Bangladesh Ukir Sejarah: Taklukkan Australia di Darwin, Kemenangan Perdana di Negeri Kanguru
Baca dalam 60 detik
- Tim tamu menuntaskan perlawanan tuan rumah dengan keunggulan sembilan wicket pada hari keempat, mencatatkan kemenangan perdana mereka di tanah Australia.
- Penampilan gemilang spinner Mehidy Hasan Miraz yang memungut lima wicket pada innings kedua menjadi kunci keberhasilan Bangladesh membongkar pertahanan Australia.
- Kekalahan ini memicu evaluasi besar bagi Australia menjelang seri kedua yang dijadwalkan mulai 22 Agustus, sekaligus menegaskan kebangkitan kriket Bangladesh di pentas global.

BANGLADESH menorehkan tinta emas dalam sejarah kriket mereka dengan menundukkan Australia sembilan wicket pada laga pembuka seri dua pertandingan di Darwin, Kamis (22/8). Kemenangan ini bukan sekadar angka, melainkan simbol perlawanan tim yang selama dua dekade terakhir kerap dipandang sebelah mata di pentas Test cricket.
Bermodalkan keunggulan 228 run dari innings pertama, tim tamu hanya membutuhkan 57 run untuk memenangi pertandingan. Mominul Haque yang notabene menjadi pahlawan dengan pukulan penentu ke arah batas lapangan dari lemparan Beau Webster, memicu euforia luar biasa di kubu Bangladesh. Ini adalah kemenangan perdana mereka atas Australia di kandang lawan sejak debut di format lima hari pada 2001.
Kapten Bangladesh, Najmul Hossain Shanto, tidak menyembunyikan kebanggaannya. "Ini kemenangan terbesar kami di semua format," ujarnya. "Kami bekerja keras dan hasilnya terbayar lunas." Pernyataan itu bukan hiperbola. Sebab, Australia adalah penguasa peringkat satu dunia, sementara Bangladesh terakhir kali menggelar seri Test di Australia pada 2003 dan kalah telak 0-2.
Arsitek kemenangan ini adalah Mehidy Hasan Miraz. Spinner berusia 28 tahun itu tampil konsisten, baik dengan bola maupun bat. Pada hari ketiga, kontribusinya 65 run membantu Bangladesh membangun keunggulan besar. Kemudian, di hari keempat, ia merobohkan pertahanan Australia dengan lima wicket hanya dengan 66 run. Dua wicket krusialnya—Alex Carey dan Beau Webster—menghancurkan asa tuan rumah untuk menyelamatkan pertandingan.
Di sisi lain, Cameron Green sempat menjadi harapan Australia. All-rounder itu mencetak 104 run, century ketiganya di kandang, di tengah kritik yang mengarah pada penampilannya. Namun, setelah ia dihabisi oleh Hasan Mahmud, perlawanan Australia luluh. Mahmud sendiri dinobatkan sebagai pemain terbaik pertandingan dengan koleksi sembilan wicket (6-55 di innings pertama dan 3-56 di innings kedua).
Komentator ABC, Jim Maxwell, menyebut kekalahan ini sebagai salah satu yang paling memalukan bagi Australia dalam sejarah Test cricket. "Mereka kalah dalam segala aspek permainan," katanya. "Bangladesh tampil sabar dan disiplin, sementara kami tidak punya jawaban." Pengakuan serupa datang dari kapten Australia, Pat Cummins, yang menegaskan bahwa persiapan timnya sudah maksimal dan tidak ada alasan untuk mencari kambing hitam.
Bagi Indonesia, kemenangan ini menjadi pengingat bahwa dalam olahraga, tidak ada yang mustahil. Meski kriket belum sepopuler sepak bola di Tanah Air, perkembangan pesat Bangladesh—yang dulu kerap dianggap sebagai tim underdog—bisa menjadi inspirasi bagi negara berkembang lainnya. Di kawasan Asia Tenggara, kriket mulai mendapat perhatian, dan prestasi Bangladesh menunjukkan bahwa investasi jangka panjang pada pembinaan atlet muda dapat mengubah peta kekuatan global.
Pertanyaan besarnya kini: mampukah Bangladesh mempertahankan performa ini di pertandingan kedua? Atau akankah Australia bangkit dan membalas kekalahan memalukan ini? Satu hal yang pasti, laga kedua pada 22 Agustus nanti akan menjadi ajang pembuktian bagi kedua tim, sekaligus menentukan arah persaingan di kancah kriket internasional.



