Tinggalkan Gaji Rp1,5 Miliar demi Bisnis Ayam Panggang, Perempuan Ini Temukan Utang Rp5 Miliar
Baca dalam 60 detik
- Joey Low, 29 tahun, meninggalkan karier cemerlang di bursa kripto untuk menyelamatkan bisnis keluarga Hup Cheong Roasted Food yang terjerat utang lebih dari S$500.000.
- Ia menerapkan sistem pembayaran ketat, meluncurkan merek online Charrou, dan mengembangkan makanan siap saji untuk memperbaiki arus kas dan memperluas pasar anak muda.
- Langkah Joey berhasil memulihkan S$50.000 utang dan mendorong pendapatan enam digit dalam setahun, meski tantangan kebiasaan lama dan hubungan personal masih membayangi.

Seorang perempuan berusia 29 tahun di Singapura rela meninggalkan jabatan bergaji enam digit di bursa kripto demi menyelamatkan bisnis keluarga yang hampir kolaps—dan baru setelah itu ia mengetahui bahwa perusahaan ayahnya terbenam utang lebih dari setengah juta dolar Singapura. Joey Low, manajer produk yang sebelumnya bekerja di OKX, memutuskan bergabung penuh waktu ke Hup Cheong Roasted Food pada 2024 setelah melihat sang ayah, Tommy Low, kewalahan mengelola keuangan dan operasional sendirian.
Yang ditemukan Joey jauh lebih parah dari perkiraan. Hup Cheong, yang dirintis kakek, ayah, dan pamannya sejak 1985 sebagai lapak pasar, ternyata memiliki piutang macet mencapai S$500.000. Seorang pelanggan bisnis mi wantan saja menunggak hampir S$260.000, sementara satu perusahaan restoran lain menyumbang sekitar 60 persen total utang. “Saya kaget. Saya kira hanya sekitar S$200.000,” ujar Tommy, 54 tahun, dalam bahasa Mandarin.
Masalah utang ini hanya puncak gunung es. Penjualan lapak pasar Hup Cheong merosot lebih dari 50 persen sejak pandemi, sementara biaya operasional dan tenaga kerja terus naik. Kontrak sewa pabrik perusahaan juga akan berakhir tahun depan, dan perpanjangan hanya mungkin jika arus kas membaik. “Menutup bisnis bukan pilihan. Kami benar-benar ingin melanjutkan warisan ini,” tegas Joey.
Salah satu langkah pertama Joey adalah merapikan sistem keuangan. Ia membuat laporan mingguan untuk memantau pembayaran pelanggan dan mulai menagih jika telat satu atau dua hari. Ia juga memperketat syarat pembayaran, memperpendek jangka waktu kredit, dan membatasi jumlah utang yang boleh dimiliki pelanggan. Awalnya Tommy ragu, terutama karena banyak debitur adalah kenalan lama. “Saya agak malu kalau harus menagih teman,” akunya. Namun Joey bersikeras: tanpa perubahan, utang akan terus membengkak.
Untuk menambah pemasukan, Joey meluncurkan merek online bernama Charrou pada 2023. Berbeda dengan Hup Cheong yang melayani pembayaran tempo, Charrou menerapkan sistem bayar di muka. “Arus kas jadi lebih sehat untuk mendukung Hup Cheong,” jelasnya. Menu Charrou menyasar anak muda dengan inovasi seperti kue ulang tahun daging panggang dan char siu pipi babi. Dalam setahun, Charrou mencatat pendapatan enam digit dan membantu memperbaiki likuiditas perusahaan induk.
Keberhasilan ini mendorong pengembangan produk makanan siap saji. Setelah riset selama tiga bulan, Joey mengirimkan sampel ke sepuluh influencer Singapura. Respons positif membuat produk tersebut resmi dijual di situs Charrou. “Kami melihat tren anak muda membeli makanan siap saji untuk stok di rumah,” ujarnya.
Bagi Tommy, keputusan putrinya untuk kembali ke bisnis keluarga adalah campuran rasa bersalah dan bangga. “Saya merasa bersalah, tapi juga bangga. Dia sudah menunjukkan hasil. Ini terobosan,” katanya. Joey sendiri mengaku baru pertama kali mendengar ayahnya menyatakan kebanggaan atas pencapaian bisnisnya. “Daddy, kita terus berjuang supaya Bapak bisa pensiun lebih cepat,” ucapnya.
Kisah Joey Low menjadi contoh bagaimana generasi muda bisa menyelamatkan usaha keluarga dengan menggabungkan disiplin finansial modern dan inovasi produk, tanpa melupakan nilai tradisi. Pertanyaan kini: bisakah model serupa diterapkan di Indonesia, di mana banyak bisnis keluarga juga bergulat dengan utang dan perubahan selera konsumen?



