Pickleball Mulai Menggema di Jepang: Target Masuk Olimpiade 2032
Baca dalam 60 detik
- Jumlah pemain pickleball di Jepang melonjak lebih dari tujuh kali lipat dalam setahun terakhir, mencapai sekitar 330.000 orang.
- Federasi Pickleball Jepang resmi bergabung dengan Japan Sport Association, memperkuat dorongan agar olahraga ini dipertandingkan di Olimpiade Brisbane 2032.
- Keterbatasan lapangan menjadi tantangan utama, sementara Indonesia berpotensi mengikuti jejak Jepang dalam mengadopsi olahraga yang sedang naik daun ini.

Tokyo, 16 Agustus 2026 โ Pickleball, olahraga raket yang lahir di Amerika Serikat, kini mulai menemukan panggungnya di Jepang. Dalam setahun terakhir, jumlah pemainnya melonjak lebih dari tujuh kali lipat, dan gelaran turnamen internasional pertamanya di Tokyo pada Juli lalu menjadi momentum kebangkitan olahraga yang tengah diusulkan masuk Olimpiade 2032.
Fenomena ini bukan sekadar tren sesaat. Data dari media khusus pickleball di Jepang mencatat sekitar 330.000 orang kini aktif bermain, meski masih jauh di bawah 24,3 juta pemain di AS. Pertumbuhan ini sejalan dengan upaya global untuk memasukkan pickleball ke dalam daftar cabang olahraga Olimpiade Brisbane 2032, yang mendorong terbentuknya federasi-federasi nasional yang lebih solid.
Pada April lalu, dua asosiasi pickleball Jepang melebur menjadi Pickleball Japan Federation (PJF), sebuah langkah yang dinilai penting untuk menyatukan aturan, filosofi, dan format turnamen. Dua bulan kemudian, PJF resmi diterima sebagai anggota Japan Sport Association, membuka jalan bagi pengakuan resmi dan dukungan pemerintah. "Penggabungan ini menyatukan aturan, filosofi, dan format turnamen, yang akan menciptakan hubungan dengan pemerintah kota dan sekolah," ujar Rika Riordan, ketua PJF.
Turnamen perdana Professional Pickleball Association (PPA) Tour Asia yang digelar di Tachikawa, Tokyo barat, pada awal Juli menjadi bukti animo yang besar. Sekitar 100 pemain profesional dan 300 pemain amatir dari AS dan Asia ambil bagian, dan pertandingan final disaksikan langsung oleh Putri Hisako, janda Pangeran Takamado. Yuta Funemizu, yang keluar sebagai juara ganda putra, optimistis: "Saya pikir kita bisa menciptakan gelombang di Jepang jika kita bisa menunjukkan betapa menyenangkannya olahraga ini."
Di balik euforia, tantangan infrastruktur masih membayangi. Riordan mengakui bahwa lapangan pickleball belum memadai. "Olahraga ini menyebar dengan cepat, jadi kita harus mengejar ketertinggalan untuk menyediakan lebih banyak ruang bagi mereka yang penasaran," katanya. Jepang, yang dikenal padat dan terbatas lahan, harus berpikir kreatif, misalnya dengan memanfaatkan lapangan tenis atau bulu tangkis yang ada.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memberi sinyal menarik. Pickleball sebenarnya sudah mulai dikenal di tanah air, meski masih dalam skala kecil. Dengan gaya hidup aktif yang berkembang dan populasi muda yang besar, Indonesia memiliki potensi untuk mengadopsi olahraga ini. Namun, seperti Jepang, ketersediaan lapangan dan sosialisasi menjadi pekerjaan rumah. Jika Jepang bisa melipatgandakan pemainnya dalam setahun, bukan tidak mungkin Indonesia bisa melakukan hal serupa dengan dukungan federasi yang kuat dan promosi yang gencar.
Ke depannya, pertanyaan besarnya adalah: akankah pickleball benar-benar masuk Olimpiade 2032? Jika ya, Jepang akan menjadi salah satu pasar terbesar di Asia, dan Indonesia bisa belajar dari pengalaman mereka. Namun, tanpa infrastruktur yang memadai, gelombang antusiasme bisa meredam. Apakah Indonesia siap menangkap peluang ini sebelum Olimpiade Brisbane tiba?



