Kebiasaan Tidur dan Genetik: Kunci Baru Deteksi Dini Alzheimer
Baca dalam 60 detik
- Peneliti Australia menemukan interaksi antara kebiasaan tidur dan varian gen AQP4 dapat mempercepat perubahan otak terkait Alzheimer.
- Individu dengan varian gen tertentu mengalami penyusutan materi abu-abu lebih cepat jika tidur pendek, sementara yang sulit tidur menunjukkan penurunan volume otak.
- Studi ini membuka peluang pencegahan Alzheimer yang dipersonalisasi dengan mengatur pola tidur, namun perlu validasi pada populasi lebih luas termasuk Indonesia.

Kebiasaan tidur yang buruk bukan sekadar menyebabkan kelelahan, tetapi juga bisa menjadi pemicu awal perubahan otak yang terkait dengan penyakit Alzheimer, terutama pada individu yang memiliki varian gen tertentu. Temuan ini diungkap dalam studi terbaru dari Edith Cowan University (ECU) Australia yang dipublikasikan di jurnal Alzheimer's & Dementia.
Penelitian yang dipimpin oleh Centre for Precision Health (CPH) ECU ini memfokuskan perhatian pada gen aquaporin-4 (AQP4), yang berperan penting dalam mengatur pergerakan cairan di otak. Gen ini mendukung sistem pembersihan limbah otak saat tidur, termasuk membuang protein beta-amiloid yang dikaitkan dengan Alzheimer. Dengan menganalisis 13 varian umum gen AQP4 dan menghubungkannya dengan data tidur, pencitraan otak, serta kinerja kognitif, tim peneliti menemukan pola yang mencolok.
Hasilnya, individu yang membawa varian tertentu mengalami penyusutan materi abu-abu yang lebih cepat ketika mereka melaporkan durasi tidur yang pendek. Sementara itu, partisipan yang membutuhkan waktu lebih lama untuk tertidur menunjukkan perubahan struktural otak yang berkaitan dengan penurunan volume otak. "Varian yang sama bisa terlihat protektif atau merusak tergantung pada bagaimana seseorang tidur. Ini penting karena tidur adalah salah satu faktor yang bisa dimodifikasi dan benar-benar bisa diubah oleh individu," ujar Ayeisha Milligan Armstrong, peneliti CPH sekaligus penulis studi.
Penelitian ini juga mengidentifikasi perbedaan kinerja kognitif dari waktu ke waktu pada partisipan dengan gangguan tidur, di mana hasilnya bervariasi tergantung varian AQP4 yang dimiliki. Tenielle Porter, rekan penulis dari CPH, menambahkan bahwa temuan ini mendukung pendekatan pencegahan Alzheimer yang lebih terarah dan personal. Namun, ia menekankan perlunya validasi lebih lanjut pada kelompok yang lebih besar dan beragam.
Bagi Indonesia, temuan ini memiliki implikasi penting mengingat prevalensi demensia diperkirakan meningkat seiring bertambahnya usia harapan hidup. Gaya hidup perkotaan yang serba cepat seringkali mengorbankan kualitas tidur, sementara faktor genetik pada populasi Indonesia mungkin berbeda dengan subjek penelitian di Australia. Studi ini menekankan perlunya penelitian serupa di Asia Tenggara untuk memahami interaksi gen-tidur secara lebih kontekstual.
Para peneliti menyerukan uji klinis yang mempertimbangkan informasi genetik untuk menguji apakah perubahan pola tidur dapat mengurangi risiko genetik dan mengubah hasil jangka panjang otak terkait Alzheimer. Langkah ini bisa menjadi terobosan dalam pencegahan penyakit neurodegeneratif yang hingga kini belum ada obatnya. Pertanyaan yang muncul: akankah kebiasaan tidur yang baik menjadi resep murah untuk menunda Alzheimer, atau justru sebaliknya?



