XRP Melonjak 3% Usai Ripple Umumkan Protokol Pinjaman XRPL: Target Harga Naik ke $1,20
Baca dalam 60 detik
- Ripple mengungkapkan rencana protokol pinjaman untuk XRP Ledger yang memungkinkan bank meminjam aset digital tanpa menjual kepemilikan mereka.
- Lonjakan volume perdagangan XRP hingga 18% mendorong harga mendekati $1,07, didukung sentimen positif pasar kripto secara keseluruhan.
- Analis memproyeksikan XRP bisa mencapai $1,20 dalam pekan ini, ditopang oleh lisensi CASP di Eropa dan ekspansi pembayaran blockchain di Asia.

Harga XRP melesat nyaris 3 persen dalam 24 jam terakhir, mendekati level $1,07 pada perdagangan Rabu, setelah Ripple mengumumkan rencana peluncuran protokol pinjaman untuk XRP Ledger (XRPL). Langkah ini disambut positif oleh investor karena membuka peluang baru bagi lembaga keuangan untuk meminjam aset digital tanpa harus menjual kepemilikan mereka, sehingga mengurangi tekanan jual di pasar.
Dalam proposal yang dipublikasikan secara resmi, Ripple menyebut protokol pinjaman XRPL dirancang untuk mengisi celah yang selama ini terabaikan dalam ekosistem keuangan berbasis blockchain. Meskipun tokenisasi telah memudahkan penerbitan dan transfer aset digital, Ripple menilai infrastruktur pinjaman, manajemen agunan, dan kredit belum berkembang secepat itu.
Protokol ini akan mendukung pasar pinjaman untuk berbagai aset dunia nyata yang telah di-tokenisasi, termasuk Treasury AS, reksa dana pasar uang, stablecoin, komoditas, dan kredit swasta. Yang menarik, Ripple memilih pendekatan hibrida: negosiasi persyaratan pinjaman dan pemeriksaan kepatuhan tetap dilakukan di luar rantai (off-chain) oleh pemberi pinjaman dan peminjam, sementara eksekusi transaksi dan otomatisasi operasional—seperti perhitungan bunga, jadwal pembayaran, hingga pengelolaan gagal bayar—diserahkan ke XRP Ledger.
Ripple menegaskan bahwa struktur ini sengaja dirancang agar proses underwriting dan kepatuhan regulasi tetap berada di bawah kendali lembaga keuangan, sementara blockchain digunakan untuk eksekusi yang terstandarisasi. Pendekatan ini, menurut Ripple, meniru model pasar keuangan tradisional yang memisahkan keputusan kredit dari infrastruktur penyelesaian. Dua komponen utama diperkenalkan: Single Asset Vault yang mengumpulkan satu token untuk pinjaman, dan Lending Protocol khusus yang menangani originasi, servis, dan pembayaran pinjaman.
Sentimen positif juga didorong oleh perolehan lisensi CASP (Crypto Asset Service Provider) Ripple di Uni Eropa, yang menjadikan XRP sebagai salah satu aset kripto terdepan dalam sistem pembayaran dan infrastruktur lintas batas di kawasan tersebut. Lisensi ini menjadi pijakan penting bagi ekspansi operasional Ripple di Eropa. Di Asia, Ripple telah memelopori inovasi pembayaran berbasis blockchain melalui proyek-proyek di Thailand dan peluncuran stablecoin RLUSD di Jepang, yang memperkuat pertumbuhan regional.
Bagi pasar Indonesia, perkembangan ini membawa implikasi strategis. Dengan makin banyaknya bank dan lembaga keuangan global yang mengadopsi infrastruktur pinjaman berbasis XRPL, potensi adopsi teknologi serupa di Indonesia—yang tengah gencar mendorong digitalisasi sektor keuangan—semakin terbuka. Regulator seperti OJK dan Bank Indonesia dapat menjadikan model Ripple sebagai referensi dalam merancang kerangka uji coba aset digital untuk perbankan, terutama dalam skema pinjaman berbasis agunan digital.
Analis kripto memperkirakan XRP berpotensi menembus $1,20 dalam pekan ini, didukung oleh momentum positif dari protokol pinjaman dan ekspansi lisensi. Namun, volatilitas pasar tetap menjadi faktor yang perlu dicermati, terutama jika terjadi perubahan sikap regulator di negara-negara utama.



