Analis Buka Suara soal Prospek ANTM: Target Harga Saham Capai Rp4.800
Baca dalam 60 detik
- PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) membukukan laba bersih Rp3,66 triliun pada kuartal I-2026, naik 58% year-on-year, didorong diversifikasi emas dan nikel.
- Dua analis dari Korea Investment dan Kiwoom Sekuritas merekomendasikan akumulasi saham ANTM dengan target harga jangka panjang Rp4.800, mengingat fundamental kuat dan prospek penjualan emas.
- Penurunan harga emas ritel justru meningkatkan volume permintaan masyarakat, namun kontribusi segmen ritel terhadap pendapatan total masih terbatas dibandingkan grosir dan nikel.

Saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) masih menjadi primadona di mata analis meskipun harga emas dunia sempat merosot dari puncaknya. Diversifikasi bisnis yang tidak hanya bergantung pada emas, melainkan juga nikel, bauksit, dan alumina, dinilai menjadi tameng alami bagi emiten tambang pelat merah ini. Pada perdagangan Jumat (3/7/2026), harga saham ANTM melesat 6,16% ke Rp2.930, mencerminkan optimisme pasar terhadap kinerja perseroan.
Kepala Riset Korea Investment dan Sekuritas Indonesia, Muhammad Wafi, menilai ANTM masih prospektif berkat strategi diversifikasi yang menciptakan natural hedge. Menurutnya, harga emas saat ini masih tinggi secara historis dengan margin tebal, sementara prospek hilirisasi nikel dalam jangka panjang tetap cerah. "Antam tidak hanya mengandalkan satu komoditas, sehingga lebih tahan terhadap fluktuasi harga," ujarnya.
Kinerja keuangan ANTM pada kuartal I-2026 mengonfirmasi ketahanan tersebut. Laba bersih perseroan mencapai Rp3,66 triliun, melonjak 58% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pendapatan pun tumbuh 22% menjadi Rp84,64 triliun sepanjang 2025, ditopang penjualan emas yang naik 15% menjadi Rp66,47 triliun.
Fenomena penurunan harga emas ritel Antam belakangan ini justru menjadi berkah tersendiri. Masyarakat berbondong-bondong membeli emas batangan dan memanfaatkan program cicil, sehingga volume penjualan segmen Logam Mulia meningkat. Namun, Wafi mengingatkan bahwa kontribusi segmen ritel terhadap total pendapatan masih lebih kecil dibandingkan penjualan grosir dan nikel. "Dampaknya positif terhadap volume dan visibilitas merek, tapi belum tentu proporsional terhadap laba bersih," katanya.
Senada dengan Wafi, Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas, Adrian Djie, juga optimistis terhadap prospek ANTM. Ia menekankan bahwa fundamental perusahaan sangat kuat, didukung oleh target manajemen untuk mendorong penjualan emas melampaui rekor tahun 2024. Adrian merekomendasikan buy dengan target harga jangka panjang Rp4.800, memberikan potensi kenaikan lebih dari 60% dari level saat ini.
Bagi investor Indonesia, saham ANTM menawarkan eksposur terhadap dua komoditas utama yang menjadi andalan pemerintah: emas sebagai aset safe haven dan nikel sebagai bahan baku baterai kendaraan listrik. Dengan kebijakan hilirisasi yang terus digencarkan, prospek jangka panjang ANTM dinilai masih menarik. Namun, investor tetap perlu mencermati risiko fluktuasi harga komoditas dan dampaknya terhadap margin segmen ritel.
Pertanyaan selanjutnya adalah apakah ANTM mampu mempertahankan momentum pertumbuhan di tengah ketidakpastian harga emas global dan persaingan industri nikel yang semakin ketat? Jawabannya akan terlihat pada laporan keuangan kuartal II-2026 yang akan dirilis dalam beberapa pekan mendatang.



