Indosat Lepas 84,9% Saham Infra Fiber Teknologi Senilai Rp11,71 Triliun, Eksposur Tetap Terjaga
Baca dalam 60 detik
- Indosat dan Lintasarta menjual 84,9% saham PT Infra Fiber Teknologi ke Nusantara Fiber Teknologi dengan nilai transaksi Rp11,71 triliun.
- Langkah ini memungkinkan Indosat tetap menguasai 49,68% kepemilikan efektif di IFT melalui skema inbreng dan struktur kepemilikan baru.
- Divestasi ini merupakan bagian dari strategi monetisasi aset serat optik untuk mendorong pertumbuhan ekonomi digital Indonesia.

PT Indosat Tbk (ISAT) resmi melepas mayoritas kepemilikan saham di anak usahanya yang bergerak di bidang infrastruktur serat optik, PT Infra Fiber Teknologi (IFT), kepada PT Nusantara Fiber Teknologi (NFT) dalam transaksi senilai Rp11,71 triliun. Langkah ini efektif secara hukum pada 30 Juni 2026.
Dalam transaksi tersebut, Indosat bersama anak usahanya PT Aplikanusa Lintasarta menjual 11.707.828 saham IFT, atau setara 84,9% dari total modal yang ditempatkan dan disetor. Sebagai bagian dari kesepakatan, Indosat dan Lintasarta juga melakukan inbreng atas 2.083.223 saham IFT (15,1%) dengan imbalan saham NFT. Hasilnya, Indosat memperoleh 49,1% saham NFT, sementara Lintasarta mendapatkan 0,8%.
Meski melepas kendali langsung, Indosat tetap memiliki kepemilikan efektif sebesar 49,68% di IFT melalui struktur kepemilikan baru. Artinya, perseroan masih memiliki eksposur strategis terhadap bisnis infrastruktur serat optik yang dijalankan IFT. Setelah transaksi rampung, NFT menjadi pemegang saham mayoritas IFT dengan 13.791.051 saham, sementara Indosat hanya mempertahankan satu saham.
Transaksi ini merupakan tindak lanjut dari Perjanjian Investasi yang ditandatangani pada 23 Desember 2025 dan diamendemen pada 6 Mei 2026, serta Perjanjian Jual Beli Saham Bersyarat. Selain itu, Indosat, Lintasarta, NFT, dan PT Ainfrastruktur Indonesia Raya juga menandatangani Perjanjian Pemegang Saham pada 6 Mei 2026 yang mulai berlaku efektif setelah penyelesaian jual beli saham.
Sebelumnya, Indosat bersama Arsari Group dan Northstar telah membentuk perusahaan patungan di bidang penyediaan koneksi serat optik. Indosat mengalihkan aset serat optiknya ke perusahaan baru dengan valuasi Rp14,6 triliun, sehingga Indosat dan Arsari Group masing-masing menguasai 45% saham, sementara sisanya dimiliki mitra konsorsium lainnya.
President Director and CEO Indosat Ooredoo Hutchison, Vikram Sinha, menekankan bahwa kolaborasi ini bertujuan memperkuat daya saing Indonesia. Menurutnya, riset dari Bank Dunia, McKinsey, dan laporan internal Indosat menunjukkan bahwa fiber merupakan komponen terpenting infrastruktur digital. Kemitraan strategis dengan Arsari, dikombinasikan dengan kapabilitas belanja, kebijakan, dan platform Indosat, diharapkan dapat mendorong Indonesia menuju target pertumbuhan ekonomi hingga 8%.
Bagi investor dan pelaku pasar, langkah ini menunjukkan bagaimana Indosat memonetisasi aset infrastruktur tanpa kehilangan kendali strategis. Dengan tetap memegang kepemilikan efektif hampir 50%, Indosat dapat terus menuai manfaat dari pertumbuhan permintaan serat optik di Indonesia, seiring dengan percepatan digitalisasi nasional.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah bagaimana NFT akan mengelola IFT sebagai entitas independen, dan apakah struktur kepemilikan baru ini akan memengaruhi rencana ekspansi jaringan serat optik Indosat. Dengan target pertumbuhan ekonomi 8% yang ambisius, peran infrastruktur digital menjadi semakin krusial, dan langkah Indosat ini bisa menjadi model bagi operator telekomunikasi lain dalam mengoptimalkan aset.



