanfaatkan untuk serangan phishing yang ditargetkan.
- Perusahaan telah menambal celah, mempersingkat masa simpan data, dan menutup lebih dari 30 situs phishing terkait insiden ini.

Penyedia dompet kripto SafePal mengonfirmasi telah terjadi kebocoran data yang memengaruhi sekitar 39.798 pelanggan. Informasi pribadi seperti nama, alamat, dan data pembelian terekspos akibat celah otorisasi pada sistem pelacakan pesanan yang berlangsung sejak 2 Maret 2025 hingga 11 April 2026. Insiden ini menjadi pengingat bahwa meskipun aset kripto tersimpan aman, data pribadi pengguna tetap rentan di sisi layanan pendukung.
Menurut pernyataan resmi SafePal, celah tersebut memungkinkan pengguna yang tidak berwenang untuk mengakses informasi pesanan pelanggan lain. Namun, perusahaan menegaskan bahwa data yang lebih sensitif seperti seed phrase, kunci privat, kata sandi dompet, informasi rekening bank, kartu pembayaran, dan nomor identitas pemerintah tidak ikut terekspos. Meski demikian, kebocoran data pribadi tetap membuka peluang bagi pelaku kejahatan untuk melakukan serangan phishing yang lebih terarah dan peniruan identitas.
Dalam ekosistem kripto, seed phrase dan kunci privat adalah kunci utama untuk mengakses aset digital. Jika data ini jatuh ke tangan yang salah, aset pengguna bisa hilang selamanya. Namun, dalam kasus ini, yang bocor adalah data yang lebih administratif. Meski tidak sefatal itu, risiko tetap ada. Data seperti alamat dan riwayat pembelian dapat digunakan untuk memanipulasi korban agar mengungkapkan informasi yang lebih sensitif atau mengunduh perangkat lunak berbahaya.
Bagi pengguna kripto di Indonesia, insiden ini menjadi sinyal penting. Meskipun SafePal adalah platform global, banyak pengguna Indonesia yang menggunakan dompet perangkat keras untuk menyimpan aset digital. Kebocoran data seperti ini menunjukkan bahwa risiko tidak hanya datang dari sisi teknis blockchain, tetapi juga dari sisi layanan yang mengelolanya. Otoritas jasa keuangan dan regulator kripto di Indonesia, seperti Bappebti, perlu memperketat pengawasan terhadap penyedia layanan dompet kripto yang beroperasi di dalam negeri, terutama dalam hal perlindungan data pribadi.
Menanggapi insiden ini, SafePal menyatakan telah memperbaiki celah tersebut dan menerapkan langkah-langkah keamanan tambahan. Perusahaan juga mengumumkan akan membatasi penyimpanan data pribadi pelanggan dalam sistem pemrosesan pesanan hanya selama 90 hari. Selain itu, mereka telah mengidentifikasi dan menutup lebih dari 30 situs web dan tautan phishing yang terkait dengan kebocoran ini. Langkah ini diambil untuk meminimalkan dampak jangka panjang dari insiden tersebut.
Meskipun respons SafePal tergolong cepat, pertanyaan yang muncul adalah apakah langkah-langkah ini cukup untuk memulihkan kepercayaan pengguna. Di tengah meningkatnya adopsi kripto di Indonesia, insiden seperti ini bisa menjadi pelajaran berharga bagi industri. Ke depan, penyedia layanan dompet kripto harus lebih transparan mengenai praktik keamanan data mereka dan siap menghadapi insiden serupa dengan rencana respons yang matang. Apakah regulator akan turun tangan untuk menetapkan standar minimum perlindungan data bagi penyedia layanan kripto? Ini menjadi pertanyaan yang perlu dijawab.



