Hasto Kristiyanto Pilih Pusuk Buhit untuk Refleksi HUT ke-81 RI: Simbol Perjuangan dari Tanah Batak
Baca dalam 60 detik
- Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto mendaki Gunung Pusuk Buhit di Samosir pada malam hari sebagai bagian dari perenungan menyambut Hari Kemerdekaan ke-81.
- Aksi ini menegaskan simbolisme historis dan kultural dalam politik Indonesia, sekaligus menjadi ajang konsolidasi internal partai di tingkat pusat dan daerah.
- Refleksi tersebut diharapkan mampu memperkuat komitmen kebangsaan dan keadilan sosial, sejalan dengan cita-cita pendiri bangsa.

Menjelang peringatan kemerdekaan ke-81 Republik Indonesia, Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto memilih jalur pendakian Gunung Pusuk Buhit di Kabupaten Samosir, Sumatera Utara, sebagai ruang kontemplasi. Pada Sabtu (15/8) malam, ia bersama sejumlah pengurus partai menempuh medan setinggi 1.982 meter di atas permukaan laut itu, bukan sekadar uji fisik, melainkan juga peneguhan kembali nilai-nilai perjuangan yang diwariskan para pendiri bangsa.
Pendakian ini berlangsung hingga dini hari, berakhir sekitar pukul 00.30 WIB. Hasto tidak sendiri; ia didampingi oleh Sediaman Limbong, serta Ketua DPP Djarot Saiful Hidayat dan Ketua DPD PDIP Sumatera Utara, Rapidin Simbolon. Kehadiran tokoh-tokoh kunci partai di lokasi yang sarat makna historis ini mengirim sinyal bahwa refleksi kebangsaan tidak hanya berhenti pada seremonial, tetapi juga menyentuh akar budaya dan spiritualitas.
Dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Hasto menyampaikan doa bagi para proklamator, pahlawan bangsa, Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri, serta seluruh rakyat Indonesia. Ia menegaskan bahwa momen HUT ke-81 harus dimanfaatkan untuk menghidupkan kembali semangat dan pemikiran pendiri bangsa. "Kita doakan Bung Karno, Bung Hatta, dan seluruh para pahlawan bangsa. Kita doakan Ibu Megawati Soekarnoputri, dan seluruh jajaran simpatisan, anggota dan kader PDI Perjuangan, serta rakyat Indonesia," ujarnya.
Lebih dari itu, Hasto menyampaikan harapan agar nilai-nilai kebenaran, keadilan, dan kemanusiaan benar-benar ditegakkan dalam kehidupan berbangsa. Ia secara eksplisit menyebut pentingnya perjuangan untuk membebaskan rakyat marhaen, dengan prioritas pada pendidikan, kesehatan, dan penghidupan yang layak. "Rakyat kecil dihormati dengan seluruh martabatnya," katanya, menegaskan arah perjuangan yang berpihak pada kelompok rentan.
Pilihan Pusuk Buhit tidaklah acak. Gunung ini diyakini sebagai tempat asal-usul masyarakat Batak dalam mitologi lokal, dan bagi Hasto, pendakian ini menjadi medium untuk merenungkan perjuangan para pendiri bangsa. Di kawasan tersebut, ia juga mengamati berkibarnya Bendera Merah Putih serta bendera berwarna putih, merah, dan hitam yang merupakan simbol kebudayaan Batak. Perpaduan simbol nasional dan kearifan lokal ini memperlihatkan upaya merawat keberagaman dalam bingkai keindonesiaan.
Bagi pengamat politik, langkah Hasto ini dapat dibaca sebagai upaya memperkuat narasi ideologis partai di tengah dinamika politik nasional. Dengan memilih lokasi yang kaya akan nilai historis dan kultural, PDIP seolah ingin menegaskan bahwa perjuangan kemerdekaan belum selesai dan harus dilanjutkan dalam bentuk perjuangan sosial-ekonomi. Hal ini relevan mengingat isu ketimpangan dan akses terhadap layanan dasar masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah.
Refleksi di Pusuk Buhit juga menjadi pengingat bahwa kemerdekaan bukan sekadar seremoni tahunan. Pertanyaan yang kemudian mengemuka: sejauh mana semangat kemerdekaan benar-benar diterjemahkan dalam kebijakan yang memihak rakyat kecil? Jawabannya, tentu, akan diuji pada tahun-tahun politik mendatang, ketika partai-partai akan berlomba merebut hati pemilih dengan janji-janji perbaikan.



