Lagu 'Lalaki Langit' Tuai Protes, Bupati Purwakarta Minta Maaf dan Buka Narasi Pribadi
Baca dalam 60 detik
- Bupati Purwakarta Om Zein angkat bicara terkait lagu Sunda 'Lalaki Langit' yang dianggap merendahkan perempuan dan viral di media sosial.
- Om Zein menegaskan lagu itu merupakan refleksi pribadi yang ditulis pada 2020, bukan untuk menyerang kelompok tertentu, meski ia meminta maaf atas kegaduhan yang timbul.
- Kontroversi ini menyoroti sensitivitas publik terhadap konten bermuatan stereotip gender, terutama ketika melibatkan pejabat publik sebagai pencipta.

Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein, yang akrab disapa Om Zein, akhirnya buka suara setelah lagu berbahasa Sunda berjudul 'Lalaki Langit, Lalanang Bejat' menuai gelombang kritik dari warganet. Lagu yang viral di media sosial itu dinilai mengandung diksi yang merendahkan perempuan dan memicu perdebatan sengit di ruang publik.
Polemik bermula ketika lirik lagu tersebut tersebar luas dan dianggap sebagian masyarakat sarat dengan stereotip gender yang tidak sensitif. Beberapa baris lirik, seperti yang menyebutkan 'SMP kelas tiga sudah keguguran tujuh kali' dan 'tidak usah membeli bra, yang busanya lebih besar daripada payudara', dinilai melecehkan dan menyudutkan kaum perempuan. Kritik tajam pun mengalir deras, menuntut klarifikasi dari sang pencipta yang juga seorang pejabat publik.
Dalam keterangan tertulis yang diterima pada Kamis (2/7), Om Zein membantah keras tuduhan bahwa lagu tersebut sengaja diciptakan untuk menyinggung atau merendahkan kelompok tertentu, khususnya perempuan. Ia menjelaskan bahwa puisi dan lagu itu sebenarnya telah ditulis sejak tahun 2020, jauh sebelum ia menjabat sebagai bupati. "Itu puisi dan lagu diciptakan tahun 2020, bercerita tentang diri saya sendiri. Berawal dari renungan atas perilaku saya sendiri yang menurut saya saat itu saya nakal," ujarnya.
Om Zein memandang karya ini sebagai medium kontemplasi spiritual dan emosional atas perjalanan hidupnya. Ia mengaku bersyukur diciptakan sebagai laki-laki, namun lirik yang muncul justru menggambarkan kekhawatiran jika ia terlahir sebagai perempuan. "Saya bersyukur Tuhan menciptakan saya jadi lelaki. Mungkin jika saya diciptakan jadi perempuan, terjadi apa yang saya pikirkan karena saya belum bisa menjaga diri," tambahnya. Meski demikian, ia menyadari bahwa interpretasi publik bisa berbeda dan sebagai pejabat publik, ia menyampaikan permohonan maaf atas kegaduhan yang timbul.
Kontroversi ini menyoroti betapa sensitifnya isu gender di Indonesia, terutama ketika melibatkan figur publik. Lagu yang awalnya dimaksudkan sebagai refleksi pribadi justru memicu perdebatan tentang batas antara ekspresi seni dan tanggung jawab sosial. Pengamat media sosial menilai bahwa reaksi publik menunjukkan meningkatnya kesadaran akan representasi perempuan dalam karya seni. Namun, sebagian pihak juga mengingatkan agar tidak langsung menghakimi tanpa memahami konteks penciptaan.
Om Zein berharap masyarakat dapat melihat karyanya dari sudut pandang yang lebih utuh dan bijak. "Saya mohon maaf jika ada pihak yang merasa tidak nyaman dengan lirik lagu itu. Namun tidak bermaksud menyinggung pihak tertentu. Itu murni cerita tentang diri saya sendiri," ucap dia. Ia menegaskan bahwa lagu tersebut bukanlah sindiran, melainkan pengingat bagi dirinya sendiri untuk terus berbenah menjadi pribadi yang lebih baik.
Ke depan, kasus ini menjadi pengingat bagi para pejabat publik yang juga berkarya di ranah seni untuk lebih cermat dalam mempertimbangkan dampak sosial dari karya mereka. Pertanyaan yang mengemuka: sejauh mana kebebasan berekspresi dapat dipertahankan ketika bersinggungan dengan sensitivitas publik, terutama di era media sosial yang reaktif?



