Ditagih Pajak Rp144 Triliun, Bos Nvidia Jensen Huang Tenang: Saya Tak Peduli
Baca dalam 60 detik
- California mengusulkan pajak kekayaan 5% satu kali bagi miliarder dengan aset di atas US$1,1 miliar, berpotensi menyedot dana hingga US$100 miliar.
- CEO Nvidia Jensen Huang, yang kekayaannya mencapai US$155 miliar, menyatakan tidak keberatan membayar US$7,75 miliar dan menegaskan komitmennya tinggal di Silicon Valley.
- Sikap Huang kontras dengan miliarder lain seperti Larry Page dan Peter Thiel yang dikabarkan akan hengkang; kebijakan ini juga menjadi sinyal bagi investor Indonesia tentang risiko pajak kekayaan di negara maju.

CEO Nvidia Jensen Huang merespons dingin rencana pengenaan pajak kekayaan satu kali sebesar 5% bagi miliarder di California, Amerika Serikat, yang akan membebani kantongnya hingga US$7,75 miliar (sekitar Rp144 triliun). Dalam wawancara dengan Bloomberg TV, Huang mengaku tidak pernah memikirkan potensi kewajiban itu dan siap membayar berapa pun pajak yang ditetapkan.
Usulan pajak yang diajukan serikat pekerja sektor kesehatan pada November 2025 itu menyasar individu dengan kekayaan di atas US$1,1 miliar. Diperkirakan sekitar 200 orang terkaya di California akan terkena dampak, dengan potensi penerimaan negara mencapai US$100 miliar. Dana tersebut rencananya digunakan untuk menutup defisit anggaran kesehatan, mendanai pendidikan publik, dan program bantuan pangan.
Huang, yang kini duduk sebagai orang terkaya kesembilan dunia dengan total kekayaan US$155 miliar—sebagian besar dari 3% saham Nvidia—menegaskan bahwa dirinya memilih tinggal di Silicon Valley dan tidak mempermasalahkan pajak berapa pun. "Saya bahkan tidak pernah memikirkannya," ujarnya. Sikapnya ini kontras dengan sejumlah miliarder teknologi lain yang justru mempertimbangkan hengkang dari California.
Pendiri Anduril Industries, Palmer Luckey, dan salah satu pendiri Sun Microsystems, Vinod Khosla, menilai pajak ini akan memaksa para pendiri perusahaan menjual saham atau mencari dana tunai besar-besaran. Sementara itu, laporan The New York Times menyebut Larry Page (Google) dan Peter Thiel (Founders Fund) tengah mempertimbangkan pindah sebelum akhir 2025 untuk menghindari pajak. Namun, keduanya belum mengonfirmasi secara terbuka.
Bagi investor dan pelaku bisnis di Indonesia, kebijakan ini menjadi pengingat bahwa risiko pajak kekayaan bisa muncul di negara maju mana pun. Meskipun Indonesia belum menerapkan pajak serupa, wacana tersebut kerap mencuat dalam diskusi kebijakan fiskal. Respons Huang yang tenang justru menunjukkan bahwa bagi perusahaan dengan fundamental kuat seperti Nvidia, beban pajak satu kali bukanlah ancaman eksistensial. Sebaliknya, bagi startup atau perusahaan yang asetnya terkonsentrasi pada saham pendiri, kebijakan serupa bisa memicu tekanan likuiditas.
Usulan pajak ini masih harus melewati proses panjang: mengumpulkan 870.000 tanda tangan untuk masuk ke surat suara November 2026. Jika disetujui, pajak akan dikenakan atas seluruh aset ekonomis—kecuali properti—dan bisa dicicil hingga lima tahun. Pertanyaan kuncinya: apakah para miliarder akan tetap tinggal dan membayar, atau justru memilih eksodus massal yang bisa menggerus basis pajak California?



