Investor Baru The Hundred: Rebranding Berani dan Dampaknya bagi Masa Depan Kriket Inggris
Baca dalam 60 detik
- Musim kedua The Hundred dengan kepemilikan baru menandai perubahan besar: beberapa tim berganti nama dan warna, seperti Manchester Super Giants dan Sunrisers Leeds, yang memicu perdebatan tentang identitas dan tradisi.
- Strategi pemasaran agresif, seperti pemberian 30.000 jersey gratis oleh Super Giants, berhasil menarik demografi baru, dengan 46% pembeli tiket di Sophia Gardens adalah pendatang baru dan 30% adalah perempuan.
- Meski jumlah penonton sedikit menurun, investasi besar seperti £145 juta untuk London Spirit dan fokus pada pasar India melalui JioStar menunjukkan potensi komersial yang besar, namun ECB menegaskan prioritas tetap pada pasar domestik Inggris.

Musim panas 2026 menjadi saksi transformasi besar dalam sejarah The Hundred, turnamen kriket inovatif Inggris yang kini berada di bawah kendali investor swasta. Sejumlah waralaba berganti nama, logo, dan warna kostum, memicu gelombang perubahan yang tidak hanya menyentuh aspek komersial, tetapi juga identitas dan loyalitas penggemar. Dari Manchester Super Giants yang menggantikan Originals hingga Sunrisers Leeds yang lahir dari Northern Superchargers, rebranding ini menjadi ujian sejauh mana tradisi dapat beradaptasi dengan tuntutan pasar modern.
Langkah berani diambil oleh Manchester Super Giants, yang memilih untuk membagikan hampir 30.000 jersey gratis kepada para penggemar yang hadir. Daniel Gidney, CEO Lancashire yang juga duduk di dewan direksi MSG, menegaskan bahwa dalam pasar yang didominasi sepak bola, strategi "besar dan lantang" adalah sebuah keharusan. "Anda tidak pernah mendapatkan sesuatu secara gratis," ujarnya, seraya menambahkan bahwa keputusan untuk mengorbankan pendapatan dari penjualan jersey demi membangun merek adalah investasi jangka panjang yang dampaknya jauh melampaui ekspektasi.
Sementara itu, London Spirit, waralaba termahal dengan investasi £145 juta dari konsorsium miliarder teknologi, memilih untuk mempertahankan warna biru-hitam khas mereka namun menambahkan garis merah-kuning dari Marylebone Cricket Club (MCC). Hasilnya, popularitas mereka melonjak, dengan jumlah anggota MCC yang menghadiri pertandingan The Hundred berlipat ganda dibanding musim lalu. Replika jersey seharga £55 mereka bahkan telah habis terjual, dengan stok untuk dua musim ke depan sudah dipesan penuh.
Namun, tidak semua perubahan berjalan mulus. Oval Invincibles, yang sebelumnya memiliki identitas kuat dengan warna hijau mint khas, kini berganti menjadi MI London dengan seragam biru yang lebih generik, mengikuti jejak Mumbai Indians. Pertanyaannya, akankah penggemar tetap loyal seperti sebelumnya? Sementara itu, jumlah penonton secara keseluruhan mengalami sedikit penurunan, meskipun direktur turnamen Vikram Banerjee menekankan bahwa transformasi operasional yang terjadi musim ini sangat besar dan mereka merasa puas dengan hasil yang dicapai.
Di balik layar, perdebatan tentang keberadaan The Hundred terus berlanjut. Seorang investor terkemuka mengungkapkan keterkejutannya terhadap reaksi negatif dari penggemar tradisional County Championship, meskipun hubungan antara waralaba dan county yang memegang saham dinilai sangat baik. Namun, data dari Glamorgan menunjukkan bahwa turnamen ini berhasil menarik demografi yang sama sekali baru. Mark Rhydderch-Roberts, ketua Glamorgan, menyebutkan bahwa 46% pembeli tiket di Sophia Gardens adalah pengunjung baru, 30% adalah pembeli perempuan, dan 46% adalah tiket keluarga. Angka-angka ini menjadi bukti bahwa The Hundred mampu menjangkau audiens yang lebih muda dan beragam.
Dari perspektif komersial, fokus pada pasar India menjadi sorotan. Tahun ini, The Hundred ditayangkan di JioStar, platform streaming yang juga menayangkan IPL, menggantikan FanCode. Meskipun pertumbuhan audiens siaran masih moderat, negosiasi untuk kontrak siaran baru akan dimulai tahun depan, dan para pemilik waralaba jelas mengincar nilai yang lebih besar. Namun, Richard Gould, CEO ECB, menegaskan bahwa pasar India hanyalah marginal bagi mereka. "Ini adalah kompetisi Inggris, untuk penggemar Inggris, dan pasar Inggris," katanya, seraya menambahkan bahwa mereka baru berada di awal perjalanan untuk meniru kesuksesan Premier League dalam meraih pendapatan internasional.
Pertanyaan besar yang menggantung adalah apakah The Hundred suatu hari akan berubah menjadi liga T20 biasa. Banerjee menegaskan bahwa identitas turnamen ini justru terletak pada format 100 bola yang unik, yang menjadi daya tarik utama bagi penyiar. Gidney setuju, dengan menyatakan bahwa jika The Hundred berubah menjadi T20, mereka akan kehilangan keunikan yang membedakannya dari IPL. "The Hundred memberi Inggris kesempatan untuk menunjukkan bahwa dalam beberapa hal, kami bisa sebaik, bahkan lebih baik dari IPL," ujarnya.
Bagi Indonesia, perkembangan The Hundred menawarkan pelajaran berharga tentang bagaimana kompetisi olahraga dapat bertransformasi untuk menarik pasar baru tanpa kehilangan akar tradisinya. Dengan semakin populernya kriket di Asia Tenggara, model bisnis yang diusung The Hundred—kombinasi investasi swasta, rebranding agresif, dan fokus pada pengalaman penggemar—bisa menjadi referensi bagi pengembangan liga olahraga di kawasan ini. Namun, tantangan terbesar tetap sama: bagaimana menjaga keseimbangan antara komersialisasi dan warisan budaya olahraga.
Ke depan, The Hundred akan terus menjadi medan uji bagi inovasi dalam olahraga. Akankah strategi berani para pemilik waralaba membuahkan hasil jangka panjang, atau justru mengikis esensi kriket Inggris? Jawabannya mungkin baru akan terlihat dalam satu dekade ke depan, ketika generasi baru penggemar yang lahir dari era The Hundred mulai menentukan arah olahraga ini.



