Circle Line Singapura Resmi Melingkar Penuh Setelah 30 Tahun: Tiga Stasiun Baru Dibuka
Baca dalam 60 detik
- Tiga stasiun MRT baru di Singapura—Keppel, Cantonment, dan Prince Edward Road—resmi beroperasi penuh pada 12 Juli, melengkapi Circle Line yang telah direncanakan sejak 1990-an.
- Proyek tahap akhir ini menghadapi tantangan teknik berat, termasuk terowongan di bawah Stasiun Kereta Tanjong Pagar yang berusia hampir seabad dan viaduk aktif.
- Pembukaan stasiun-stasiun ini diproyeksikan membuka akses ke kawasan Greater Southern Waterfront dan Marina Bay, mendorong pengembangan hunian dan lapangan kerja baru.

Setelah lebih dari tiga dekade sejak pertama kali digagas, jalur MRT Circle Line di Singapura akhirnya menjadi lingkaran utuh. Tiga stasiun terakhir—Keppel, Cantonment, dan Prince Edward Road—resmi dibuka untuk uji coba publik pada Sabtu (4/7) dan akan mulai melayani penumpang pada 12 Juli mendatang.
Peresmian ini menandai selesainya Tahap 6 Circle Line, ruas terakhir yang menghubungkan jalur sepanjang 39 kilometer dengan total 33 stasiun. Dari jumlah tersebut, 12 stasiun berfungsi sebagai titik transit yang terintegrasi dengan seluruh jalur MRT eksisting di negara kota itu, menurut Otoritas Transportasi Darat (LTA) Singapura.
Menteri Perhubungan Aktif Jeffrey Siow, yang menjabat di Kementerian Perhubungan saat keputusan pembangunan Tahap 6 diumumkan pada 2013, mengaku sangat bersyukur dapat meresmikan stasiun-stasiun tersebut 13 tahun kemudian. “Akhirnya hari ini, orang-orang bisa berhenti bertanya pada LTA mengapa Circle Line tidak berbentuk lingkaran,” ujarnya dalam sambutan.
Proses pembangunan Tahap 6 bukan tanpa hambatan. Siow menjelaskan bahwa konstruksi baru bisa dimulai setelah lahan tersedia, termasuk bekas Stasiun Kereta Tanjong Pagar dan relnya yang baru dikembalikan ke Singapura pada 2011, serta terminal pelabuhan di pusat kota yang direlokasi ke Tuas. Para insinyur LTA harus menembus terowongan hanya 7 meter di bawah Stasiun Tanjong Pagar yang berusia hampir 100 tahun tanpa merusak bangunan cagar budaya tersebut. Mereka juga harus menggali di bawah Viaduk Keppel yang masih beroperasi, dengan perlindungan ketat pada fondasi viaduk agar lalu lintas jalan tidak terganggu.
Menurut Siow, ketiga stasiun baru ini merupakan stasiun dengan desain terindah di jaringan MRT Singapura. Stasiun Keppel terinspirasi dari alam, Prince Edward Road dari warisan maritim, dan Cantonment dari interior stasiun kereta lama. “Transportasi umum bukan sekadar infrastruktur; ia adalah bagian dari memori kolektif kita,” kata Siow.
Bagi Indonesia, pencapaian ini menjadi contoh bagaimana integrasi transportasi massal dapat mendorong pengembangan kawasan. Keberhasilan Singapura menyelesaikan proyek yang tertunda selama puluhan tahun menunjukkan pentingnya perencanaan jangka panjang dan adaptasi terhadap tantangan teknis. Dengan target pengembangan Greater Southern Waterfront dan Marina Bay, Singapura membuktikan bahwa investasi di transportasi publik mampu membuka akses ke pusat-pusat ekonomi baru, sebuah pelajaran berharga bagi kota-kota besar di Indonesia yang tengah menggenjot pembangunan MRT dan LRT.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah bagaimana LTA akan mempertahankan keandalan sistem yang kini sudah terintegrasi penuh, serta apakah perluasan lebih lanjut masih diperlukan seiring pertumbuhan populasi dan aktivitas ekonomi di kawasan selatan Singapura.



