Harga Emas Global Kembali Menguat, Antam Diproyeksi Raup Cuan Besar di 2026
Baca dalam 60 detik
- Harga emas dunia kembali ke atas US$4.100 per ons, didorong ketegangan geopolitik dan permintaan safe haven.
- Antam (ANTM) diuntungkan dengan kontribusi emas 81% terhadap pendapatan, laba bersih kuartal I-2026 melonjak 58%.
- Risiko kebijakan royalti dan windfall tax masih membayangi, namun prospek dividen dan ekspansi smelter alumina tetap positif.

Harga emas global yang sempat terperosok di bawah US$4.000 per ons kembali menunjukkan tajinya, menembus level US$4.164 pada Jumat (3/7/2026) siang. Penguatan ini menjadi angin segar bagi emiten tambang emas nasional, terutama PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), yang hampir 81% pendapatannya berasal dari penjualan logam mulia.
Senior Analis Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai tren positif harga emas masih akan berlanjut seiring eskalasi konflik di Timur Tengah yang mendorong investor beralih ke aset aman. "Katalis positif bagi Antam tidak hanya dari harga emas, tetapi juga mulai beroperasinya pabrik Smelter Grade Alumina (SGA) yang memperkuat segmen bauksit dan alumina, serta kelancaran kuota produksi dan pemulihan rantai pasok emas domestik," jelas Nafan kepada LyndHub, Kamis (2/7/2026).
Namun, Nafan juga mengingatkan adanya risiko kebijakan domestik. "Wacana penyesuaian tarif royalti dan windfall tax untuk sektor pertambangan bisa menggerus margin keuntungan jika benar-benar diterapkan," ujarnya. Meski demikian, fundamental Antam dinilai masih solid. Pada kuartal I-2026, perusahaan membukukan laba bersih Rp3,66 triliun, melonjak 58% secara tahunan, didorong volume penjualan emas ritel yang stabil di atas target manajemen sebesar 43-45 ton untuk tahun ini.
Kinerja positif itu juga tercermin dari harga saham ANTM yang naik 6,16% ke Rp2.930 pada sesi I perdagangan hari ini. Harga emas batangan Antam di butik LM Graha Dipta Pulo Gadung juga naik Rp11.000 menjadi Rp2.651.000 per gram, sementara harga buyback melonjak Rp55.000 ke Rp2.400.000 per gram. Kenaikan dua hari berturut-turut ini menambah optimisme investor.
Dari sisi dividen, Antam dikenal konsisten dengan dividend payout ratio (DPR) historis 70-100%. "Kemampuan mencetak arus kas yang kuat dari emas dan nikel memberikan kepastian bagi pemegang saham bahwa DPR tinggi masih berkelanjutan," tambah Nafan. Ia merekomendasikan akumulasi beli dengan target harga Rp3.430.
Bagi investor Indonesia, prospek Antam di tengah ketidakpastian global menjadi pilihan menarik. Namun, perlu dicermati apakah pemerintah benar-benar akan memberlakukan pajak tambahan yang bisa menekan margin. Jika harga emas tetap bertahan di atas US$4.000, bukan tidak mungkin Antam mencetak rekor laba baru tahun ini.



