Empat Pendaki Dievakuasi Helikopter usai Dihadang Beruang Coklat di Hokkaido
Baca dalam 60 detik
- Empat pendaki di Hokkaido, Jepang, diselamatkan oleh helikopter setelah terjebak selama 3,5 jam akibat bertemu beruang coklat di jalur pendakian.
- Insiden ini terjadi sehari sebelum Gunung Rausu dibuka kembali, setelah ditutup sejak Agustus 2025 akibat serangan beruang yang menewaskan seorang pendaki.
- Peningkatan jumlah penampakan dan serangan beruang di Jepang mendorong otoritas setempat memperketat sistem peringatan dan pemantauan habitat.

Empat pendaki di Hokkaido, Jepang utara, harus dievakuasi menggunakan helikopter setelah terdampar selama lebih dari tiga jam akibat bertemu dengan beruang coklat di jalur pendakian, Sabtu (5/7/2025). Insiden ini menjadi pengingat akan meningkatnya risiko interaksi manusia-satwa liar di kawasan konservasi.
Menurut kepolisian setempat, seorang pria berusia 60-an pertama kali melihat beruang sepanjang sekitar 1,5 meter pada jarak 50 meter saat menuruni gunung setinggi 2.141 meter. Tiga pendaki lain kemudian bergabung dengannya, dan sekitar pukul 16.50 waktu setempat, salah satu dari mereka melakukan panggilan darurat karena tidak dapat melanjutkan perjalanan. Beruntung, tidak ada korban luka dalam insiden tersebut.
Peristiwa ini terjadi sehari sebelum Gunung Rausu di Semenanjung Shiretoko, situs Warisan Dunia UNESCO, dibuka kembali untuk pendakian pada Minggu (6/7/2025). Jalur pendakian ditutup sejak Agustus 2025 setelah seorang pendaki berusia 26 tahun tewas dalam serangan beruang. Upacara doa bersama dihadiri sekitar 50 pejabat kota dan pendaki pada Minggu pagi.
Kementerian Lingkungan Hidup Jepang bersama otoritas lokal telah mengambil langkah pencegahan dengan menerapkan sistem peringatan beruang coklat berskala empat level. Namun, peningkatan jumlah penampakan dan insiden cedera akibat beruang dalam beberapa tahun terakhir mendorong pihak berwenang untuk melakukan penilaian ulang terhadap habitat beruang. Para ahli memperkirakan bahwa perubahan iklim dan berkurangnya sumber makanan alami mendorong beruang lebih sering mendekati pemukiman dan jalur pendakian.
Di prefektur Akita, Jepang timur laut, seorang pria berusia 83 tahun diserang beruang saat memetik sayuran gunung pada Minggu pagi. Ia mengalami luka di kepala dan wajah, namun masih sadar saat dilarikan ke rumah sakit. Insiden ini menambah daftar panjang konflik manusia-satwa liar di Jepang, yang memicu diskusi tentang pengelolaan kawasan konservasi dan edukasi pengunjung.
Bagi Indonesia, kasus ini relevan mengingat beberapa kawasan konservasi seperti Taman Nasional Gunung Leuser dan TN Kerinci Seblat juga menghadapi tantangan serupa dengan satwa liar seperti harimau dan gajah. Pengalaman Jepang dalam menerapkan sistem peringatan bertingkat dan penutupan jalur temporer bisa menjadi referensi bagi pengelola taman nasional di Indonesia untuk mengurangi risiko kecelakaan serupa. Pertanyaan yang muncul: apakah sistem peringatan dan edukasi pengunjung di Indonesia sudah cukup untuk mengantisipasi peningkatan interaksi manusia-satwa liar di era perubahan iklim?



