Maroko Kian Perkasa: 34 Laga Tak Terkalahkan, Kini Jadi Ancaman Serius di Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Maroko menumbangkan Kanada 3-0 di babak 16 besar, memperpanjang rekor tak terkalahkan menjadi 34 laga di semua ajang.
- Kunci sukses Maroko terletak pada investasi jangka panjang Kerajaan Mohammed VI, termasuk akademi dan pusat latihan senilai 65 juta dolar AS.
- Dengan pencapaian ini, Maroko menjadi kandidat kuat juara Piala Dunia 2026, sekaligus membuka peluang bagi sepak bola Afrika dan Asia untuk bermimpi lebih besar.

Maroko kembali menorehkan tinta emas di Piala Dunia 2026. Setelah mengalahkan tuan rumah bersama Kanada dengan skor 3-0 di babak 16 besar, tim asuhan Mohamed Ouahbi kini mengukuhkan diri sebagai salah satu kandidat terkuat perebut gelar. Kemenangan di Houston, Texas, itu sekaligus memperpanjang rekor tak terkalahkan Maroko menjadi 34 pertandingan di semua kompetisi—sebuah pencapaian yang sulit ditandingi oleh tim Afrika mana pun sepanjang sejarah.
Meski tidak tampil dominan—hanya melepaskan lima tembakan ke gawang, jumlah terendah bagi tim pemenang di babak gugur Piala Dunia—Maroko menunjukkan mentalitas juara sejati. Babak pertama bahkan menjadi yang pertama dalam sejarah Piala Dunia dengan jumlah kartu kuning lebih banyak dari tembakan. Namun, seperti dikatakan pelatih Kanada Jesse Marsch, "Mereka sedikit tertekan, tapi tidak patah."
Kunci permainan Maroko ada pada solidnya pertahanan dan efektivitas serangan balik. Kapten Achraf Hakimi, yang dianggap sebagai bek kanan terbaik dunia, menjadi momok bagi lini belakang Kanada. Sementara itu, gelandang kreatif Brahim Diaz mencatatkan dua assist, menjadikannya pemain Afrika dengan assist terbanyak di Piala Dunia (4).
Keberhasilan Maroko bukanlah kebetulan. Di balik layar, ada dukungan penuh dari Raja Mohammed VI yang telah menggelontorkan dana besar untuk pembangunan akademi dan pusat pelatihan. "Semua yang terjadi sekarang berkat Raja Mohammed VI," ujar Ouahbi dalam konferensi pers usai pertandingan. Investasi ini memungkinkan Maroko merekrut pemain diaspora seperti Hakimi dan Diaz yang lahir di Spanyol, sekaligus membangun budaya sepak bola yang kompetitif.
Bagi Indonesia, pencapaian Maroko menjadi cermin bahwa investasi jangka panjang pada pembinaan usia muda dan infrastruktur adalah kunci. Dengan populasi muslim terbesar di dunia dan antusiasme tinggi terhadap sepak bola, Indonesia bisa belajar dari model Maroko yang berhasil mengubah krisis (20 tahun tanpa lolos Piala Dunia) menjadi kejayaan berkelanjutan. Apalagi, Indonesia sendiri tengah gencar membangun akademi dan fasilitas olahraga—meski masih jauh dari skala investasi Maroko.
Namun, perjalanan Maroko belum selesai. Mereka akan menghadapi lawan berat di perempat final, kemungkinan besar Prancis. Pengamat BBC, Chris Sutton, mengingatkan bahwa performa lamban di babak pertama bisa menjadi bumerang. "Jika mereka bermain seperti itu melawan Prancis, mereka akan hancur," katanya. Meski demikian, Maroko memiliki modal kepercayaan diri yang berbeda dibandingkan empat tahun lalu. "Kami bukan lagi kejutan. Orang-orang kini melihat kami sebagai pesaing sejati," tegas Ouahbi.
Satu pertanyaan mengemuka: akankah Maroko menjadi negara Afrika pertama yang mengangkat trofi Piala Dunia? Atau justru langkah mereka terhenti di tangan Prancis? Jawabannya akan diketahui di Boston, 9 Juli mendatang.



