Gubernur The Fed Targetkan Data Ekonomi Real-Time dalam Setahun: Revolusi atau Risiko?
Baca dalam 60 detik
- Kevin Warsh berambisi mengganti data pemerintah yang dianggap usang dengan teknologi real-time dalam 9-12 bulan ke depan.
- Langkah ini dipicu kritik bahwa data lamban menyebabkan kesalahan kebijakan moneter dan inflasi di atas target selama lima tahun.
- Jika berhasil, perubahan ini bisa memengaruhi pasar global, termasuk Indonesia yang bergantung pada stabilitas ekonomi AS.

Gubernur Federal Reserve, Kevin Warsh, menargetkan transformasi besar dalam pengumpulan data ekonomi AS dalam waktu kurang dari setahun. Dalam forum kebijakan moneter di Portugal, Rabu (1/7), ia menyatakan ambisinya untuk beralih dari data pemerintah yang dinilai bermasalah menuju informasi real-time berbasis teknologi.
"Aspirasi saya, sembilan hingga dua belas bulan dari sekarang, kami akan menggunakan teknologi baru untuk memahami apa yang terjadi di ekonomi riil secara kontemporer dan real-time," ujar Warsh. Ia menambahkan bahwa data dari lembaga pemerintah seringkali memiliki masalah pengukuran dan survei yang sudah tidak relevan.
Langkah ini merupakan respons terhadap kritik Warsh sendiri bahwa The Fed terlalu bergantung pada data resmi yang tertinggal atau tidak akurat. Menurutnya, kesalahan data telah menyebabkan inflasi bertahan di atas target selama lebih dari lima tahun. Namun, rekan-rekannya di The Fed berpendapat bahwa mereka sudah mengantisipasi kelemahan data dengan melihat tren jangka panjang dan menggunakan Buku Beige sebagai indikator real-time.
Warsh mengumumkan bahwa pekan depan ia akan mulai menunjuk anggota lima gugus tugas baru, termasuk satu yang khusus mencari metode pengumpulan data alternatif. Langkah ini bertepatan dengan perubahan di Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) yang akan dipimpin Brett Matsumoto, pengganti pejabat sebelumnya yang dipecat Presiden Donald Trump karena dianggap menghasilkan data palsu. Matsumoto berjanji meningkatkan kualitas survei, meskipun ekonom menilai masalah utama adalah tingkat respons awal yang semakin rendah.
Di sisi lain, Biro Analisis Ekonomi AS baru-baru ini mengumumkan perubahan cara menghasilkan data inflasi yang diperkirakan akan merevisi angka ke bawah pada September mendatang. Warsh mengatakan gugus tugasnya tidak hanya akan mencari cara memperbaiki data resmi, tetapi juga menghasilkan informasi yang lebih mutakhir tentang ekonomi.
Konteks Indonesia: Bagi Indonesia, perubahan kebijakan data The Fed memiliki implikasi signifikan. Sebagai negara dengan ketergantungan tinggi pada arus modal asing dan ekspor ke AS, akurasi data ekonomi Amerika memengaruhi keputusan investor global. Jika The Fed berhasil mengadopsi data real-time, kebijakan moneternya bisa menjadi lebih responsif dan berpotensi mengurangi volatilitas pasar keuangan yang kerap memengaruhi nilai tukar rupiah dan indeks saham domestik. Namun, transisi ini juga membawa risiko ketidakpastian selama masa adaptasi.
"Data favorit saya sudah ada di depan kita. Jika kami melakukan tugas dengan baik, setahun dari sekarang kami akan mengatakan bahwa kami telah menemukan data yang membantu pengambilan keputusan yang lebih baik," kata Warsh dalam forum tersebut.
Pertanyaan besarnya, apakah teknologi real-time benar-benar mampu menggantikan data pemerintah yang telah menjadi andalan selama puluhan tahun? Atau justru akan menimbulkan bias baru? Yang jelas, langkah Warsh menandai perubahan radikal dalam cara bank sentral terkuat di dunia membaca ekonomiโdan dunia akan mengamati dengan saksama.



