Gempa NTT: BNPB Kerahkan Kapal Laut untuk Tembus Isolasi Pulau Palue
Baca dalam 60 detik
- BNPB memanfaatkan jalur laut untuk menyalurkan bantuan ke Pulau Palue, NTT, yang terisolasi akibat gempa, dengan mengirimkan 146 tenda keluarga dan 700 selimut.
- Strategi interkoneksi moda transportasi darat-laut-udara menjadi kunci percepatan distribusi logistik ke wilayah kepulauan terluar yang sulit dijangkau.
- Koordinasi lintas kementerian dan lembaga terus diperkuat untuk memastikan pemerataan layanan bagi penyintas di pulau utama dan pulau kecil selama masa tanggap darurat.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memutar haluan dengan mengerahkan armada kapal untuk mengirim bantuan logistik ke Pulau Palue, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), menyusul gempa bumi yang memutus akses darat dan mengisolasi warga di kepulauan terluar. Langkah ini diambil sebagai solusi darurat agar pasokan kebutuhan pokok dan perlengkapan pengungsian tetap tiba di tengah keterbatasan geografis pascabencana.
Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menjelaskan bahwa pengiriman melalui laut menjadi pilihan utama untuk menembus wilayah yang tidak bisa dijangkau lewat darat. "Distribusi bantuan ke Pulau Palue kami lakukan dengan kapal. Ini adalah upaya percepatan untuk memastikan warga terisolasi tetap menerima bantuan," ujarnya dalam keterangan resmi, Minggu (9/2/2025).
Pengerahan kapal ini merupakan bagian dari strategi besar BNPB yang mengombinasikan moda transportasi darat, laut, dan udara. Tujuannya sederhana: menjangkau seluruh titik pengungsian di NTT, termasuk pulau-pulau kecil yang selama ini bergantung pada akses laut. Kepala BNPB, Suharyanto, menegaskan bahwa pengaktifan posko darurat dan optimalisasi jalur distribusi menjadi prioritas utama agar pelayanan kepada penyintas berjalan merata, baik di pulau utama maupun pulau terpencil.
Sejauh ini, bantuan yang telah disalurkan ke Kabupaten Sikka meliputi 146 unit tenda keluarga, lima unit tenda pengungsi, 200 kasur lipat, 700 selimut, dan 400 tikar. Selain itu, BNPB juga mengirimkan 300 paket sembako, 100 paket kids ware, 100 paket hygiene kit, lima unit tangki air, sepuluh unit genset, serta perangkat penerangan berupa light tower. Barang-barang ini diharapkan mampu memenuhi kebutuhan dasar para pengungsi dalam beberapa pekan ke depan.
Di luar BNPB, sejumlah kementerian dan lembaga turun tangan. Kementerian Sosial, misalnya, telah memobilisasi bantuan dan menyiapkan santunan bagi korban jiwa, sementara Basarnas memantau langsung proses evakuasi di Flores. Pemerintah pusat terus berkoordinasi dengan pemerintah provinsi dan kabupaten/kota terdampak untuk memastikan distribusi sesuai kebutuhan riil di lapangan. Ini menjadi ujian nyata bagi sistem penanggulangan bencana nasional, terutama dalam menangani wilayah kepulauan yang rawan terputus aksesnya.
Bagi warga Indonesia, terutama yang tinggal di daerah rawan gempa seperti NTT, peristiwa ini menggarisbawahi pentingnya kesiapan logistik berbasis moda laut. Pulau-pulau kecil seperti Palue sering menjadi titik terlemah dalam rantai distribusi bantuan. Ke depan, pertanyaannya bukan hanya soal kecepatan respons, tetapi juga bagaimana membangun infrastruktur pelabuhan dan gudang penyangga di pulau-pulau terluar agar tanggap darurat tidak lagi bergantung pada solusi ad hoc. Apakah pemerintah akan menjadikan pengalaman ini sebagai momentum untuk memperkuat ketahanan logistik kepulauan? Waktu yang akan menjawab, tetapi kebutuhan mendesak di lapangan tidak bisa menunggu.



