Misi Jepang ke Bulan Mars: Mengungkap Asal Usul Tata Surya dan Masa Depan Eksplorasi Manusia
Baca dalam 60 detik
- Jepang siap meluncurkan MMX untuk mengambil sampel dari Phobos, berpotensi mengungkap asal usul tata surya dan kehidupan.
- Misi ini juga menguji teknologi pendaratan dan operasi di gravitasi rendah, penting untuk eksplorasi Mars berawak di masa depan.
- Persaingan dengan China dalam pengembalian sampel Mars semakin ketat, dengan Tianwen-3 ditargetkan kembali pada 2031.

Jepang bersiap meluncurkan misi tanpa awak ke bulan-bulan Mars untuk mengambil sampel yang diyakini dapat mengungkap asal usul tata surya dan kehidupan di Bumi. Misi bernama Martian Moons eXploration (MMX) ini dijadwalkan lepas landas dari Tanegashima Space Center dalam beberapa bulan mendatang, sekaligus menjadi fondasi bagi eksplorasi manusia ke Planet Merah.
MMX akan menghabiskan sekitar tiga tahun di orbit Mars dan mencoba mendarat di Phobos, bulan terbesar Mars. Pesawat ini dirancang untuk mengumpulkan setidaknya 10 gram material dari permukaan Phobos, sementara rover IDEFIX buatan Prancis akan melakukan observasi permukaan. Setelah itu, kapsul kembali akan membawa sampel ke Bumi dan mendarat di Australia sekitar tahun 2031.
Badan Antariksa Jepang (JAXA) berharap misi ini dapat menjawab dua hipotesis utama tentang asal usul bulan-bulan Mars: apakah mereka terbentuk dari tabrakan besar dengan Mars, atau merupakan asteroid yang tertangkap gravitasi Mars. Jawaban atas pertanyaan ini dinilai krusial untuk memahami bagaimana planet-planet berbatu, termasuk Bumi, menjadi layak huni.
Menurut Patrick Michel, astrofisikawan Prancis yang terlibat dalam IDEFIX, MMX akan menyoroti mekanisme transportasi air, zat volatil, dan senyawa organik dari tata surya luar ke wilayah planet berbatu bagian dalam. "Jika Phobos dan Deimos adalah sisa-sisa dari sistem pengiriman awal ini, mereka mungkin menyimpan petunjuk tentang asal usul kehidupan," ujarnya kepada AFP.
Bagi Indonesia, misi ini memiliki relevansi ganda. Pertama, keberhasilan Jepang dalam misi antariksa sering kali membuka peluang kerja sama dengan negara berkembang, termasuk Indonesia, dalam hal transfer teknologi dan pelatihan sumber daya manusia. Kedua, temuan tentang asal usul kehidupan di planet lain dapat memicu minat generasi muda Indonesia terhadap sains dan teknologi antariksa, yang sejalan dengan upaya pemerintah mendorong riset dan inovasi.
MMX juga menguji teknologi pendaratan di gravitasi sangat rendah, sebuah tantangan yang diakui Akinari Uehara, insinyur Mitsubishi Electric. "Kami harus mencegah wahana jatuh dengan membuat kaki-kaki meredam dampak pendaratan," jelasnya. Pengalaman Jepang dengan misi SLIM yang miring di Bulan namun tetap berfungsi menjadi pelajaran berharga.
Persaingan dengan China semakin ketat. Setelah keberhasilan Tianwen-1 yang mendaratkan rover Zhurong di Mars pada 2021, China mengumumkan Tianwen-3 yang dijadwalkan diluncurkan sekitar 2028 dan kembali dengan sampel pada 2031, berpotensi lebih cepat dari MMX. Sementara itu, misi pengembalian sampel NASA (Perseverance) justru terhambat oleh pemotongan anggaran di bawah pemerintahan Trump.
Dengan MMX, Jepang tidak hanya mengejar pencapaian ilmiah, tetapi juga membangun kemampuan untuk misi berawak ke Mars di masa depan. Pertanyaannya, akankah Jepang mampu mempertahankan posisinya di tengah persaingan global yang semakin sengit? Atau justru kolaborasi internasional menjadi kunci untuk membuka misteri tata surya?



