Kiropraktik: Antara Janji Kesembuhan dan Fakta Ilmiah yang Perlu Anda Tahu
Baca dalam 60 detik
- Manipulasi tulang belakang terbukti efektif untuk nyeri punggung bawah, namun klaim untuk penyakit lain minim dukungan ilmiah.
- Profesi kiropraktik masih dihantui praktik tidak berbasis bukti, termasuk suplemen mahal dan janji penyembuhan ajaib.
- Pasien di Indonesia perlu waspada dan memilih praktisi yang mengedepankan pendekatan ilmiah, mengingat regulasi yang masih longgar.

Manipulasi tulang belakang yang dilakukan kiropraktor memang dapat meredakan nyeri punggung bawah, tetapi di balik itu, praktik ini masih menyimpan banyak kontroversi dan klaim yang tidak didukung sains. Di Amerika Serikat, sekitar 11 persen orang dewasa mengunjungi kiropraktor pada 2022, terutama untuk manajemen nyeri. Namun, di Indonesia, profesi ini masih asing dan regulasinya pun belum seketat di negara lain.
Kiropraktik lahir dari praktik kontroversial pada akhir abad ke-19, ketika pendirinya, DD Palmer, mengklaim dapat menyembuhkan ketulian seorang petugas kebersihan dengan memanipulasi tulang leher. Sejak itu, profesi ini berkembang dan kini diakui sebagai salah satu terapi komplementer untuk nyeri punggung. Namun, sebagian praktisi masih menjanjikan hasil 'mukjizat' untuk penyakit seperti asma, diabetes, atau infeksi telinga, yang belum terbukti secara ilmiah.
Menurut Christine Goertz, profesor riset muskuloskeletal di Duke Clinical Research Institute, bukti kuat hanya mendukung efektivitas kiropraktik untuk nyeri punggung bawah. Analisis terhadap 47 uji acak terkontrol menunjukkan bahwa manipulasi tulang belakang sama efektifnya dengan akupunktur atau pijat. Risiko efek sampingnya pun rendah, dengan komplikasi serius hanya terjadi pada 1 dari 2 juta manipulasi. Karena itu, WHO dan Departemen Veteran AS merekomendasikan terapi ini sebagai lini pertama untuk nyeri punggung bawah.
Namun, untuk nyeri leher, bukti masih terbatas. Sebuah tinjauan enam studi menunjukkan perbaikan, tetapi peneliti mengingatkan perlunya riset lebih lanjut. Beberapa dokter bahkan menyarankan untuk menghindari manipulasi leher karena risiko robekan arteri yang dapat memicu stroke. Selain itu, belum ada bukti kuat untuk penggunaan kiropraktik pada anak-anak atau untuk kondisi seperti kolik dan asma.
Di Indonesia, praktik kiropraktik belum diatur secara spesifik dalam undang-undang kesehatan. Hal ini membuka celah bagi praktisi yang tidak kompeten atau yang menjual suplemen dengan klaim berlebihan. Masyarakat perlu jeli: waspadai janji penyembuhan ajaib, terutama untuk penyakit non-muskuloskeletal. Kiropraktor yang baik biasanya tidak memaksa pasien untuk berlangganan paket kunjungan atau membeli produk mahal yang tidak jelas manfaatnya.
Timothy Caulfield, peneliti misinformasi kesehatan dari University of Alberta, mengingatkan bahwa bahaya kiropraktik tidak hanya fisik, tetapi juga sosial. Sebagian kiropraktor diketahui menyebarkan sentimen anti-vaksin, yang dapat memperkuat ketidakpercayaan pada institusi medis. Ini menjadi perhatian serius, terutama di masa pandemi ketika vaksinasi sangat penting.
Profesi kiropraktik memang beragam, seperti diakui William Lauretti, profesor terapi kiropraktik terpadu di Northeast College of Health Sciences. Ada yang berpegang pada bukti ilmiah, ada pula yang menyimpang. Karena itu, sebelum memutuskan menjalani terapi ini, pastikan Anda memilih praktisi yang transparan tentang metode dan tidak menjanjikan hal-hal yang tidak masuk akal.
Ke depan, perlu ada regulasi yang lebih jelas di Indonesia untuk melindungi masyarakat dari praktik kiropraktik yang tidak bertanggung jawab. Apakah Anda akan mempertimbangkan kiropraktik sebagai alternatif pengobatan nyeri, atau justru semakin skeptis setelah membaca fakta ini?



